Bersama Bunda Maria hingga Golgota Kehidupan Kita

10 Des 2019 | Kabar Baik

Tulisan ini seharusnya terbit kemarin saat kita semua memperingati Hari Raya Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda. Tapi hingga tadi malam, aku merasa belum bisa menuntasinya dan baru pagi ini bisa kuhadirkan untuk kalian semua.

Bagaimana mungkin?

Setiap kita memperingati dogma-dogma Gereja tentang Bunda Maria, kadang aku bertanya, bagaimana mungkin?

Bagaimana mungkin Bunda Maria itu adalah Bunda Ilahi? Adakah Allah perlu Ibu? Hal ini terkait dogma Keibuan Ilahi yang diumumkan pada Konsili Efesus tahun 431.

Bagaimana mungkin Bunda Maria itu adalah perawan abadi? Bukankah ia melahirkan? Bukankah ia pada akhirnya bersuamikan Yosef? Hal ini terkait dengan dogma yang diumumkan pada Konsili LAteran 649.

Bagaimana mungkin Bunda Maria itu diangkat ke surga ketika tugasnya sudah selesai di Bumi? Yakin? Apakah sudah benar-benar dicari makamnya sebelum menyimpulkan demikian? Hal ini terkait dengan dogma yang dikeluarkan Paus Pius XII pada 1 November 1950.

Dan yang kita peringati kemarin, bagaimana mungkin Bunda Maria itu dinyatakan sebagai manusia yang dikandung tanpa noda dosa? Bukankah ia sama dengan kita, bahkan ketika dikandung pun sudah terwarisi dosa asal dari Adam dan Hawa?

Tapi setiap ada pemikiran ?Bagaimana mungkin?? itu muncul, seperti yang kutulis beberapa yang lalu, aku diajak untuk meletakkan segala hal di dalam Dia. Di dalam Tuhan, tidak ada yang tak mungkin.

Bunda Maria, teladan, pendoa dan pendamping sempurna

Maka daripada njelimet membahas dogma, selain bukan pakarnya, aku lebih tertarik untuk merenungi, apa makna dan gunanya bagi hidup kita?

Maria adalah teladan sempurna bagi kita kaum beriman. Selain itu, Maria adalah pendoa sejati dan kita tidak perlu meragukan adakah doa-doanya didengar Tuhan atau tidak. Karena Ia adalah Bunda Allah. Ia adalah Perawan Abadi. Ia adalah yang sudah pasti ada di surga baik jiwa, roh dan raganya dan?. tidak seperti kita, Ia dikandung tanpa noda. Adakah keempat jaminan itu masih kurang?

Maria tidak mendoakan kita dari jauh. Ia mendampingi kita seperti halnya dulu Ia mendampingi PuteraNya sejak awal pelayanan hingga akhirnya memanggul salib dari gerbang Yerusalem ke Golgota dan menungguiNya hingga mati.

Maka ketika kita merasa hidup begitu berat, salib yang kita panggul seolah tak sebanding dengan daya dan kekuatan yang kita miliki, Maria menjaminkan dirinya berada tak jauh dari kita.

Ia mendorong dan menyemangati.

Ia tak ragu meminta tolong ?Veronika-Veronika? modern yang ada di sekeliling kita untuk mengelap wajah lelah kita.

Ketika kita terjatuh, Maria tak malu-malu untuk meminta ?Simon-Simon? yang baru yang tak hanya datang dari Kirene tapi dari manapun untuk membantu kita memanggul salib hidup.

Dan ketika kita sudah sampai di Golgota, salib sudah terpancang dan penderitaan kita semakin dalam tertancap di batangan kayu-kayunya, Maria ada tepat di bawah kaki salibmu! Ia mendoakan, menguatkan dan menatap ke arahmu dan darah-darahmu menetes bahkan membasahi rambut dan wajahnya seperti dulu pernah ia alami di Golgota.

Lalu ketika luka-luka kita tuntas dan hidup kita berakhir, Maria jugalah yang menggendong kita masuk ke Gerbang Abadi Tuhan, AnakNya Yang Maha Tinggi.

Masih kurang bersyukur apalagi kita karena memiliki Maria?

Sydney, 10 Desember 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.