Berkawan

6 Agu 2015 | Cetusan

blog_perkawanan

Kawanku dulu banyak, banyak sekali. Musuhku juga tak kalah banyak, banyak sekali.

Setiap orang bisa kujadikan kawan tapi kemudian bisa kunyatakan sebagai musuh karena hal-hal kecil seperti misalnya mencemooh, maling, minjem duit tapi nggak dibalikin, hingga mereka yang meminjamiku duit lalu menagihku tapi karena aku sedang tak punya uang dan aku benci lalu kumusuhi?hahahaha…

Tapi itu semua terjadi saat muda dulu. Saat usia belasan dan awal dua puluhan, saat sumbu emosi masih sependek diameter televisi, empat belas inchi.

Cara memusuhinya pun bermacam-macam. Mulai dari saling mencemooh lalu kutinggal pergi sampai ada juga beberapa yang tonjok-tonjokan; lalu kalau aku terjatuh ya mereka yang ninggal pergi atau kalau aku yang memukul mereka jatuh ya kuludahi lalu kutinggal begitu saja!

Berdamai?
Tentu saja mungkin, tapi tak mudah dan makan waktu kecuali ada pernah kejadian aku bermusuhan dengan orang yang pernah sama-sama satu band. Aku lupa apa sumbu persoalan antaraku dengannya. Lalu waktu itu saudara pacarku waktu itu ada yang meninggal, aku diajaknya melayat dan ternyata yang meninggal itu adalah bapak dari orang yang kumusuhi tadi, pakdenya pacarku.

Awkward moment banget ya?
Iya! Aku ingat waktu itu dia kusalami tapi lalu aku minta diri cepat-cepat ke pacarku untuk pulang duluan dengan segala macam alasan yang aku sudah tak mampu mengingat lagi detailnya.

Sekarang, ketika usiaku mendekati angka kepala empat, kawanku tak kalah banyaknya dan musuhku tinggal satu dua. Tapi dari sekian banyak kawan itu, ada banyak pula yang tak pernah ?kusentuh? karena takut kalau tersentuh akan membuat musuhku yang sudah tinggal beberapa itu jadi tambah jumlahnya.

Maksudnya?
Nanti dulu, pelan-pelan?

Ketika sudah tak terlalu muda lagi seperti sekarang, berkeluarga dan sibuk bekerja, alasan untuk memiliki kawan adalah supaya ada teman jalan selain keluarga sekaligus ada bahan pembicaraan ketika sedang berbincang dengan keluarga.

Aku menemukan kawan baru, pada masa-masa sekarang ini, biasanya dari komunitas yang kugeluti, dari pekerjaan hingga dari ranah social media; meski untuk yang terakhir ini aku sedikit bisa membedakan mana kawan dan mana kenalan. (Kubahas nanti belakangan ya)

Mendapatkan kawan baru itu seperti masuk ke wahana baru. Masuk ke dunia yang belum tentu sama dengan dunia sebelumnya; mengerti cara berpikir mereka, kebiasaan mereka dan kesukaan-ketidaksukaan mereka yang belum tentu jadi cara pikir, kebiasaan, dan kesukaan-ketidaksukaan kita.

Dan, ?kita? serta ?mereka? di sini tidak bisa me-refer pada satu orang lawan satu orang saja karena kebanyakan ketika aku berkawan dengan seseorang, aku juga dikenalkan dengan keluarganya dan demikian juga dengannya yang kukenalkan dengan istri dan anak-anakku. Otomatis, ?kita? itu melibatkan istri dan anak-anakku, dan ?mereka? itu melibatkan suami/istri mereka dan anak-anak mereka juga.

Di sinilah semuanya lantas menjadi tantangan karena kadang perbedaan ?wahana? nya dengan wahana kita menimbulkan gesekan.

Untung sumbu emosiku sudah sepanjang leher jerapah sekarang. Ketika gesekan terjadi, aku tak serta merta ?menyala? lalu meledak lagi.

Gesekan itu biasanya tercermin pada kejadian-kejadian yang tak terlalu penting. Misal tentang siapa yang mbayarin siapa.

Aku punya pandangan bahwa ketimbang membayar makanan secara terpisah yang kadang memusingkan kasir, ada baiknya kita mbayarin makan secara bergantian.

Jadi misalnya malam ini yang mbayarin aku, maka besok ketika ketemu dan makan lagi, gantian mereka yang mbayar.

Tapi ada kalanya hal ini jadi sumber gesekan. Aku yang merasa sudah mbayarin makan keluarga mereka, tentu berharap kali ini giliran mereka. Tapi alih-alih bangkit berdiri ke kasir untuk membayar, ada keluarga yang pura-pura buru-buru pergi dengan berbagai macam alasan.

Ya sudah, mau dikata apa? Untuk hal seperti ini aku biasanya lantas memutuskan untuk tak makan bareng mereka atau aku dengan mudah omong, ?Eh waktu itu aku bayarin kamu dua kali, sekarang gantian ya?? Kalau mereka setuju, baru kita janjian makan lagi, kalau tidak, ya sudah hitunglah sebagai tindakan amal.

Nah, itu baru satu hal yang bergesekan, gimana kalau gesekannya datang bertubi-tubi dalam hal lainnya dari seorang/keluarga yang sama? Biasanya kalau hal itu sampai terjadi, aku lebih memilih mundur tapi tak memusuhinya.

Caraku ini kadang dianggap kurang benar.?Di satu sisi dilihat sebagai sesuatu yang kurang sopan dan terlalu blak-blakan untuk mengutarakan opiniku.

?Harusnya didiamkan saja. Didoakan saja biar cocok!?
Blah! Aku mendoakan, tapi untuk apa aku diam. Kalau memang tak cocok ya katakan ketidakcocokan itu tentu dengan bahasa yang lebih kalem dan manusiawi. Aku paling tidak suka pada orang yang memilih pura-pura cocok demi ?supaya nggak ribut?.

Ada lagi kawan lain yang bilang bahwa apa yang kulakukan itu nanggung,
?Damprat aja Bro! Bilangin kalau kemarin loe yang bayarin kenapa sekarang dia nggak mau bayarin lalu tinggalin gitu aja. Kalau ketemu di jalan jangan disapa!? Bagiku itu blah juga! Karena sumbu sudah tidak sependek dulu kala!

Makanya jalan keluar bagiku adalah tetap menganggap mereka kawan tapi tak kusentuh dan kuapa-apakan. Tak pernah mengajaknya main, tak ingin berkunjung ke rumahnya (meski ketika berpapasan dan memberikan alasan, ?Gila, Man! Kerjaan gue lagi super sibuk nih!”, tak mengundang mereka ke acara ulang tahun anak dan banyak lagi kesempatan-kesempatan yang memang kupikir ada baiknya tak perlu menyertakan mereka. Meski demikian, kalau ketemu ya disapa baik-baik, lalu sudah!

Kupikir itu jalan yang terbaik karena kita juga tidak tahu apa yang terjadi di masa mendatang. Kalau terlalu gegabah memusuhi, kita tahu apakah nanti ke depannya kita kalau kepepet perlu bantuan mereka dan bisa pula mereka memerlukan bantuan kita; atas nama kemanusiaan tentu kita tak bisa menampiknya selama kita bisa toh?

Walau memang ada sedikit yang kebangetan, kalau tak salah mungkin baru satu kali dalam sekian tahun terakhir. Untuk yang satu itu, aku tak sungkan lagi untuk memutuskan perkawananku dengannya.

Sayangnya aku tak bisa menceritakan di sini karena hal ini menyangkut pekerjaan dan kantor tempatku bekerja. Singkat cerita, dalam sebuah percakapan dengan teman kerjaku yang lain, aku bilang gini kira-kira,

?Kamu tahu nggak, aku udah lama banget nggak bermusuhan. Bagiku ada orang yang layak dijadikan kawan? ada orang yang layak dianggap kawan tapi aku malas berinteraksi dengannya, tapi ada orang yang bahkan ketika bertemu dan berpapasan di pedestraian area, aku tak?kan menegurnya? Nah, dia ada di baris yang terakhir?

Dia merenung sebentar, lalu menukas, ?Hmmm.. that?s fair enough!?

* * *

Oh ya, mumpung ngomongin soal kawan dan perkawanan, bagaimana dengan perbedaan antara kenalan dan kawan yang tadi kusebut kutemukan di social media?

Begini.
Jaringan friend-mu di Facebook ada berapa??Ada orang yang malas untuk meng-add kawan di Facebook karena tak kenal secara langsung. Boleh saja dan kupikir itu betul banget dengan alasan, pertama, karena Facebook menggunakan istilah ?Friend? padahal dia bukan teman kita. Kedua, karena kita tak ingin orang lain melihat privacy kita.

Tak terbantahkan.?Tapi kenapa harus membatasi diri pada istilah yang dipilih Facebook??Kenapa harus mengungkap hal-hal privacy kita di social media?

Aku tak pernah menolak ajakan perkawanan di Facebook dengan syarat ada setidaknya satu mutual friend di antaranya. Pada beberapa kasus, hal ini terpatahkan terutama kalau ia lantas mengirim pesan, ?Mas Donny, accept dong! Saya pembaca blognya Mas!? Serius, ini kesannya kayak artis banget, tapi ini beneran ada dan banyak! Nah kalau sudah demikian, tanpa pandang bulu berapa mutual friend, biasanya langsung aku accept.

Aku juga tak pernah mengunggah hal-hal yang bersifat privacy ke social media selain foto anak-anak, itupun kalau Joyce, istriku, keberatan, serta merta akan kuhapus begitu saja.

Nah, mereka yang ku-accept menjadi kawan, itu sejatinya bukan berarti langsung menjadi kawan!

Mereka kuanggap sebagai kenalan; artinya, mereka mengenalku (bukan sebaliknya, aku mengenal mereka, maaf kalau kesannya nge-artis banget tapi aku memang tak pernah meng-add orang yang aku tak kenal sebelumnya sejauh ini kecuali beberapa tokoh yang kusuka karya-karyanya).

Mereka mengenal bisa jadi dari blog ini dan ini yang porsinya paling banyak. Mereka membaca blog ini, suka tulisan-tulisanku lalu mencariku di Facebook, menemukan akunku dan meng-add-ku.

Bisa juga mereka mengenalku dari common friend. Orang-orang di kategori ini biasanya adalah mereka yang dulu pernah sama-sama tinggal di Jogja. Mereka biasanya menyapa, ?Ini Donny, kan? Yang dulu di De Britto? Aku temannya si ini?.temanmu!?

Ada juga orang yang dulu sebenarnya tahu aku di Jogja tapi segan untuk berkenalan entah karena aku yang dicap sombong atau mereka yang menganggapku dulu ?bukan siapa-siapa?…

Nah, untuk yang satu ini, pernah aku mengeluh pada seorang kawan dekat, ?Mas? aku ini padahal juga belum jadi siapa-siapa sekarang? Tapi kenapa si itu dan si itu jadi sok kenal denganku ya? Di Jogja dulu, padahal untuk minta nomer teleponnya aja dilirik pun tidak!?

?Hahahaha, lha kamu kan sekarang jadi celeb-blog, Mas! Udah gitu, kamu tinggal di Australia? Menurut mereka, celeb-blog itu seksi apalagi tinggal di luar negeri? Luar biasa!?

Sebarluaskan!

4 Komentar

  1. Kapan giliranku ditraktir dibayarin nih???????????????

    Balas
  2. Saya kalo ketemu kawan yang kalo makan maunya cuma dibayarin tetap saya akan berkawan, tapi giliran makan berikut ngomong terus terang dia harus bayar.
    Saya merasakan betapa pahitnya gak punya uang, tapi ada teman yang berutang sama saya gak mau bayar. Ada aja alasannya. Saya tetap berkawan sama dia dengan janji pada diri sendiri tidak akan pernah ngutangin dia lagi.

    Balas
  3. Blogger kawakan ki iso nulis tentang menerima atau menolak ajakan friend neng facebook jadi 1 postingan & berambung (LOL)

    Balas
    • Hehehe… kawakan :)

      Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.