Berkeputusan seturut kehendakNya

28 Okt 2019 | Kabar Baik

Hari ini, dalam Kabar BaikNya seperti dilukis Lukas, Yesus berkeputusan memiliih kedua belas rasulNya. Hal yang menarik bagiku ada pada bagian awal tulisan Lukas. Di sana ditulis demikian, ?Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.? (Luk 6:12)

Kenapa Yesus harus berdoa terlebih dahulu, bukankah Ia itu Tuhan? 

Berkeputusan seturut kehendakNya

Bagiku, peristiwa di atas memberikan petunjuk bahwa meski Yesus itu Anak Tuhan, meski Ia diberi kuasa yang begitu besar oleh Bapa tapi Ia tak pernah melepaskan diri dari kehendak Bapa yang mengutusNya. Berdoa adalah berkomunikasi. Mendoa tentang para rasul pilihan adalah cara Yesus untuk mengkomunikasikan kepada Bapa tentang orang-orang pilihanNya itu sebelum berkeputusan.

Dari sini kita belajar bahwa untuk berkeputusan terhadap segala sesuatu, sebagai umat yang beriman kepadaNya kitapun diajak untuk tidak melepaskan diri dari kehendakNya.

MengenaliNya, mengenali kehendakNya

Persoalannya sekarang adalah bagaimana mengenali kehendakNya kalau tidak mendalami pribadiNya. Lalu, pertanyaan ultimatumnya adalah, siapa yang bisa mendalamiNya kalau kita percaya pribadiNya adalah pribadi yang tak terselami?

Pusing?
Pusing pala barbie!!!

Mau kutambah pusing?

Begini?
Seorang perempuan dalam keadaan bingung. Adakah dirinya lebih baik dinikahi Si A yang seorang perwira karier atau Si B seorang dokter.

Setelah melalui proses doa, merenung dan rundingan panjang dengan keluarga, perempuan yang taat beragama itu  berkeputusan untuk memilih Si B.

Lima tahun menikah semua tampak baik adanya. Rumah tangga yang harmonis, anak-anak yang lucu dan keadaan ekonomi yang selalu tercukupkan.

Hingga akhirnya terkuak sifat Si B yang tersembunyi selama ini. Ternyata Si B, dalam keadaan tersudut adalah seorang yang ringan tangan; suka main pukul. Suatu saat, ketika tersudut, Si B menggampar wajah istrinya. Hal itu memicu kejadian-kejadian berikutnya.

Istri mana yang kuat diperlakukan seperti itu? Dengan sangat menyesal, sang istri pun meminta cerai.

Pertanyaannya sekarang, salahkah keputusan perempuan tadi saat memilih untuk dipinang Si B?

Jika benar dan sekehendak dengan pilihanNya kenapa demikian adanya? Jika salah, kenapa sampai kesalahan itu diijinkan terjadi?

Keputusan yang salah, keputusan yang tidak salah

Hal-hal seperti ini, meski dalam skala yang berbeda, kerap muncul di kehidupan kita. Kadang keyakinan kita digoncang justru oleh keputusan yang di masa lampau kita ambil dan kita anggap yang paling baik juga benar tapi ternyata tidak!

Menyesal dan mempertanyakan sendiri keputusan yang diambil dulu tentu boleh dan manusiawi. Tapi jangan terlampau lama. Mari kita pandang hal tersebut sebagai ?ongkos? untuk kita lebih mengenali pribadiNya. Seperti yang kutulis di atas, semakin kita kenal Dia, semakin baik juga pemahaman kita atas kehendak-kehendakNya.

Yang terpenting adalah kita punya kesadaran.

Sadar bahwa kita ini bukan sosok sempurna dan karena ketidaksempurnaan itu tak jarang kita mengambil keputusan-keputusan yang salah.? Sadar bahwa ketika keputusan yang salah kita ambil, ia tak akan jadi lebih baik kalau kita tak segera bangkit berdiri dan belajar dari pengalaman, membuat keputusan-keputusan baru yang lebih baik dan semoga… lebih benar.

Sydney, 28 Oktober 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.