Bersaksi melalui perbuatan baik

17 Jan 2019 | Kabar Baik

Seorang yang sakit kusta disembuhkan Yesus. Tapi setelah seumbuh, orang tadi dilarang bilang-bilang ke siapapun tentang hal tersebut. Pesan lengkapnya seperti ditulis Markus adalah sebagai berikut:

?Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.” (Markus 1:44)

Sekian lama aku berpikir kenapa Yesus melarang untuk bilang-bilang, hari ini aku tertarik untuk merenungkan beberapa kemungkinan.

#1 Mungkin supaya tak mencolok perhatian orang-orang Yahudi

Semula aku berpikir Yesus melarang karena Ia tak mau apa yang dilakukan itu mencolok perhatian orang-orang Yahudi. 

Takut? Tidak!
Lebih tepatnya Ia bermain strategi. Yesus tak mau ditangkap lebih cepat sebelum mencapai Yerusalem dan belum semua tempat ia datangi untuk mengabarkan Kabar Baik alias Injil.

Pada akhirnya Yesus datang sendiri ke Yerusalem bersama para muridNya, menyatakan diriNya lalu ditangkap, diadili dan disalib hingga mati. Kenapa Yerusalem? Karena yang pertama untuk menggenapi nubuatan. Kedua, Yerusalem adalah ibukota. Menyatakan diri dan disalib di sana akan efektif untuk menyedot lebih banyak perhatian orang-orang daripada jika ditangkap di Kapernaum.

Narsis? Caper??
Bukan!

Semakin banyak orang yang melihat dan mendengar siapa diriNya dan bagaimana Ia berkorban, semakin besar pula kemungkinan untuk mereka percaya.

#2 Mungkin supaya si sakit yang disembuhkan itu bersaksi lewat perbuatan bukan kata-kata

Kemungkinan ini ?kutemukan? pada saat aku merenung pagi ini.

Penyakit kusta pada jaman Yesus amat sulit disembuhkan dan dalam alam Perjanjian Lama dianggap sebagai kutukan. Referensi itu seperti kukutip di bawah ini:

Gehazi dan keturunannya dikutuk dengan penyakit kusta Naaman, (2?Raj. 5:20?27).

Yesus menyembuhkan penyakit kusta lalu yang disembuhkan diminta untuk bersaksi melalui perilaku-perilaku baik yaitu memberikan persembahan untuk pentahiran guna menunjukkan bahwa meski dikutuk, kalau Tuhan mau, ia bisa sembuh dan tetap tetap berbuat baik sekalipun terhadap mereka yang mendukung pengutukan yaitu para imam!

Hal ini menarik ketika kita merefleksikannya dalam hidup sehari-hari di jaman ini.

Suatu waktu dulu ada sebuah bencana alam terjadi yang berdampak banyaknya korban jiwa dan materi. Ada sebuah bantuan yang diberikan oleh sekelompok umat kristiani yang ditolak karena dianggap sebagai upaya pengkristenan.

Lalu untuk menanggulangi hal yang sama terulang, seorang romo yang kukenal menyarankan supaya sebelum memberikan bantuan, kita harus memastikan tak ada bantuan yang ?berbau? kristen dan nama pun disamarkan. Tujuannya supaya bantuan bisa diterima dengan baik tanpa harus ada perselisihan.

Tapi kalau gitu lantas gimana mereka tahu bahwa bantuan itu dari murid Yesus?

Mereka tidak perlu tahu! Memberikan bantuan itu sejatinya bukan tentang kita dan mereka yang dibantu tapi kita dengan Tuhan yang mewariskan cinta untuk dibagikan kepada sesama.

Sydney, 17 Januari 2019

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. Puji Tuhan Amin

    Balas
  2. Puji Tuhan, Amin

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.