Bercermin pada Novel

10 Agu 2017 | Kabar Baik

Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.
(Yohanes 12:25)

Yesus hari ini bicara tentang bagaimana sebaiknya kita menyikapi nyawa. Mencintai nyawa? Kehilangan nyawa! Tidak mencintai nyawa? Ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.

Tapi adakah tindakan ‘tidak mencintai nyawa’ itu berarti kita bisa seenaknya mengelola hidup, melakukan hal-hal yang menurutku ‘akrobatik’ yang berisiko kehilangan nyawa? Atau jangan-jangan seperti pelaku bom bunuh diri yang mengorbankan diri karena merasa hal itulah yang dimauiNya?

Tentu tidak!
Prinsip tidak mencintai nyawa berarti harus ada sesuatu yang lebih dicintai dari nyawa itu sendiri. Untuk itu aku ingin mengangkat nama Novel Baswedan.

Novel adalah seorang penyelidik KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Sepupu gubernur Jakarta terpilih, Anies Baswedan, ini dikenal berani mengungkap kasus-kasus besar korupsi di Tanah Air yang tak jarang melibatkan pejabat mulai dari tingkat daerah hingga pusat.

Apa yang dilakukan Novel tentu sangat berisiko. Beberapa usaha untuk mencelakai dirinya yang konon terkait dengan sikap beraninya itu terjadi bahkan yang terkini, ia disiram air keras oleh seseorang sesaat setelah usai menjalankan ibadah Sholat Subuh di mesjid dekat rumahnya pada dini hari 11 April 2017 silam.

Mata Novel tak bisa melihat dengan jelas lagi meski kini sedang ditangani pihak medis di Singapura untuk perbaikannya. Tapi mata hatinya tak pernah berhenti melihat kebenaran-kebenaran yang ditunjukkan Allah melalui diri Novel.

Dalam wawancaranya dengan Kumparan, Novel yang baru berulang tahun ke-40 ini berkata,

Bagi saya, usia bukan berapa yang sudah tercapai, tapi berapa sisanya. Ini berbicara produktivitas. Akankah kita sia-sia jika kita tidak berbuat baik. Umur saya siapa yang tahu, mungkin lebih pendek dari anda. Tapi saya fakus, mengoptimalkan diri berbuat baik, karena kalau tak begitu, rugi.

Rezeki, Allah yang mengatur. Itu given.
Tapi berbuat baik itu pilihan: Mau di zona nyaman, mau diam, atau bergerak.

Dengan berbuat baik, anda bisa dimusuhi. Tapi siapapun yang ingin melakukan apapun kepada kita, jika Allah tidak menghendaki, tidak akan terjadi. Semuanya atas izin Allah.

Novel adalah satu contoh yang bisa kita jadikan bahan permenungan serta tolok ukur tentang bagaimana cara kita memandang nyawa.

Novel adalah cermin sekaligus penyemangat kita untuk terus-menerus mengelola hidup dan meletakkan sesuatu yang lebih kita cintai ketimbang nyawa itu sendiri: menjalankan kehendak Allah.

Sydney, 10 Agustus 2017

Credit photo utama dan ilustrasi lainnya: Detik.com

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.