Beragama belum tentu percaya

14 Des 2018 | Kabar Baik

Yesus kecewa dengan sikap orang-orang Yahudi di masa itu menanggapi panggilanNya.

Dalam kalimat yang lantas dicatat Matius, Ia berkata begini,

Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. (lih. Matius 11:17)

Yohanes Pembaptis yang menubuatkan kedatanganNya dianggap sebagai orang kerasukan setan. Yesus yang kemudian datang sebagai Anak Allah dan tak mengambil jarak dengan para pendosa malah dianggap sahabat para pendosa.

Kenapa bisa begitu?

Karena mereka kurang percaya! Kekurangpercayaan tumbuh karena orang-orang Yahudi waktu itu tak membuka hati terhadap perubahan. Sikap hati mereka hanya tertuju pada apa yang dikatakan para petinggi agama dan ahli-ahli Hukum Taurat saja. Padahal kalau mau dirunut, hukum-hukum Taurat yang diajarkan itu sumbernya adalah Allah Bapa sendiri yang mengutus AnakNya nan tunggal yang sebentar lagi kita peringati hari lahirNya, Yesus Kristus.

Setiap mendengar kotbah yang terkait dengan bacaan hari ini, anjuran yang disampaikan pengkotbah biasanya adalah ?Janganlah kita bersikap seperti mereka yang tidak percaya!? dan hal itu betul dan sepenuhnya aku setuju.

Akan tetapi menyatakan sikap setuju saja itu tidak cukup! Siapakah yang tidak atau kurang percaya? Beranikah kita menilik ke dalam diri sendiri bahwa terkadang kitapun juga jatuh dalam kekurangpercayaan terhadapNya?

Misalnya ketika kita diajak membayangkan keadaan bangsa dan negara jika tahun depan presidennya diganti. Ada berapa banyak dari kita yang berpikir bahwa seolah-olah kalau Si B atau Si C jadi presiden maka semuanya akan hancur lebur?

Berapa pula dari kita yang berpikir bahwa meski keadaan ekonomi kita baik tapi kerja itu harus sampai berlarut-larut seolah jika tidak maka pundi-pundi uang yang sudah banyak akan cepat menyusut?

Atau berapa banyak dari kita yang memilih menghindar untuk berkawan atau menolong mereka yang ditolak masyarakat hanya karena kita takut ikut dikucilkan dari lingkungan tempat kita tinggal?

Hal-hal seperti itu menurutku adalah pertanda kekurangpercayaan kita pada penyertaan Tuhan dalam hidup.

Lalu bagaimana supaya kita percaya?

Rendah hati dan keterbukaan dalam menanggapi karya Tuhan dalam hidup adalah kuncinya. Karena orang yang sombong akan merasa bahwa dirinya percaya sejuta persen kepada Tuhan hanya karena ia tak pernah absen dari acara-acara ibadah. Orang yang tertutup hatinya akan merasa bahwa Tuhan hanya berkarya lewat apa yang diajarkan kitab dan selebihnya tidak.

Padahal sejatinya tidak demikian.

Acara-acara ibadah yang kita ikuti adalah sarana untuk membuat kita semakin percaya, bukan alat untuk membuat kita otomatis percaya karena sudah mengikutinya!

Kitab yang kita baca dan hayati pun tidak untuk membatasi karya Tuhan. KaryaNya lebih besar dari semua kata serta kalimat yang pernah akan dituliskan manusia! Kitab justru seharusnya menjadi sarana untuk kita semakin membuka mata bahwa Tuhan tetap berkarya dua ribu tahun sesudah Ia naik ke surga, dua ribu tahun sesudah catatan-catatan suci dibuat para pengikutNya. 

Ia berkarya untuk selamanya maka untuk selamanya juga seyogyanya kita pun percaya kepadaNya!

Sydney, 14 Desember 2018

Jangan lupa isi Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan. Klik di sini untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.