Berhenti menebarkan kasih saat ditolak. Tepatkah?

12 Jun 2019 | Kabar Baik

Kita diutus Tuhan untuk menebarkan kasih kepada sesama. Sesama berarti siapa saja, tak pandang bulu agama, suku, ras dan pilihan politiknya. Kabar Baik hari ini, Yesus mengutus para murid berdua-dua untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang. Hal yang menarik adalah, ketika ditolak karena ada orang yang tak mau menerima, Yesus meminta para murid untuk keluar dari kota itu dan mengebaskan debu dari kaki sebagai wujud peringatan terhadap mereka. (Lukas 9:5)

Ditolak dan tidak diterima

Adakah hal itu berarti kita diberi hak oleh Yesus untuk menghentikan penyebaran kasih terhadap seseorang atau sekelompok? Aku tak berani menjawab. Lebih baik bagiku untuk berpikir sejauh mana kita bisa menilai bahwa seseorang atau sekelompok yang hendak kita bantu itu menolak dan tidak menerima kita?

Bicara tentang ini, ingatanku terlempar pada peristiwa yang terjadi beberapa tahun silam saat sebuah bencana alam terjadi di sebuah dearah. Di sana, ada sebuah yayasan berafiliasi kristiani yang mencoba menyalurkan bantuan untuk para korban.

Di banyak tempat, bantuan dari yayasan diterima dengan senang hati. Tapi ada satu desa yang menolak bantuan itu semata karena yang memberi bantuan adalah sebuah yayasan kristen.  Barangkali mereka takut bantuan itu akan dijadikan sarana sebagai kristenisasi. Barangkali?

Pihak yayasan pun tak kehilangan akal. Mereka kembali memeriksa barang bantuan untuk memastikan tak ada satupun yang menyertakan simbol, logo atau nama-nama terkait kristiani. Dihilangkan pula nama pengirim bantuan supaya orang tak tahu siapa pengirimnya.

Bantuan dikirim ulang dan akhirnya diterima dengan baik. Pihak yayasan teryakinkan bahwa penolakan yang terjadi adalah sesuatu yang bisa dihindari. Para korban di desa itu menolak bukan karena mereka tak butuh bantuan tapi karena mereka ?gagap? terhadap identitas kekristenan yang ada pada bantuan sebelumnya.

Identitas yang tak diterima

Identitas memang penting tapi ia tak melulu harus tampil dalam wujud simbol dan nama. Identitas justru lebih ?berbicara? ketika hadir dalam bukti nyata yang dalam konteks di atas adalah sumbangan bantuan. Bahkan jika kita amati, kedewasaan sikap para pengurus yayasan untuk menghilangkan identitas si pemberi bantuan adalah wujud kedewasaan sikap kristiani. Identitas kekristenan telah begitu meresap ke dalam hingga menyentuh inti ajaran: Kasih yang tak mengenal batas!

Itu adalah contoh bagaimana sebuah yayasan yang seharusnya bisa berhenti membantu tapi pada akhirnya tetap menyalurkan bantuan. 

Ketika ditolak saat hendak menebarkan kasih, kita harus tahu pasti apa dasar penolakannya. Jika hal itu adalah karena seseorang tak perlu bantuan maka kita bisa mengalihkan bantuan itu pada yang lebih membutuhkan.

Tapi ketika penolakan terjadi karena kebencian atas identitas kita? Bukankah Yesus sudah menunjukkan contoh terbaik dalam hal ini?

Tentu kita tahu seberapa besar penolakan yang terjadi terhadap Yesus pada saat Ia hidup di dunia dulu. Ia dibenci, dicaci hingga akhirnya berujung pada penangkapan dan pembunuhanNya di atas kayu salib. Tapi adakah sekalipun Ia pernah mengebaskan debu dari kakiNya terhadap manusia?

Kawan,
jika Yesus pernah sekalipun mengebaskan debu dari kakiNya terhadap kita, hari ini dimana kita memuliakan namaNya melalui hidup tidak akan pernah ada dan tidak akan pernah terjadi.

Yesus yang tak pernah berhenti mencintai meski ditolak adalah Yesus yang juga menghendaki kita untuk terus memeluk dunia dan seisinya dan menghangatkannya dengan cinta yang datang daripadaNya.

Sydney, 12 Juni 2019

Sebarluaskan!

1 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.