Berapa Denda Membuang Sampah di Australia?

9 Jun 2009 | Australia, Cetusan

1

Tulisan menyoal sampah beberapa waktu lalu membuatku senang karena meski tak dikomentari banyak orang, beberapa yang masuk kupikir bukanlah komentar sampah namun sebaliknya; sangat baik dan ikut membangun-menguatkan konten yang kutulis.

Salah satunya adalah dari sobat lamaku, Krismariana.
Editor lepas yang setahun lalu hijrah dari Jogja ke Jakarta itu menyarankanku untuk menulis lanjutan soal penanganan sampah di Australia dengan satu cakupan yang lebih ketat yaitu denda. Akupun lantas menyisihkan waktu beberapa lama untuk sekadar mencari bahan dan memikirkan bagaimana cara menuliskan ke dalam artikel ini. (tenan iki Kris, ora ngapusi hehehe…)

Dari hasil surfing di internet, aku mendapati begitu banyak aturan tentang sampah di negeri ini.
Penanganan sampah di sini merupakan urusan dari pemerintahan state (negara bagian) yang langsung dikerjakan dan disesuaikan oleh masing-masing council (setingkat kecamatan). Jadi bisa saja aturan yang mengikat di council yang satu berbeda dengan council yang lain. Beruntung aku mendapat link di sini yang cukup jelas dan sepertinya menjadi tolok ukur bagi semua council di NSW (New South Wales — negara bagianku) untuk menentukan bagaimana penanganan pembuangan sampah itu.

Kalau kita amati betul-betul dokumen singkat itu, ada beberapa pokok denda yang harus dibayarkan tanpa melalui pengadilan apabila kita ketahuan melakukan pelanggaran.

Denda bagi orang yang membuang sampah sembarangan adalah 375 AUD atau 750 AUD untuk perusahaan.
Sementara itu, denda untuk membuang sampah ke tempat-tempat seperti tepian jalan ataupun hutan-hutan kecil (bush) adalah 1500 AUD untuk perorangan dan 5000 AUD untuk perusahaan.

Nilai uang itu juga bakalan bisa naik lagi kalau kita tidak terima dengan tuduhan lantas memejahijaukan pemerintah council ke pengadilan.

Sekilas tata aturan itu hampir sama di semua negara, bukan?
Ada aturan, ada sanksi dan ada ekskalasi denda dari pelanggaran terhadap aturan tersebut.
Permasalahannya sekarang adalah, apakah aturan beserta denda tersebut benar-benar dilakukan atau tidak?

Di Australia, jawabanku adalah tidak selalu!

Kenapa demikian, karena kalau memang benar-benar sudah dilaksanakan semua pasti sudah benar-benar tidak akan kutemui puntung rokok ataupun gundukan sampah lain di beberapa tempat di sini. Kalau dilaksanakan benar-benar, maka yang bakalan jadi pertanyaan balikku adalah dengan sistem seperti apa pemerintah bisa mendeteksi setiap ceceran sampah yang tak terbuang ditempat yang semestinya sekaligus bagaimana pula mendeteksi siapa pembuangnya? Memasang kamera di setiap tempat? Bisa jadi akan membantu meringankan tapi tak mengatasi seluruh detail areal publik yang ada bukan?

Lalu kalau demikian, apa bedanya dengan negara lain?
Bedanya adalah pada nilai komitmen dan konsistensi dari manusianya serta evaluasi dari pemerintah terkait dengan tata aturan yang sedang dijalankan.

Seperti yang kubilang pada postingan sebelumnya, kwalitas mental manusia adalah yang terutama.
Optimalisasi penggunaan media untuk menularkan virus kebersihan dan bahaya sampah seperti televisi, buku, radio, internet, pelajaran-pelajaran di sekolah hingga pesan-pesan moral di bungkus kemasan produk yang dijual sangat kentara diberlakukan di sini. Pemerintah dan lembaga swadaya non pemerintah mengajak masyarakat untuk melek dan diingatkan terus menerus untuk selalu konsisten terhadap komitmen pemeliharaan lingkungan dan sampah.

Sementara evaluasi adalah tentang bagaimana pemerintah mampu melihat indikasi kegagalan/keberhasilan ataupun stagnasi dari pelaksanaan aturan yang ada. Dalam hal sampah, parameter-parameter keberhasilannya tentu bisa dilihat dari seberapa banyak sampah yang terbuang pada tempatnya dan yang tidak, berapa angka kegagalan penanganan sampah dan lain sebagainya.

Nah, kalau sudah demikian, ketika konstruksi tata penanganan sampah sudah sedemikian kuat, bukankah denda pada akhirnya hanyalah penjaga gawang terakhir dari sebuah proses dan persoalan ketika semua jalan sudah tak mampu membendung lagi?

Semua lantas menjadi lebih mudah.
Pemerintah bisa mengirit uang untuk penanganan kerusakan lingkungan dan kerugian lainnya akibat sampah, dan penduduk seperti aku pun bisa tetap membelanjakan uangnya untuk hal-hal lainnya tanpa harus was-was membayar denda yang aujubilah besarnya itu!

Sebarluaskan!

53 Komentar

  1. Lalu kalau demikian, apa bedanya dengan negara lain?
    Bedanya adalah pada nilai komitmen dan konsistensi dari manusianya serta evaluasi dari pemerintah terkait dengan tata aturan yang sedang dijalankan.

    Indonesia payah dalam hal ini. Aku jadi bingung sendiri sebenarnya. Dengan rendahnya kesadaran sebagian besar penduduk Indonesia dalam membuang sampah ini, aku seringkali “ikut2an”. Padahal dulu aku malu kalau membuang sampah sembarangan. Kalau habis makan permen, bungkusnya tak bela2in masuk sakuku dulu sebelum masuk tong sampah. Huh!!

    Balas
    • Itulah, Mas…
      Semua berawal dari lingkungan yang akhirnya malah mengubah niat baik kita ya :)

      Balas
  2. Betul, denda adalah pengamanan terakhir. Seharusnya memang semua sosialisasi atau campaign yang ada menunjukkan tujuan dari peraturan itu sendiri (bukan hanya larangan buang sampah, termasuk larangan merokok, larangan lalu lintas, dll) bukan malah menonjolkan dendanya. Kalau menunjukkan denda sebenarnya secara psikologis malah akan membuat orang melakukannya secara sembunyi-sembunyi (lama-lama jadi terang-terangan karena ngerasa mampu bayar denda, paling tidak mampu buat nyogok). Yang harus dibina sebenarnya mental disiplin untuk urusan seperti ini. Ironisnya di negara yang kata orang ramah dan tidak egosentris seperti negara maju (baca : Amrik, Ausie, Singapore yang di Asia) malah mental disiplinnya kurang sekali padahal ya kalau tidak disiplin itu kan berarti sangat mengganggu kepentingan orang lain. Sebaliknya di negara maju yang serba tidak mementingkan remeh temeh alias individualitis justru mengagungkan disiplin sebagai salah satu bentuk keperdulian mereka terhadap kepentingan bersama dan kelangsungan lingkungan. Ironis tetapi ya demikianlah adanya. Berarti kualitas mental manusia di negara individualis mungkin memang lebih mantap ya hehehe… Secara semua tidak boleh sembarangan gitu loh daripada harus malu dilihat orang beda sendiri alias serampangan sendiri

    Balas
    • Semoga menjadi kesimpulan… yaitu mentalitas ya..:)

      Balas
  3. Wah kalo urusan sampah, orang Jerman itu World Master dalam hal ngurusin sampah.
    Tiap kota juga ada aturan sendiri2. Ini ngomongin sampah rumah tangga yah.Misalnya di Frankfurt hanya ada 3 tong kayak di tempatmu skrg (aku hbs baca artikel sebelumnya), tapi di Bad Nauheim tempat tinggalku sblm pindah ke Budapest ada 4 : utk sisa makanan (organic), paper, sampah yg bisa di daur ulang dan sampah sisa. Belum termasuk sampah khusus utk peralatan listrik, besi, meja kursi dll (pusing deh pokoke)
    Dan Bad Nauheim kotanya bersihhhhhhhh banget, aku juga sering liat orang ambil kotoran anjingnya dan buang ke tempat sampah khusus utk kotoran anjing, jadi jalan2 sudah bawa plastik sampah.
    Aku rasa bisa jalan bukan krn dendanya tapi karena tingkat kesadaran manusianya sudah tinggi. Ya kayak kamu pas di food court liat anak kecil bersihin baki makanan kan jadi sungkan, nah di sini juga begitu. Selain itu biasanya ada yg negur kalo sembarangan, entah tetangga entah orang lewat :)
    Di Frankfurt aja belum begitu sadar, masih banyak sampah yg dicampur tp krn kota besar orang2nya cuek…jadi ya begitulah….gak ada rasa sungkan kali jadinya ya?
    Belum lama ini aku liat reportage di USA mereka udah ada mesin untuk memisahkan sampah… jadi praktis buat kita semua sampah jadi satu yg misahin nanti mesin.
    Di Jerman sedang jadi bahan diskusi nih ..masalah sampah. Karena kita bener2 banyak menghabiskan waktu utk misah2in sampah. Dan juga bingung karena kode bungkus macem2 bikin bingung orang ini termasuk kategori sampah yg mana dan pada akhirnya jadi salah buang.Jadi mendingan dihapus aja, toh technologi skrg sudah canggih.
    Kalau di Budapest, gak beda jauh sama di Indo. Sampah gak dipisah, pada buang sembarangan juga …aku rasa krn ada pikiran: toh ada yg bersihin ini.Tiap pagi masih ada yg nyapu jalanan kayak di Indo, masih manual gitu pake sapu..gak pake mesin…pertama liat sempet kasian …tp skrg udah biasa ;)
    Yang jelas karena tempat tinggalku termasuk daerah turis, jadi lumayan bersih deh. Untung deh, anakku awalnya gak betah je disini..regete pol jarene kayak Jakarta hihihi ;)

    Balas
    • Ah, di sini orang jalan-jalan bawa anjing juga bawa kantong plastik untuk njagain kalau anjingnya berak sembarangan :)
      Yang repot kalau pas anjingnya mencret hahahaa :)

      Balas
  4. Tepat! Mau di Klaten, mau di Sydney, mau di New Yorkartohadiningrat, mau di Timbuktu, tetap: manusianya.
    Di Indonesia, toh tetap ada peraturan, entah perda, entah apa, dsb. Tapi masyarakat dan punggawa kerajaan kadang ya sama saja.
    Peraturan masih jadi sekadar peraturan. Denda menjadi sekadar dongeng sahibul hikayat. Belum persoalan TPA yang masih jadi persoalan di banyak kota (piye ning kono, Su?).

    Balas
    • Lho, sik.. sik.. sik… aku takjub jhe kok tumben-tumbennya kamu komentar serius di blog abal-abalku ini :)
      Nganu Dan, yang patut kita banggai adalah, TPA di Indonesia bisa jadi tempat deklarasi pasangan capres-cawapres hahaha :)

      Balas
  5. @DV:
    Bantar Gebang?
    Halah-halah, Su… Manajemen kesan aja itu. Jangan tercuri hatimu. Hati kita! Hihihi.

    Balas
    • Aku nggak tercuri oleh pencuri-pencuri itu, Kawan ;)
      Aku cuma mau mencontohkan betapa “kreatifnya” kita :)
      Iya kan.. huahuahua :)

      Balas
  6. Selain manusia-nya, ya pemerintahnya gak bisa setengah hati dalam menegakkan (enforcement) peraturan yang sudah ditetapkannya..

    Balas
    • Pemerintah kan juga komponennya manusia, Mas..:) Jadi tetap pada kualitasnya tho :)

      Balas
  7. Kualitas manusianya yang beda ya ?
    Makanya Mas DV
    pulango ke Indonesia
    dibangun gitu lho negarane
    :p

    Balas
    • Pulang? Emoh, lha kamu masih tinggal disitu :)
      Aku mau pulang kalau kamu mau dinikahi anggota DPR itu dan ngasi gaji dollar ke akyu :)
      Hauahahaha!

      Balas
  8. membuang sampah sepertinya sudah menjadi bagian dari lutur masyarakatnya, mas don. betapa susahnya mengubah kultur yang mewaris secara turun-temurun. entah, berapa generasi lagi bangsa kita bisa menumbuhkan kesadaran budaya bersih.

    Balas
    • Kita harus mulai dari sekarang, Pak. Yuk!

      Balas
  9. Saat sempat mendapat tugas seminar ke Brisbane, sekaligus mengunjungi anakku, saya jalan-jalan sendiri ke museum (anakku kuliah), melihat pemutaran film tentang kota Brisbane. Ternyata saat tahun 80 an, kota Brisbane (terlihat dari foto2nya) masih banjir, dan belum sebersih saat saya ke sana. Hal ini dikuatkan juga oleh Ms Valma, temapat anakku kost. Dan yang bergerak kaum mudanya, dan disiplin ini terus diomongkan, diawasi, dan dimonitor…menjadikan kota Brisbane indah dan bersih.
    Setiap hari, selama 10 hari disana, setiap pagi saya memandang melalui jendela Stamfort Hotel, sungai yang bersih beserta Citicat (perahu) yang mondar mandir melayani penumpang. Benar2 tak terbayangkan jika dulunya suka banjir dan kotor.
    Jadi…sebetulnya kita bisa kan, asal semuanya mau menyingsingkan lengan, dan pemerintahannya tegas serta memberi contoh dalam pelaksanaan nya sehari-hari

    Balas
    • Betul Bu, itu intinya, “Jadi sebetulnya kita bisa” :)
      Semoga memang “betul-betul” dalam arti implementasi ya…:)

      Balas
  10. Bener. Komitmen paling penting mas. Sayangnya sebagian besar orang merasa kalau sampah itu masalah kecil yang nggak perlu komitmen sampe segitunya.
    Lha wong komitmen sama hal yang besar saja masih sering pada luput kok.
    Halah! malah curhat.

    Balas
    • Hehehehe, terkadang sebuah negara membentuk karakter apatis dan terlalu menjeneralisasi permasalahan :)

      Balas
  11. saya mau introspeksi aja deh ke doiri saya..
    masih suka serambangan soale..
    .. ;P

    Balas
    • Sip, hal yang terbaik adalah tidak menyalahkan, tapi mulai saat ini juga untuk melakukan yang terbaik!

      Balas
  12. Bro, kalo di Indonesia masalahnya dah kompleks dengan inti persoalan tetap pada manusianya. Okelah kita kasih denda tinggi supaya orang-orang itu jera membuang sampah sembarangan. Nah, waktu ada yang tertangkap tangan dan akan didenda, hakim yang mutusin perkaranya nawarin damai. Trus dendanya ngga jadi, trus hakimnya dapat uang damai. Gitu deh… teteup aja manusia nya yang jadi masalah utama. Nice topic Bro…

    Balas
    • Betul Bro! Dan nggak cuma di Indonesia saja kok, dimanapun itu…

      Balas
  13. Di Jakrta, saya mulai lihat di tempat2 umum tempah sampah basah dan kering sudah mulai dipisahkan, lengkap dengan labelnya. tapi kenapa masih ada sebagian bahkan masih banyak yang tetap membuangnya dimana aja yah? sampah basah dibuang di tempat sampah kering, sampah kering dibuang di tempat basah. ngga mungkin dong ga bisa baca. apa proses edukasi dari yang berwenang yang kurang ? atau seperti kata mas DV, kualitas manusianya yang memang beda ?
    yah…begitulah…Indonesia…

    Balas
    • Saya nggak berani bilang kualitas manusia yang berbeda, tapi barangkali memang kita butuh proses pembentukan karakter bertanggung jawab yang sedikit lebih lama. Ide untuk membuat tempat sampah basah dan kering di Jakarta, terlepas dari sudah diimplementasikan atau belum, adalah satu kemajuan yang bagus.
      Kita perlu dukung itu!

      Balas
  14. kalau susah mengubah kultur orang lain,
    susah nggak yaa mengubah kultur diri sendiri.
    wis .. saya tak lanjutkan prakteknya saja deh … membuang sampah pada tempatnya.
    semoga bisa nular kayak virus H1N1 .. unstopable! (*weleh aku ki sopo toh?!)

    Balas
    • Hahahaha, kawan lama saya bilang ketimbang H1N1 mendingan R4N1 si caddy cantik itu :)

      Balas
  15. Di Yogya, lembah kali Code di Kewek yang dulu mengerikan karena menjadi tempat pembuangan sampah raksasa, sekarang sudah tertata dengan baik, bersih dan rapi. Artinya, kalau ada kemauan, sebenarnya kita bisa kok menata kota.
    Tapi memang sampah selalu menjadi permasalahan dimana-mana. Orang suka nyampah, tapi malas ngurus sampah.
    Langkah yang terbaik adalah disiplin mulai dari diri sendiri ya.

    Balas
    • Betul, Bu! Sampah itu sudah ditakdirkan menjadi masalah manusia selama manusia masih membutuhkan satu hal di luar tubuhnya.

      Balas
  16. Don,
    Gw jd mikir, di Indonesia kan kualitas mental nya jelas jauh dibanding di luar negeri. Bahkan dengan penerapan denda pun kita cuek. Bagaimana kalo pakai kekerasan, langsung kurungan? Pasti diprotes.
    Pembenahan mental memang yg paling utama di sini.

    Balas
    • Dimanapun, tak hanya di Indonesia.

      Balas
  17. iya, semua persoalan pasti pada akhirnya akan melibatkan: faktor menungsone…
    lha, nek cara menangani sampah komentar piye? haha…

    Balas
    • Cara nangani komentar sampah ya ditutup aja commenting systemnya.
      wani ra? :)

      Balas
  18. @Mas DV :
    Gilaaaaaaaaaa penyiksaan tiada akhir
    gue disuruh kawin sama agt DPR yang tua bangka ituh
    !@#%%^&*(
    suamiku nesu
    hahahahhaha
    Btw aku udh mo pindah koq, so njang balio (kek lagu nich) udh mo pindah ke bulan gue hahahaha

    Balas
    • Hahahaha, ngapain pindah ke Bulan?
      Eh btw aku mau koreksi.. yang benar bukan “njang” tapi “ndhang” :)
      Dasar ndeso! :))

      Balas
  19. Peraturan kan di buat untuk di langgar nah itulah yang sekarang ini terjadi di indonesia wkwkwkwkkw

    Balas
    • wakakakak dot com

      Balas
  20. Persoalan di indonesia emang bener2 komplek. Ngomongin sampah aja pasti nabrak2 ke soal2 yg laen.
    Entah kapan orang indonesia terbangun mentalnya dalam sgala bidang…

    Balas
    • Welah.. kok malah ngomongin indonesia?

      Balas
  21. Errrr gue mo komen apaan ya…hehehe…
    O ya!!!!
    Gue hanya mau mengingatkan jikalau suatu saat Blackberry Bold dikau sudah engkau anggap sebagai sampah, dan kau memutuskan untuk menggantinya dengan Blueberry Bold, mohon Blackberry Bold-nya jangan dibuang ke bin khusus HP bekas di Dick Smith! Serahkan ke gue, gue siap menampung!! wakakaakakakakak..
    Lanjuuuttttt…

    Balas
    • Hahahahahaha.. gw malah baru tau kalo di Dick Smith ada bin khusus HP. Btw, dick smith ganti logo dan warna yah, tapi nggak semakin men-dick hehehe :)

      Balas
  22. memang sih… masalah sampah bukan lah masalah kemarin sore.. udah banyak diperdebatkan dan diperbincangkan sejak jaman doeloe kala.. dan bahkan sudah ada undang undang yang mengatur akan hak tersebut..
    kesadaran masyarakat akan lingkungan hidup dan lingkungan sekitarnya saya rasa benar benar kurang banget…
    sistem penegakan hukum yang amburadul juga patut menjadi diskusi yang menarik…

    Balas
    • Sip!

      Balas
  23. Dua hari aku berusaha mikirin komentar yang berisi untuk tulisanmu yang serius ini, tapi kok gak ketemu yaa ..
    Akhirnya malah jadi nyampah di sini.
    Begini, aku mau bilang, aku baru aja mbuang sekantung plastik sampah plastik.
    Berapa dendaku ??

    Balas
    • Lha itu.. itu komentarmu udah berbobot sekali :)

      Balas
  24. mmmmm….sepertinya memang indonesia harus belajar banyak!

    Balas
    • Belajar terus kapan kerjanya :)

      Balas
  25. ternyata ra ning Indo, ra ning Aussie, podo ae.. hihiihih..
    masih banyak yg nakal.. :D

    Balas
    • He eh! :)

      Balas
  26. wooo tulisanmu kali ini menyebut2 diriku to don? walah, telat aku le moco. lha kesuwen neng dunia nyata, jd gak nyentuh dunia maya blas! hehehe.
    btw, jd kesadaran ki penting yo don. termasuk utk hal membuang dan mengelola sampah. pertanyaan selanjutnya: kapan yo masyarakat Indo secara keseluruhan duwe kesadaran dan kemauan utk tdk membuang sampah sembarangan?

    Balas
    • Nyato kowe ki :)
      Nek soal kapan masyarakat Indo, wah nek kuwi ditakoke karo capres-cawapres wae ra bakalan ono sing iso… ora iso njawab opo ora iso ngubah, mbuh nek kuwi :)

      Balas
  27. Mampir nich…
    menarik sekali blog anda, dan saya sangat suka..
    Salam….
    oh ya ada sedikit info nich tentang bibit jabon dan kayu jabon semoga bermanfaat…

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.