Biasa yang tak biasa…

24 Mar 2014 | Cetusan, Indonesia

Menjadi biasa yang tidak biasa itu tak mudah, sama sekali tak pernah mudah.

Seorang klien, awal 2000an dulu menolak dua desainku mentah-mentah karena menurutnya, desainku terlalu kompleks, tak sesuai dengan ?tuntutan jaman? waktu itu yang semuanya serba minimalis dan simple.

Ia lalu mengirimkan desain hasil kreasinya sendiri, sebuah canvas digital warna putih bersih dengan sebaris kata ?Sugeng Rawuh? di tengah? lalu sudah.

?Gini lho yang minimalis itu! Nggak perlu macem-macem, tapi tetap menarik!?

Atas nama klien, pihak yang membayarku sehingga aku bisa hidup dan bersenang-senang, aku mengangguk meski dalam hati aku berpikir, dimana letak menariknya???

Enam bulan kemudian, sang klien datang lagi dan memintaku mengganti design websitenya dengan desain yang dulu kubuatkan. Menurutnya, tak banyak orang yang datang mengklik produk-produk yang ditampilkan di halaman kedua dari websitenya dengan desainnya yang katanya minimalis dan simple itu.

Menurutku, itulah contoh dimana orang yang berusaha untuk menampilkan keminimalan dan kesimplean supaya tampak wah tapi pada akhirnya gagal total.

Klienku tadi berpikir terlalu singkat seolah hal yang biasa supaya tampak luar biasa itu cukup diusahakan dengan ke-biasa-an pula.

“… justru sebaliknya tantangannya adalah bagaimana dengan proses yang luar biasa menghasilkan karya biasa yang? tak biasa sama sekali!”

Padahal itu salah besar.
Kebanyakan designer-designer ternama menghasilkan karya yang tampak biasa tapi luar biasa justru setelah melakukan brainstorming dan uji coba konsep berulang-ulang kali.

Ke-biasa-an (minimalis dan simplicity) yang muncul sebagai hasil akhir karya bukan refleksi dari proses yang biasa, justru sebaliknya tantangannya adalah bagaimana dengan proses yang luar biasa menghasilkan karya biasa yang? tak biasa sama sekali!

Bingung? Mari lompat ke soalan politik.

Orang terbius dengan Jokowi effect.

Ia sosok yang sederhana, tak memiliki sejarah keluarga yang hebat dan menontonnya di tayangan televisi, ia benar-benar seperti kebanyakan dari kita, bau badannya pun bisa kubayangkan pasti juga rata-rata sama dengan kita, apek ketika berkeringat tanpa parfum pewangi tubuh yang berlebihan atau karena keringatnya yang mengucur terlalu deras karena harus blusukan di negara beriklim tropis seperti Indonesia.

Beda dengan para pemimpin yang lain yang lahir dari orang tua, mertua atau kakek/nenek orang hebat. Mereka tampak hebat juga sebenarnya, tapi sayang kehebatan itu justru menampilkan sisi untouchable, padahal tuntutan rakyat saat ini adalah pemimpin yang bukan hanya mau disentuh tapi juga punya inisiatif untuk menyentuh lebih dahulu.

Padahal kalau dipikir-pikir melakukan hal yang dilakukan Jokowi itu tak susah.

Blusukan, makan di warung kaki lima dan naik pesawat dengan tiket ekonomi, siapa yang tak bisa?

Tapi persoalannya memang bukan hanya berhenti di situ.
Sama seperti ketika kita mengagumi desain-desain super simple dari designer ternama dan kita hanya sanggup menggumam, ?Anjrit! Keren banget desain ini simple.. tapi bicara banyak!?

Bandingkan dengan seorang balonpres (bakal calon presiden karena menurutku ia akan susah jadi capres karena threshold yang sepertinya tak kan dicapai partainya) yang mau-maunya tampil di tivi milik kawan dekatnya, menyamar menjadi representasi kaum marginal seperti tukang becak, kernet bus dan masih banyak lagi.

Bagiku alih-alih tampak bagus, balonpres tadi malah tampak konyol dan menggelikan karena tampak sekali ia tak natural melakukannya, tanpa ketulusan dan jauh dari kesederhanaan, penuh make up dalam arti kiasan maupun sesungguhnya.

Belum lagi peristiwa pengadaan tenda seorang petinggi negara yang konon hingga bermilyar-milyar ketika dia ingin berkantor di tengah pengungsi Gunung Sinabung tempo hari. Alih-alih mendapatkan simpati, yang ada malah cemoohan karena kalau mau camping bersama pengungsi tentu tak perlu mengeluarkan dana sebanyak itu, kan karena mana ada tenda yang diperuntukkan pengungsi semahal itu?

Kembali ke soal Jokowi, bagiku memang ada proses yang panjang dari ?ke-biasaaan? nya yang akhirnya tampak menjadi sesuatu yang tidak biasa.

Omku dari pihak Mama adalah tetangga Pak Jokowi di daerah Sumber, Solo. Ia ikut menjadi tim pendukung ketika Jokowi mencalonkan diri menjadi walikota Solo periode pertama pertengahan dekade silam.

Akhir tahun lalu aku bertemu dengannya dan pertanyaanku simple, ?Apa Jokowi itu bener-bener tulus??

Ia mengiyakannya.
?Pernah dulu aku lagi nongkrong di pojok Manahan (nama stadion di Solo), ngehik (minum teh di warung kaki lima khas Solo), lalu tiba-tiba sekitar jam 1 malam ada pria bermotor, sendirian, mendatangi sebuah kursi taman yang penuh corat-coretan grafiti, lalu pria itu mengeluarkan cat semprot dari tasnya.?

Lalu?
?Ia menyemprot tulisan-tulisan itu dengan cat semprot yang dibawanya. Kupikir dia termasuk kalangan yang hobi corat-coret juga! Bersama temen-temen, akupun mendatanginya! Tapi pas dilihat ternyata itu Pak Jokowi sedang mengecat ulang kursi itu dengan cat semprot yang sewarna dengan kursi itu!?

Selangkah lagi, Jokowi akan memimpin negeri yang letaknya 5000 kilometer di utara negara yang kudiami kini dan aku termasuk dalam barisan mereka dan kalian yang menaruh harapan tinggi terhadap perubahan yang akan dibawanya.

Termasuk dalam harapan itu adalah ketegasannya dalam membungkam aksi ormas-ormas yang menentang kebhinekaan negeri seperti terbaca di artikel ini.

Jokowi harus membuktikan, setidaknya kepadaku yang hendak mencoblosnya, bahwa ia lebih baik dari presiden-presiden Indonesia sebelumnya termasuk Megawati Soekarnoputri yang menunjuknya untuk maju dalam pilpres 9 Juli mendatang dengan cara mengakhiri ?ketidakbaikan? itu?

Kalau ia gagal, aku akan mulai menganggap ke-biasa-an Jokowi memang benar-benar biasa, tak ada lagi istimewanya…

Sebarluaskan!

8 Komentar

  1. Buat tahu gagal atau berhasil berarti musti dicoba dulu hihihi

    Balas
    • Semacam, buat tahu perawan atau tak perawan itu tak hanya bisa dipercayai dari omongan yak? :)

      Balas
  2. Harapan gw juga. Semoga pak Jokowi bukan hanya akan membungkam, tp jg membumihanguskan paham2 busuk berlintah di Indonesia :)

    Balas
    • Semoga doi juga bukan PHP.. Pemberi Harapan Palsu :)

      Balas
  3. Wainiii….akhirnya muncul juga tulisan soal mengakhiri “ketidakbaikan” :D

    Waktu ada opini pencapresan Jokowi, pertanyaanku waktu itu “Jokowi ini mampu ngga ya mengakhiri aksi ormas-ormas itu…?” dan benar katamu kalau ternyata gagal berati ya memang benar-benar biasa :)

    Balas
  4. Apa yang dilakukan Jokowi itu sebenernya sangat-sangat biasa. Gak ada yang istimewa. Kenapa keliatan luar biasa dan menonjol? Karena yang lainnya pada nyungsep.

    Balas
  5. mas don ganti tampilan blog nih..
    kalau ini letak menariknya di mana mas? :D

    Balas
    • Udah lama, kamu juga lama.. lama nggak kemari :)

      Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.