Mana kata yang paling terutama, “sedang”, “akan”, atau “sudah” ?
Bagiku, yang terutama adalah “sudah”.
Orang bisa bermimpi “akan” mampu berumur panjang hingga sepanjang mereka mau,
orang boleh jadi pun “sedang” mereguk kenikmatan yang ia telah capai dari perjuangan sebelumnya,
tapi terlepas dari apa yang sedang dan akan mereka alami setiap orang pada akhirnya pasti akan berkata sudah.
Sudah makan, sudah minum, sudah bersenang-senang, meski mungkin kita tak bisa bilang “sudah hidup”
karena pada akhirnya kita juga akan menjadi “sudah mati”.
Dalam beberapa hari belakangan ini aku banyak berpikir tentang “sudah”.
Tak baik berujar bahwa ini adalah hasil kontemplasi karena mana mampu aku berbuat seperti itu,
tapi anggaplah ini sekalipun bukan hasil permenungan akan tetapi pemahaman kata “sudah” yang kudapat akhir-akhir ini sangat membantuku menghadapi masa adaptasi yang aku tahu dan kalian semua tahu tak mudah ini.
Simplenya begini,
ketika aku rindu rumah, berkumpul bersama papa, mama, Citra, serta kedua anjingku yaitu Ellen dan Pluto maka penawar terbaik dari rasa rindu itu adalah menerbitkan anggapan bahwa pada prinsipnya aku toh sudah pernah merasakan kehangatan berkumpul bersama mereka dan itu lebih dari cukup.
Lalu ketika aku berpikir aku lupa untuk minum teh panas di warung Lik Man atau teh poci gula batu Kaliurang pada saat-saat akhir keberadaanku di Jogja kemarin maka akupun cukup terhibur dengan berpikir bahwa menikmati hidangan-hidangan khas Jogja itu baik pada saat-saat akhir kemarin maupun sebelum-sebelumnya toh intinya sama saja yaitu aku sudah pernah ke sana.
Terus terang dengan berpikir demikian untuk dua contoh kasus di atas aku merasakan betapa bebanku yang tak ringan ini pada akhirnya banyak tertolong. Terlebih karena moral of this matter adalah bahwa aku menjadi bisa lebih banyak bersyukur untuk semua yang sudah diberikan.
Sehingga ketika aku sudah bisa bersyukur, maka pada akhirnya yang datang adalah mulut yang terkatup ketika berdoa setiap malamnya.
Menjelang tidur, dipenuhi rasa syukur aku tak mampu lagi menuntut dan merengek-rengek di depan Tuhan untuk membawaku terbang kembali ke Jogja lalu minum teh poci atau pulang ke rumah dalam sekejap untuk merasai atmosfir terwangi dari semua tempat yang pernah kudatangi di muka bumi ini karena aku hanya bisa berujar “Tuhan, aku bersyukur karena setidaknya aku sudah berhasil melewati semua hidup hingga saat ini.”
itu saja dan kalian perhatikan, kata kuncinya adalah “sudah”.
Aha, satu pencapaian telah kudapat meski baru seujung jari perjalanan baruku ini.
Mari kita saling mendoakan.
Tinggalkan Balasan