Bersumpah?

18 Jun 2018 | Kabar Baik

Yesus berkata, ?Janganlah sekali-kali bersumpah!? (lih. Matius 5:34) Lalu bagaimana jika kita diminta untuk bersumpah oleh karena kewajiban?

Misalnya kita melihat sebuah aksi kejahatan dan kita diminta memberi kesaksian di pengadilan. Untuk itu kita perlu disumpah. Adakah kita menolak? Mana yang lebih penting, bersaksi tapi disumpah atau menolak bersaksi dan kejahatan tak jadi terungkap hanya karena kita tak mau disumpah?

Penjelasan dari sisi ?hukum Gereja? bisa kalian simak di artikel milik Katolisitas yang linknya ada di bagian bawah tulisan ini. Aku lebih berpikir untuk merenungi bagaimana kita menempatkan perkara ini dalam konteks sehari-hari.

Bagiku, benang merah dari Kabar Baik hari ini sebenarnya adalah apa yang dikatakan Yesus sebagai, ?Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak.? (lih. Mat 5:37).

Beberapa kali kesempatan ketika melihat seorang pejabat publik ditangkap KPK, aku iseng mencari rekaman di Youtube saat yang bersangkutan diangkat/dilantik untuk jabatan tersebut.

Mengenakan pakaian terbaik. Dikelilingi rekan sejawat dan keluarga dekat lalu disebelahnya hadir seorang ahli agama membawa buku suci dan di depannya berdiri pejabat yang melantik, memandu mengatakan sumpah setia.

Dalam sumpah itu dengan jelas dikatakan bahwa ia tidak akan menempatkan kepentingan pribadi dan golongan untuk dijadikan prioritas dalam tugas yang diembannya termasuk korupsi.

Dan kini, ia mengenakan jaket orange bertuliskan TAHANAN KPK, wajahnya muram dan pasi menuruni anak tangga sementara para wartawan sibuk mengkopi wajahnya untuk hari berikutnya tampil di puluhan media massa.

Pejabat itu adalah contoh bagaimana seseorang tak bisa konsisten pada apa yang dikatakan, dijanjikan dan dijadikan sumpah.

Hukum dunia barangkali bisa ditebus dengan dikurung sekian lama di dalam penjara tapi bagaimana hukum Tuhan? Di sinilah apa yang menjadi keberatan oleh Yesus tentang bersumpah memunculkan alasan.

Sebagai Tuhan, Yesus mengenali sikap dasar kita sebagai manusia yang gampang goyah. Apakah ini berarti kegoyahan kita dianggap sebagai hal yang wajar olehNya? Tidak juga! Menurutku ini adalah cara Yesus untuk mempermudah kita fokus pada komitmen dan menjalani janji-janji yang telah kita katakan. Nggak perlu bawa-bawa langit, bumi, semesta apalagi Tuhan yang penting buktinya.

Jadi?
Sebagai orang Katolik, jika tidak terpaksa sekali, tak perlulah mengucap sumpah. Cukup katakan ya jika memang iya, katakan tidak jika memang tidak. Karena seperti kata Yesus ?Janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun? (Mat 5:36)

Eh Don, tapi kata siapa kita tak punya kuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun? Kan tinggal ke salon untuk disemir? :)))

Sydney, 18 Juni 2018

Link menuju artikel Katolisitas, klik di sini.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.