Bernas Tuntas

1 Mar 2018 | Cetusan

Setelah Majalah HAI edisi cetak kita beri ?goodbye, per 1 Maret 2018, Bernas ?tuntas?.?Koran lokal Jogja yang sudah bertahan sekian lama itu tak lagi mengeluarkan edisi cetak. Dalam pesan di edisi terakhirnya kemarin, 28 Februari 2018, tertulis begini:

Foto oleh AA Kunto A dari laman Facebook pribadinya

Foto oleh AA Kunto A dari laman Facebook pribadinya

Aku dulu bukan penggemar Bernas. Kalau untuk ?kelas Jogja? aku lebih suka Kedaulatan Rakyat (KR). Kesukaanku bukan karena bobot beritanya tapi justru karena iklan kecik (iklan baris) di KR yang berhalaman-halaman jumlahnya.

Tapi pada akhirnya aku suka Bernas karena dua alasan unik.

Pertama, kawan-kawan dekat dan yang kukagumi cara menulisnya kebanyakan ?lulusan? sana. Mulai dari alm. Kristupa Saragih, Valens Riyadi, Retno ?Devil?, David Rinetyo Adhi, Irwan W. Kintoko hingga AA Kunto A yang kemarin kutulis di sini, mereka semua lulusan GEMA, medium yang dilahirkan Bernas untuk menjaring minat menulis dan reportase para siswa di Jogja dulu.

Kedua, Bernas adalah media mainstream pertama di Indonesia yang berani menempelkan label ?Superblogger Indonesia? pada seorang saya, DV!

Cerita lengkapnya bisa dibaca di sini, tapi foto utama di atas ini adalah penampakannya.

Koran Bernas yang memuat tulisanku itu kusimpan hingga kini di almari dan barangkali akan jadi Koran Bernas pertama sekaligus terakhir yang ada di tanah Australia.

Tuntasnya Bernas menurutku adalah satu kewajaran. Ia tak mati sendirian karena di seluruh dunia, surat kabar dan majalah yang mengandalkan kertas sebagai media sedang sama-sama menuju titik punah yang tak bisa dihindari lagi.

Bukan karena mutu tulisan yang menurun, bukan karena antusiasme masyarakat dalam membaca yang anjlok. Tak juga karena kertas makin mahal melainkan karena ?keberpihakan? masyarakat dalam mengakses media sudah bergeser.

Orang lebih suka mengakses berita melalui digital; blog, video, social media dan kanal-kanal pemberitaan online yang masih bertahan. Lebih cepat sampai, lebih dinamis ketika ada update dari berita yang ditulis sebelumnya dan yang paling penting murah?

Bayangkan, hanya dengan modal beberapa ratus ribu rupiah, smartphone kelas pemula sudah di genggam. Tinggal tambahkan beberapa lembar ribuan untuk berlangganan paket data atau asal rajin-rajin mencari info dimana WIFI gratis tersedia, semua beres! Tak perlu bayar langganan bulanan koran!

Pergeseran ini memang berimbas pada hilangnya pengalaman lain tapi bukankah itu alami? Sama seperti kita yang putus pacaran lalu dapat pacar baru, tentu akan ada rasa kehilangan ?bau abab si dia? yang lama yang terganti bau abab ?dia yang baru??

Jadi santai saja ketika misalnya bakal ada yang kangen bau kertas koran dan tinta. Bakal ada yang rindu memegang kertas saat membaca. Ada yang kehilangan rasa kehilangan koran yang entah nyelinap di ruang tamu atau jangan-jangan masih tertinggal di WC dan basah kena air?!!?

Hidup ini terus menatap ke depan.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.