Berpulangnya Maestro Nasi Goreng Babi Jogja, Pak David Sutedjo

1 Jan 2018 | Cetusan

Kehadiran dua warung nasi goreng babi (nas-gor-bab) di sekitar ruas Jalan Mayor Suryotomo Yogyakarta dulu bermakna besar bagi kalangan ?minoritas? kota pelajar itu. Istilah ?minoritas? di sini kusematkan kepada kita yang mengkonsumsi daging babi karena seperti kita tahu, mayoritas masyarakat Indonesia memang haram untuk mengkonsumsinya.

Keduanya tak hanya berfungsi mengenyangkan jasmani tapi juga menjadi sarana untuk tempat ngumpul sesama kaum, melebarkan sayap pertemanan, perkoncoan dan? siapa tahu bisa jadi wahana untuk mencari jodoh.

Soalnya, di kalangan kaum ?minoritas? dulu, jodoh itu bukan sesuatu yang bisa asal comot dan main-main. Sejak kecil orang tua selalu mendesak, ?Cari jodoh yang seiman!? Nah, bagaimana menengarai seorang gacoan lawan jenis yang seiman selain dari pergi ke tempat ibadah yang sama adalah melihat apa yang halal untuk dimakan olehnya. Gampangannya, cewek/cowok makan babi? Ya seiman!

Warung nas-gor-bab yang pertama berada di area parkir Papilon, night club kesohor dan termasuk yang tertua di Yogyakarta. Dijual secara lesehan dengan gelaran tikar menyita selasar toko sebelah-sebelahnya.

Yang beli bejubel, antrinya yak-yakan.?Mulai dari yang bermodel mahasiswa-mahasiswi kere hingga parlente. Parkir motor dan mobil berderet saling berjajar ditingkahi pengamen yang muter-muter mencari uang bermodal nyanyi selarik dua larik lagu yang kadang jauh dari merdu.

Untuk warung yang ini aku sebenarnya tak terlalu suka. Kedatanganku pun bisa dihitung dengan jari. Bagiku nasinya terlalu lembek padahal untuk sebuah nasi goreng yang asik itu harus pera, harus nasi kemarin yang kering. Kecap dan minyaknya juga agak ?over? padahal meski orang Jawa aku tak doyan makanan dan minuman manis. Daging babinya tak ada gajih-nya. Sebenarnya justru lebih baik karena lemak gajih itu tak menyehatkan, tapi bukankah yang menyehatkan itu biasanya justru tak enak dimakan?

Warung nas-gor-bab yang kedua adalah kesukaanku.?Letaknya tak tepat berada di Jalan Mayor Suryotomo karena masih harus belok ke sebuah gang menuju Pasar Beringharjo, sejajar dengan jalan menuju ke Toko Progo.

Dikenal dengan nama nas-gor-bab Thlethong. Thlethong adalah tai kuda dalam bahasa Jawanya. Kenapa dinamai seperti itu karena jalan aspal di depan warung dilalui dhokar/andhong berkuda yang kalau musim hujan, bau thlethong yang ada di permukaan aspal meruap bersama bau sayuran busuk yang tercecer dari pasar menyatu dengan sedapnya aroma nasi goreng babi.

Sebuah kombinasi yang setelah jauh dari Jogja selalu mengundang indera perasa dan pengecapku untuk pulang!

Karena tempatnya yang nyempil, tak banyak kaum minoritas yang berdandan necis ke warung ini. Tapi peduli setan! Aku ke situ toh untuk makan bukan untuk mencari pacar. Orang tuaku tak pernah mengharuskanku untuk mencari jodoh yang seiman dulu jadi cari pacar bisa dimana saja?

Yang jual namanya Pak Tedjo dan baru tiga hari silam kutahu nama lengkapnya adalah David Sutedjo bin Jino Karyo.

Perawakannya tinggi besar. Senyumnya betebaran tapi kalau sudah memasak dan sibuk membagi hasil masakannya ke piring-piring yang disediakan di depan, kerut di jidatnya tampak berbuku-buku menandakan keseriusannya dalam melayani pelanggan.

?Sugeng ndalu, Mas! Loro nopo loro setengah?? Begitu sapanya setiapku datang. Ia sudah hapal betul denganku karena sejak pertengahan 90an aku sudah sering ke sana. Aku nggak pernah merasa cukup kalau hanya makan satu. Butuh dua atau kalau lapar betul ya dua setengah porsi!

Nasinya tidak mblenyek alias pera. Perhitungan kecap dan minyaknya selalu pas. Daging babinya penuh samchan alias ber-gajih ditambah telor ayam mata sapi setengah matang di atasnya. Nyam!

Cara makanku dan kebanyakan orang yang ke situ pun ?unik?.? Nasi ditaburi merica bubuk banyak-banyak lalu setiap suap sendok yang kumasukkan ke mulut diganjar dengan sebiji lombok rawit yang pedas, begitu terus-menerus. Segelas teh hangat tanpa gula menjadi pemanas yang memancing keringat sebiji-biji jagung besarnya meleleh dari jidat.

Dalam seminggu hampir tiga-empat kali aku ke sana. Kawan makanku pun berganti-ganti, tapi yang paling sering kuajak ke sana dulu adalah kawan dekatku, almarhum Iwan Santoso. Barangkali karena dulu sekantor dan tidur pun juga sama-sama di kantor, aku sering melewatkan malam bersamanya membahas apa saja dari mulai pekerjaan hingga wanita hahaha?

(Tapi pernah sekali waktu aku sedang tak guyub dengan Iwan. Kawan dekatku yang lain yang juga sama-sama sekantor, Riza, barangkali curiga kenapa aku tak pernah makan nas-gor-bab lagi dengan Iwan. Ia lantas mengajakku makan bersama Iwan ke nas-gor-bab. ?Kubayari? biar kalian damai?? begitu katanya yang selalu kuingat hehehe?)

Beberapa tahun lepas dari 2000, Pasar Beringharjo dibenahi dan warung nas-gor-bab Thlethong pun ikut pindah. Pertama pindah ke pinggir trotoar di Jalan Mayor Suryotomo berhadap-hadapan dengan nas-gor-bab Papilon tapi lantas pindah ke arah selatan dekat arah masuk ke Gedung Societet hingga sekarang.

Terakhir kali aku ke sana kalau tidak salah adalah menjelang akhir tahun 2013.

Waktu kudatang, Pak Tedjo sudah agak sepuh tapi tetap gagah. Kerut di dahinya masih tetap berbuku-buku ketika memindahkan nasi goreng dari wajan ke piring-piring.

?Isih kuat loro opo telu, Mas?? Ia masih ingat kepadaku dan cara memesanku. Aku tertawa..?Setunggal mawon, Pak! Cekap!? ujarku.

Dan itu adalah kali terakhir aku makan nas-gor-bab Tlethong. Tiga hari silam, 30 Desember 2017 aku mendapat kabar dari seorang kawan, Pak David Sutedjo bin Jino Karyo meninggal dunia.

Alm David Sutedjo

Alm David Sutedjo

Wajah di fotonya seperti yang kalian lihat di atas adalah wajah yang tiap malam memasak nasi goreng babi yang legendaris itu. Ia meninggal dunia dalam usia 79 tahun, dua hari setelah ulang tahunnya, dua hari sebelum anak-cucu merencanakan untuk membuat pesta hari jadinya.

Selamat berpulang ke haribaan Tuhan, Pak! Selamat berjumpa dengan Gusti Yesus. Maturnuwun sudah menemani malam-malam di Jogja dulu dengan sajian nasi goreng babi racikanmu…

Update:

  • Featured image kuganti dengan foto nasi goreng babi tlethong yang sesungguhnya! Terimakasih untuk Mas Tony Pongoh (JB 85), kawan lama yang memberiku saran untuk mengganti foto. Foto yang sekarang kupakai diambil oleh Aradea Sarosa (JB 96) kawan seangkatanku di De Britto dulu!
  • Tulisan ini telah disampaikan kepada keluarga almarhum Pak David Sutedjo melalui kakak angkatanku di De Britto, Mas Ison Desi Satriyo. Mas Yoes (putra Pak Tedjo) langsung mengomentari seperti bisa kalian baca di bawah.
Sebarluaskan!

8 Komentar

  1. Jadi ingat dulu pas ngantri nasgorbab ini.. ada 2 orang perempuan ikut ngantri.. sama pak Tedjo ditanyain.. Sampeyan Babi nopo Ayam, dijawab ” kulo Ayam” trus satunya “Kulo Babi Pak”. Trus pak Tedjo nanya lagi sama belakang lah sampeyan Babi? “Mboten kulo campur.”
    Luar Biasa.. saya mung mesem ngekek denger dialog itu.. biasa wae ning koq lucu..

    Balas
  2. Matur nuwun mas dab..atas postingannya…mhn maaf atas segala kesalahan bapak selama melayani diwarung..yoes putra ne bpk tedjo..berkah dalem

    Balas
    • Mas Yoes,…ndherek belasungkawa nggih , doa kami utk bapak .

      Berkah Dalem

      Bestari _Salatiga

      Balas
  3. Kami.. anak Medan/P.Siantar, klo makan nasgorbab,pasti membuat heboh suasana dan aroma meja.. karena tumpukan Pete dari pasar pasti menemani saat makan..
    Dan,beliau sudah tidak lagi menjamah gorengan yang dengan gampangnya dia akibatkan tuk membalik nasi.. wah luar biasa,karena semuanya murah,banyak,lezat dan cepat..
    Slmt jalan pak..Kulo babi.. 2 porsi

    Balas
  4. Njenengan Babi nopo Ayam ?

    Kulo ?Babi….Lalapan komplit , endoge setengah mateng…..?

    RIP pak Tedjo !

    Balas
  5. Aku ingat dulu kalau pesan nasgor di sana pakai telur ceplok setengah mateng. Wuenak pol.

    Balas
  6. Nasgor Tlethong : mshningat sekitar th 84 an, warungnya msh diselatan Hotel Melia skr. Tempat parkir andhong. Kalau hujan bau tlethong menyengat. Dl smp skr sering disebut sego goreng tlethong Pidad (imam). Kami sering manggil. Pak tejo Mang Udel (Purnomo) krn wajahnya mirip. Pembantu setianya Sik Ya. Kalau makan disana pasti ditanya “nganggo suket ora mas”. Suket maksudnya sledri.
    34 tahun langganan bukan wkt yg singkat tentunya.
    “Sugeng tindak mang udel, mugi ngaso kanti tentrem”.

    Balas
  7. Kowe ki nces asu Nggul…. mangan enak ngene ra pernah ngajak2 aku…

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.