Berlindung dibalik kebiasaan

29 Okt 2018 | Kabar Baik

Yesus lagi-lagi diprotes keras oleh kepala rumah ibadat. TindakanNya menyembuhkan seorang perempuan yang dirasuki roh selama delapan belas tahun hingga bungkuk punggungnya (Lukas 13:10 – 17) dianggap sebagai satu kesalahan karena dilakukan di Hari Sabat.

“Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat (lih Lukas 13:14)? begitu kata si kepala rumah ibadat. Aturan Hukum Yahudi memang menghendaki beberapa hal untuk tidak dikerjakan di hari tersebut.

Yesus pun menjawab,

“Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?” (lih Lukas 13:15-16)

Pagi ini mari kita mulai renungan dengan ?sedikit berpikir positif? tentang si kepala rumah ibadat. Jangan-jangan, si kepala rumah ibadat itu tidak sadar bahwa dirinya salah karena ia terbiasa untuk bertindak demikian: menyalahkan orang lain, termasuk Yesus, yang dianggap melanggar aturan padahal dirinya lah yang salah!

Titik beratnya ada pada kata ?terbiasa?.

Pernahkah kita sadar akan hal-hal yang kita tahu salah tapi karena terbiasa tidak melakukannya maka hal tersebut kita anggap sah-sah saja untuk dilakukan?

Saat berlibur ke Indonesia bulan lalu, di hari-hari pertama aku sempat keki karena setiap mau menyeberang jalan lewat zebra cross bukannya dikasih jalan malah diklakson keras-keras oleh mobil yang hendak lewat. 

Anak-anak sampai ketakutan! Saat kulihat ke arah mobil, sang supir matanya melotot seperti hendak melompat keluar dan seolah berkata bahwa aku salah karena menghalangi laju mobil mereka.

Kita semua tahu supir itu sejatinya yang salah karena dalam aturan UU No. 22 Tahun 2009 tentang LLAJ disebut demikian. Tapi seandainya aku menyatakan hal itu pada sang supir akankah ia akan mengaku dengan mudah atas kesalahannya itu?

Kalau aku jadi supirnya aku tidak akan mudah mengaku salah. Mungkin aku adalah contoh buruk atas hal ini karena aku akan ngeles dengan alasan, ?Biasanya juga gini kok! Kamu aja yang tiba-tiba nyelonong!?

Kebiasaan bukan yang bisa dijadikan alasan untuk membenarkan/menyalahkan sesuatu selama apapun kamu terbiasa kelakukannya.

Perlu ada keberanian dan kerendahan hati untuk berpikir mendalam, ?Salahkah aku?? Jadikan aturan sebagai patokan dan mari menata ulang semua hal yang selama ini kita anggap sebagai kebiasaan dan kita telah begitu nyaman ?berlindung? di baliknya.

Sydney, 29 Oktober 2018

Jangan lupa isi Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan. Klik di sini untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.