Biji Sesawi, biji bukan sembarang biji

29 Jul 2019 | Kabar Baik

Hari ini Yesus mengibaratkan iman dan kerajaan surga sebagai biji sesawi.

Biji sesawi bukan sembarang biji

Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Kenapa biji sesawi dan bukan biji lainnya yang lebih besar? Jawaban Yesus adalah karena sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya. Meski demikian, syaratnya ada satu, apabila biji sesawi itu sudah tumbuh.

Rupa-rupa iman dan hal yang diimani begitu banyak muncul di muka bumi. Tak semuanya menawarkan keburukan. Tapi seperti halnya bebijian yang banyak jenis, iman kepada Yesus, Juru Selamat kita adalah iman biji sesawi. Iman yang bertumbuh jadi pohon besar melebihi sayuran lain dimana burung-burung bersarang nyaman.

Apabila sudah tumbuh

Tapi pernyataan seperti di atas biasanya memunculkan pertanyaan klasik, ?Banyak lho yang ngakunya beriman pada Yesus tapi malah ngawur hidupnya? Tak peduli pada sesama, egois! Sementara itu banyak orang baik meski ia tak beriman pada Yesus!?

Tentu hal itu benar adanya. Aku punya banyak kenalan orang baik yang mengaku sebagai atheis alias tak bertuhan. Ya tak mengapa? Justru kita harus mensyukuri hal tersebut sebagai tanda kebesaran Tuhan yang tak pandang batas untuk menanam kebaikan di hati orang, siapapun dia.

Yang memprihatinkan justru kalau ada orang yang mengaku sudah beriman kepadaNya tapi tetap ngawur hidupnya. Orang yang begini adalah orang yang belum tumbuh biji sesawinya.

Sudah tumbuh?

Oleh karenanya yang terpenting adalah memastikan bahwa iman kita bertumbuh. Lalu apa sih parameter iman yang tumbuh itu?

Seberapa banyak orang-orang yang dalam analogi Yesus di atas, bersarang kepada kita?

Kita sering lihat dalam dunia nyata, orang yang mengaku agamis tapi malah tidak disukai banyak orang karena menghakimi. Orang yang harusnya teduh karena akrab dengan firmanNya tapi malah kerap bereaksi negatif ketika ada seorang yang tak sesuai dengan pandangan imannya datang.

?Kamu dandannya seronok! Pasti hobi berzinah ya!? begitu ketika ia terusik oleh seseorang yang berpakaian minim datang kepadanya.

Kita diajak untuk tidak menghakimi seperti itu karena Yesus pun pada saat datang ke dunia untuk pertama kalinya, Ia tidak menghukum apalagi menghakimi orang.

Tapi apakah banyaknya orang-orang yang merasa nyaman untuk datang adalah tanda seseorang telah tumbuh imannya?

Menurutku sih belum tentu juga!

Orang yang meski agamis tapi tak berani bersikap menentukan mana yang menurutnya benar dan mana yang salah juga tetap bisa diminati banyak orang. Malah karena lunaknya, pasti banyak orang berkawan akrab dengannya.

Tapi kalau dipikir-pikir, bagaimana mungkin seseorang bisa dibenarkan jika ia tak bisa menentukan mana yang benar dan salah, bukan?

Orang-orang seperti itu, menurutku adalah orang yang egois. Demi dianggap sebagai orang baik yang jadi tempat bersarangnya kawan-kawan lain lantas ia mengingkari kebenaran itu sendiri.

Tapi gimana dong? Menghakimi salah, tak menentukan benar-salah kok ya dipersalahkan?

Mari berada di tengah-tengah!

Jangan menghakimi tapi punya pandangan kuat tentang yang mana yang benar dan mana yang salah sehingga meskipun ada beberapa burung yang tak lagi mau bersarang melihat kuatnya pandangan kita, hal itu adalah resiko dari pilihan menanggung kebenaran.

Jadi, sudah seberapa tumbuh biji sesawimu? Atau jangan-jangan tak pernah menjadi pohon melainkan mengering dan hilang diterpa angin?

Sydney, 28 Juli 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.