Berbahagialah karena perbedaan

29 Sep 2017 | Cetusan

Awal september lalu aku pergi berlibur ke Mt Buller, sisi paling selatan dari pegunungan es (alpine) di Tenggara Australia.

Harusnya masa-masa itu, salju sudah tak terlalu banyak karena sudah masuk musim semi (spring) dan suhu udara harusnya sudah lebih menghangat. Tapi anomali iklim terjadi. Badai salju berukuran besar datang menghampiri dari sisi selatan Australia yang berbatasan langsung dengan benua Antartika. Saking besarnya, orang-orang lokal menyebut sebagai snowmageddon, plesetan dari snow+armageddon.

Kami sekeluarga sih seneng-seneng aja, maklum sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di negara tropis seperti Indonesia, pengalaman bersentuhan dengan salju selalu memberikan pengalaman yang berbeda.

Sesampainya di sana, pengalaman yang benar-benar beda memang kami rasakan. Semua putih! Sejauh mata memandang, pohon-pohon, atap rumah, dinding, mobil sebagian besar tertutup salju. Langit pun demikian, tak ada biru selain putih.

Tapi rasa senang itu berubah jadi membosankan di hari kedua. Aku rindu warna-warna lain muncul hingga akhirnya hari ketiga, di pagi hari, seekor burung hitam tampak terbang lalu hinggap di sebatang pohon dan aku buru-buru membuka jendela untuk mengamatinya. Menyenangkan karena burung itu tampak lain sendiri di hadapan ?kanvas putih? yang membentang di sekeliling.

Hari keempat ketika kami pulang, kira-kira sepuluh kilometer jauhnya dari puncak, pemandangan beragam bermunculan. Salju-salju yang menipis, air yang mengalir di selokan pinggir tebing pegunungan, langit yang membiru meski berawan, padang savana yang menghijau dan hewan ternak yang berkeliaran. Semua jadi tampak menyenangkan karena beraneka ragam dan warna.

Pengalaman di atas membuatku merenung, betapa hidup dengan sesama yang tak sama, yang beraneka ragam itu sejatinya jauh lebih menyenangkan ketimbang sesama yang benar-benar sama seperti pengalamanku di Mt Buller waktu itu.

Ketidaksamaan membuat kita dan mereka justru memiliki satu sifat tambahan yaitu pembeda. Ibaratnya seperti burung hitam yang kuceritakan di atas, kita jadi pembeda dari yang lainnya dan begitu pula mereka terhadap kita.

Mungkin ada yang berpikir, perbedaan membuat konflik muncul yang tidak akan terjadi ketika semua sama. Pertanyaan itu masuk akal tapi siapakah yang berani menjamin tidak akan ada konflik ketika semua sudah jadi sama?

Kita dikodratkan lahir dalam keadaan unik, berbeda satu dari yang lain. Kalaupun dipaksakan untuk jadi sama, hingga kapan akan tetap tampak demikian sedangkan salju yang menumpuk dan memutihkan sekitar pun pada akhirnya juga akan mencair ketika matahari datang menyinari dan suhu permukaan merangkak naik?

Keseragaman bukanlah jaminan bahwa konflik tidak akan terjadi. Tak percaya? Sepulang dari Mt Buller, aku berbincang dengan kolegaku yang berasal dari Belanda. Aku menceritakan apa yang kualami dan ia merasa begitu bersyukur karena aku dan keluargaku selamat dari snowmageddon karena hari-hari dimana kami berada di puncak, televisi melaporkan ada dua orang hilang dalam badai tersebut.

Ya! Gejala alam badai salju yang memutihkan lingkungan itu memunculkan ?whiteout?, kondisi dimana kita tak memiliki penglihatan dan kontras yang cukup karena tereduksi oleh warna putih salju. Garis horizon alam tampak lenyap, tak ada titik yang bisa dijadikan referensi karena semuanya putih dan seseorang yang berada dalam kondisi itu bisa mengalami disorientasi arah dan akhirnya hilang.

Jadi, berbahagialah kita yang hidup dalam keberagaman yang membuat kita tetap merasakan hidup yang sesungguhnya sebahagia aku dan keluarga yang bisa menikmati snowmageddon sekaligus berhasil keluar dari badai itu dengan selamat?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.