Berubah menjadi baru untuk curahan anggur baru

21 Jan 2020 | Kabar Baik

Sydney, kota tempatku tinggal, dalam hitungan sepuluh tahun terakhir ini mengalami perubahan yang amat signifikan. Ada begitu banyak bangunan apartemen dan perumahan, jalan-jalan baru terowongan, rumah sakit, sekolah hingga waduk yang digunakan untuk cadangan air bersih semua dibangun baru. Membandingkan kota Sydney tahun 2008 saat aku datang dengan sekarang sangat terasa bedanya. Ada apakah gerangan? Sydney sedang berubah. Melonjaknya angka populasi menjadi pemicu utama. Dalam sepuluh tahun terakhir, ada lonjakan sebesar 1.7 juta jiwa dari yang semula 4.029 juta menjadi 5.73 juta jiwa tinggal di dalamnya.

Berubah atau gagal sama sekali

Perubahan menjadi satu-satunya cara untuk mengatasi persoalan dan mencegah timbulnya masalah. Kalau tidak, tingkat kenyamanan hidup akan menurun karena sumber daya dan infrastruktur yang ada jadi semakin sulit didapatkan/diakses. Ketika warga tidak nyaman, hal itu akan memicu masalah-masalah lainnya seperti yang sudah pernah dan banyak terjadi di kota-kota dan negara-negara lain, bukan?

Hal ini kupikir selaras dengan apa yang ditulis Markus dalam Kabar BaikNya hari ini. Yesus bicara tentang anggur baru yang tak bisa ditumpahkan di kantung kulit yang lama karena akan koyak. ??Jadi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.? begitu kataNya.

Anggur baru dan perubahan yang kita perlukan

Anggur baru kuartikan sebagai diriNya sendiri. Yesus yang datang menjadi mesias yang menawarkan keselamatan di dalam nama Tuhan. Kita diajak untuk menanggapi tawaran tersebut dengan melakukan perubahan, dengan tidak menjadi kantung lama tapi berubah jadi kantung yang baru.

Jika pemerintah kota Sydney mengubah kotanya untuk menghadapi tingkat populasi yang melonjak. Hal-hal apa saja yang perlu kita ubah untuk menerima anggur baru dariNya?

Pertama, kita diajak mengubah cara kita berinteraksi dengan Tuhan.

Sebelum Yesus datang, Tuhan dalam pandangan banyak orang bukanlah sosok yang mudah didekati. Sosok yang berjarak. Kehadiran Yesus yang adalah AnakNya, membuat jarak itu hilang. Tuhan, melalui diri Yesus, bahkan tak hanya tidak berjarak tapi juga Tuhan yang menawarkan kasih keselamatan. Satu hal yang barangkali tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh ?orang-orang lama.?

Kedua, kita diajak untuk mengubah cara kita bersosialisasi dengan sesama

Banyak orang lebih fokus pada bagaimana membangun ritual terhadapNya. Tentu saja hal itu penting, tapi ada yang tak kalah pentingnya yaitu mengasihi sesama. Ajakan Yesus untuk mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri adalah ajakan untuk peka terhadap keadaan sekitar. Saking pentingnya bagaimana interaksi kita terhadap sesama mempengaruhi hubungan kita dengan Tuhan, Ia sendiri yang mengajarkan dalam doa Bapa Kami supaya kita mengampuni kesalahan sesama sebagaimana kita diampuni olehNya.

Ketiga, kita diajak untuk mengubah cara pandang kita terhadap dunia

Sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus menjadi bukti bahwa kematian bukanlah akhir dari segala-galanya. Kematian adalah gerbang menuju hidup abadi di Surga. Memahami hal itu membuat kita sadar bahwa dunia yang kita alami sekarang ini bukanlah pula berarti segala-galanya karena dunia bukan tujuan akhir hidup kita.

Berusaha untuk hidup sebaik mungkin dalam konteks mengejar kesejahteraan tentu tetap penting. Tapi harta-benda bukanlah segalanya mengingat hal itu akan lenyap begitu saja jika Tuhan menghendaki, hal itu tak kan bisa pula dibawa dalam kehidupan abadi kelak.

Anggur baru tercurah sejak dua ribu tahun lalu. Mari kita pastikan kantung kita adalah kantung yang baru pula. Kantung yang tidak akan mensia-siakan tumpahan anggur baru itu hanya karena ketidaksiapan kita untuk menerimaNya.

Sydney, 21 Januari 2020

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.