Berperilaku genap

16 Jun 2018 | Kabar Baik

Yesus tidak meniadakan Hukum Taurat. Dua hari lalu, bahkan Ia berkata satu iota atau satu titik pun dari hukum itu tidak akan ditiadakan, selama langit dan bumi belum lenyap. (lih. Matius 5:18).

Ia datang untuk menggenapi dan hari ini kita merenungi bagaimana Ia melakukan penggenapan itu dalam hal ini terkait hukum perzinahan.

Pandangan umum orang-orang sebelum Yesus, seseorang dinyatakan berzinah dengan orang lain ketika keduanya telah benar-benar melakukan hubungan intim tanpa diikat perkawinan sah.

Apa yang digenapi Yesus dari hukum itu?

Ini jawabNya, ?Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.? (lih. Mat 5:28)

PenggenapanNya begitu radikal hingga kadang kita berpikir siapa sih yang mampu melaksanakannya kalau begitu?

Beberapa waktu yang lalu, seorang kawan jauh menelpon. Ia bertekun di dalam Tuhan. Ikut berbagai macam kegiatan rohani baik di Gereja maupun di perkumpulan-perkumpulan bina iman.

Tapi malam itu suaranya terdengar muram.

?Aku berdosa besar lagi, Mas!? begitu akunya. Rupanya ia tak bisa menahan gelora nafsu, setelah sekian lama berhasil melawan, ia meniduri pacarnya lagi. ?Aku jadi merasa kotor banget nih??

Aku terdiam dan berpikir…

?Kotor? Wajar! Karena perbuatan itu memang tak diperkenankan Tuhan. Tapi yang sekarang menjadi lebih penting, apa rencanamu? Apa yang harus kamu lakukan??

Kali ini giliran dia yang terdiam.
Ketika seorang jatuh dalam dosa, hal yang tak kalah membahayakan daripada dosa itu terkadang adalah perasaan bersalah yang tiada henti.

Rasa bersalah memang perlu tapi ketika hal tersebut tak dapat dihentikan, hal itu tentu membahayakan. Kenapa? Bisa jadi itu pertanda bahwa kita tak percaya pada Allah yang Maha Pengampun!? Padahal penggenapan yang dilakukan Yesus tak hanya terkait persoalan zinah saja, Ia juga menyempurnakan hubungan manusia dengan Bapa. Melalui pengorbananNya di kayu salib, Yesus membuat para pendosa seperti kita layak menerima keselamatan.

?Tapi kalau tak memelihara perasaan bersalah, aku takutnya malah jadi pengen berbuat lagi karena toh nanti dimaafkan lagi, dipertobatkan lagi??

Nah, ini pola pikir yang salah! Ini namanya aji mumpung. Layakkah Tuhan yang telah begitu mengasihi menerima perlakuan aji mumpung seperti itu?

Tuhan sudah menggenapi segalanya, giliran kita yang juga berusaha berpikir dan berperilaku genap.

Sydney, 15 Juni 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.