Beragamalah!

23 Jul 2015 | Agama, Cetusan

blog_beragamalah_01

Ini bukan tips atau ?how to? tentang bagaimana mencegah konflik antar-agama terjadi di Indonesia karena saya bukanlah siapa-siapa dan mereka yang berkonflik, meskipun bukan siapa-siapa juga, tapi jumlah mereka banyak dan sekali gerak jadi tampak menjadi ?apa?.

Ini hanya sekadar permenungan di atas toilet semalam dan semoga berkenan. Kalau tidak, lupakan aja dan anggaplah ini sebagai sampah kamis sore kalian.

 

Beragamalah

Beberapa teman bilang, ?Untuk apa beragama kalau malah bikin ribut dan konflik???Terhadap pertanyaan seperti ini, dulu pernah aku menjawab, ?Apa hubungannya antara agama dengan bikin ribut dan konflik??

Temans, agama itu nothing to do dalam perkara konflik.
Walau memang ada beberapa sisi dari beberapa agama yang menjelaskan tentang bagaimana menghadapi ancaman (aku menganggap ini sebagai ?departemen pertahanan-nya agama?), tapi kita juga tak bisa menutup mata dari begitu banyak nilai-nilai agama yang baik.

Perkara konflik adalah perkara pelaku agamanya. Perkara aku, perkara kamu dan perkara mereka semua. Bagaimana kalian mengelola dan mengejawantahkan agama dalam hidup kalian, itu adalah kuncinya.

Kalau kalian merasa ada yang salah dengan agama, inilah saatnya untuk kembali beragama, apapun agama itu. Inilah saatnya untuk mempelajari dan merunut ulang kenapa bisa jadi dianggap salah.

Jangan malah meninggalkan dan antipati padanya! Jangan sampai ada orang-orang bodoh yang justru jadi representasi agama yang sama-sama kalian anut hanya karena kalian yang pintar sudah malas dan ogah-ogahan.

Pelajari benar-benar dan peluk sekuat mungkin agama kalian. Amalkanlah ia dalam hidup karena apalah gunanya kita memiliki benih yang bagus tapi tak ditanam di dalam tanah supaya tumbuh dan berbuah?

Kalau pengamalanmu mulai menyimpang, percayalah bukan agamamu yang salah tapi kamu yang kurang pandai menelaah. Bagaimana menilai penyimpangan itu? Jangan hanya bersandar pada ayat-ayat suci belaka, tapi juga lihat bagaimana lingkungan sekitar menilaimu.

Lakukanlah itu semua dalam kesetiaan seumur hidupmu?

 

100% Indonesia

Di Indonesia, agama menjadi identitas.
Kebanyakan orang ketika bertemu pertama kali dengan seorang lainnya, agama ada dalam list pertanyaan yang menurut mereka patut ditanyakan walau sebenarnya hal itu amatlah personal.

Mulai dari yang halus,

?Udah sholat isya??,
?Oh kamu nggak ke gereja hari ini?? atau
?Oh kamu nggak makan babi??,
hingga yang paling frontal, ?Agama loe apa? ? itu semua sudah mendarah daging dalam pergaulan masyarakat kita.

Mau kalian mengaku diri sebagai agnostik ataupun ateis, ketika kalian ke kelurahan untuk memperpanjang KTP, kalian belum punya pilihan untuk memasukkan hal-hal itu dalam kolom ?Agama?.

Tapi agama tak jadi satu-satunya identitas. Kita punya identitas lain yang menyatukan yaitu keindonesiaan kita!

Ada pertanyaan bagus yang dilontarkan kawanku dulu kepada kawanku yang lainnya, begini ?Menurut kalian, kita ini orang Cina yang tinggal di Indonesia, atau orang Indonesia yang berdarah Cina??

Nah, sekarang mari kita ganti kata ?cina? dengan identitas agama kita. ?Menurut kalian, Donny Verdian itu orang katolik yang Indonesia, atau orang Indonesia yang katolik??

Soegija, seorang yang lantas dikenal sebagai pahlawan nasional Soegijapranata,SJ pernah berujar tentang ?100% Katolik, 100% Indonesia?

Gantilah Katolik dengan agama kalian masing-masing, begitulah seharusnya cara pandang kita terhadap identitas kita.

 

blog_beragamalah

Agama bukan jalan pintas jadi presiden atau jadi orang kaya

Jangan pernah berpikir untuk semata-mata mengejar karir dan popularitas melalui agama.

Jangan pernah ingin jadi pemuka agama karena duitnya besar dan popularitas namanya bisa untuk merayu cewek-cewek yang terbius mendengar ?speak nabi? kalian.

Apalagi, jangan pernah ingin jadi politisi ataupun presiden dengan menggunakan topeng alim-ulama yang taat beragama.

Kenapa?
Agama dan kebenarannnya itu masalah wahyu. Wahyu adalah sesuatu yang tak bisa dirasakan indera kita. Sesuatu yang bisa kita rasakan melalui hati dan ini sifatnya subyektif sekali!

Misalnya suatu waktu aku merasa mendapat wahyu yang menyatakan bahwa Tuhan menginginkan seluruh ibu-ibu di Indonesia masak sayur lodeh pada hari Senin. Lalu melalui blog ini, aku mengumumkannya dan pertanyaanku ada berapa orang yang percaya?

Sedikit, kan? Tidak ada sama sekali malah! Ini karena aku, dalam bayangan kalian bukanlah seorang pemuka agama terlepas dari wahyuku itu benar atau tidak benar atau terlepas dari aku ini seorang pemuka agama atau bukan.

Nah, bayangkanlah seorang yang punya niatan ingin melintasi jalan pintas untuk mencapai ketenaran dalam hidup dengan menyaru sebagai tokoh agama lalu untuk kepentingannya pribadi menfatwakan, ?Tuhan semalam bicara pada saya, Ia ingin kita membasmi kaum kafir!?

Berapa orang yang percaya? Kalian para pembaca blog ini tentu tidak akan percaya tapi sayangnya ada begitu banyak orang bodoh di luar sana?

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. Beragama untuk tepa-selira. Saya prihatin yang bergama untuk kekerasan.

    Balas
  2. andai john lenon baca tulisanmu yang ini mas don

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.