Berani menjadi saksi?

23 Sep 2019 | Kabar Baik

Ajakan untuk menyalakan pelita dan menempatkannya di kaki dian, seperti yang dilukis Lukas hari ini dalam Kabar Baik-Nya adalah ajakan untuk berani menjadi saksi Kristus dalam hidup di jaman ini.?

Mudahkah hal itu untuk dilakukan? Sejujurnya tidak sama sekali. Menjadi saksi Kristus itu sama sekali tidak mudah! 

Mudahkah menjadi saksi?

Kenapa demikian?
Yuk kembali ke eksistensi pelita sebagai analogi yang disampaikan Yesus sendiri.

Pelita itu kecil, nyala yang dihasilkan dari sumbu tak benderang. Pun kantung minyak juga tak besar. Artinya, ketika minyak habis, nyala yang temaram itupun mati begitu saja.

Tapi kalau misalnya Yesus menggunakan analogi obor atau lampu petromaks yang lebih besar dari pelita, adakah menjadi saksi Kristus itu jadi mudah?

Tidak juga!
Sebesar-besarnya nyala yang dihasilkan petromaks atau obor toh tetap saja tergantung pada minyak. Sebesar-besarnya persediaan minyak, ketika habis maka padamlah juga benderang sinarnya!

Dari sini tampak yang jadi persoalan bukan pada besar-kecilnya api. Persoalannya pada kenyataan bahwa suatu waktu, mau sebesar apapun api, ia akan mati ketika persediaan minyak habis.

Berani menjadi saksi?

Begitu juga tentang bersaksi bagiNya.

Ada yang bilang bahwa bersaksi bagiNya itu tak mudah karena kita minoritas, jumlah kita kecil. Takut dipersekusi, takut dizalimi. Tapi yang jadi persoalan, ketika kita jadi mayoritas secara identitas, adakah bersaksi bagInya itu jadi mudah?

Menurutku tidak juga!

Persoalan bersaksi bagiNya itu bukan pada besar-kecil jumlah kita. Persoalannya bersumber dari dalam diri sendiri. Kita takut bersaksi karena paradigma dalam berpikir bahwa penolakan dunia terhadap kesaksian yang kita berikan adalah akhir dari segala-galanya.

Kita tahu konsekuensi, ketika kita memutuskan untuk menjadi saksi atas sebuah kebenaran, di situ kita tahu kemewahan dan berbagai macam bentuk kemudahan duniawi yang badaniah tak lagi bersama-sama dengan kita.

Inilah yang harus dibenahi.

Bahwa ketika suatu waktu api di pelita mati, tak mengapa toh ia pernah hidup dan menerangi. Bahwa ketika suatu waktu nanti dunia menolak kesaksian bahkan cenderung menghancurkan kita, beranikah kita bilang, ?Nggak papa, setidaknya kita sudah pernah bersaksi!?

Sydney, 23 September 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.