Berpantang dan berpuasa dalam Katolik kok enak banget sih?

16 Feb 2018 | Kabar Baik

Selamat Tahun Baru Imlek! Semoga di Tahun Anjing Tanah ini kita selalu diberkati Tuhan.

Perayaan Imlek tahun ini kebetulan bertepatan dengan hari Jumat dimana umat Katolik diajak untuk berpantang dalam masa Pra-Paskah ini. Tapi tahukah kamu, setidaknya ada dua keuskupan yang memberikan dispensasi pantang bagi warga Katolik yang hendak merayakannya.

Dispensasi ?pantang?

Yang pertama adalah Keuskupan Agung Pontianak. Melalui kebijakan pastoralnya, Uskup Agung Mgr. Agustinus Agus memberikan dispensasi bagi umat yang hendak merayakan perayaan Imlek. Mereka bisa memindahkan hari pantang daging dan pantang pribadi lainnya ke hari lain. (Sumber.)

Yang kedua adalah Keuskupan Agung Semarang. ?Umat hendaknya tetap melakukan pantang tapi jika tidak memungkinkan hendaknya melakukan pantang pada hari lain sebagai pengganti,?? demikian ungkap Uskup Agung Mgr. Robertus Rubiyatmoko seperti dikutip sumber di sini.

Kok enak banget sih?

Barangkali ada yang berpikir kok enak banget sih puasa dan pantang di Gereja kita?

Menurutku, setidak-enak-tidak-enaknya beribadah haruslah tetap enak! Ibadah termasuk puasa dan pantang adalah tentang bagaimana memberikan yang terbaik karena Ia juga telah memberikan yang terbaik bagi kita.?Yang teringan belum tentu yang terburuk sementara yang terbaik tidak harus berarti yang terberat. Berat identik dengan beban dan apakah kita bisa memberikan ibadah yang terbaik saat menganggapnya sebagai beban?

Justru Gereja Katolik membiarkan umat untuk kreatif menambahkan beban puasa dan pantang secara sukarela. Prinsip sukarela ini menurutku amat penting dan aku teringat bagaimana Yesus pun memberikan hidupNya secara sukarela.

Masih ingat bagaimana Yesus berdoa di Taman Getsmani beberapa jam sebelum Ia menyerahkan diri pada prajurit Romawi yang menangkapNya?

Ia berdoa kepada BapaNya. Menyerahkan hidup untuk menjalankan kehendak BapaNya sebagai ?cawan? yang daripadanya harus ?diminum? segala pengorbanan itu hingga tuntas. Secara suka dan rela, Ia memilih untuk menjalani apa yang sudah digariskan BapaNya.

Demikian pulalah kita seharusnya beribadah termasuk berpantang dan berpuasa.?Secara sukarela kita memilih untuk berpantang dan berpuasa sesuai yang ditetapkan oleh Gereja. Secara sukarela juga kita memilih menambahkan beban dalam pantang dan puasa.

Selamat melanjutkan puasa dan pantang. Semoga berkenan bagi Tuhan?

Sydney, 16 Februari 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.