Benarkah Yesus datang untuk membawa pertentangan?

25 Okt 2018 | Kabar Baik

Perikop Kabar Baik hari ini amat sering dimanfaatkan pihak non-Kristen untuk mendiskreditkan Yesus sebagai sosok yang tidak membawa kedamaian tapi pertentangan.

Secara tekstual (kata-kata) hal itu memang tak bisa disanggah lagi. Lukas 12:51 menyatakannya demikian,

Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.

Tapi mari merenungi hal ini sebelum kalian ikut menyetujui apa kata mereka.

Yesus datang pada saat Romawi menjajah kaum Yahudi. Pada saat yang bersamaan, kaum Farisi dan ahli Taurat yang juga adalah Yahudi, ikut menindas rakyat dengan modus agama. Rakyat diwajibkan mengikuti aturan Hukum Taurat secara keras sementara mereka sendiri tak melakukannya. Hidup seolah tidak ada harapan selain tertindas, terbelenggu, tertekan.

Pertentangan yang dibawa Yesus adalah pertentangan dalam menyalakan harapan. Masyarakat diajak berani untuk gelisah, untuk mempertentangkan dalam diri bahwa memiliki harapan itu tidak haram! Meski tertindas, harapan muncul melalui karya nyata dan kasih dari sesama!

Demikian juga dengan hidup kita.

Kalau kita mengaku sebagai murid Yesus, kita harus berani membuat pertentangan. Tapi ingat, bukan pertentangan antar-orang melainkan pertentangan dalam diri sendiri.

Lalu apa patokan dari pertentangan supaya kita tak tersesat? Patokannya mudah! Dari pertentangan itu kita diajak memilih yang terbaik berdasarkan seberapa besar/baik sesuatu/seseorang yang kita pilih mampu membuat nama Tuhan makin besar nan mulia, ad maiorem dei gloriam!

Misalnya,

kita punya kebiasaan untuk menabung. Seseorang punya banyak alasan untuk melakukan hal tersebut. Ada yang berpikiran menabung demi membeli mobil baru yang lebih bagus dari sekarang.

Salahkah?

Menabung tentu tidak salah, malah baik adanya. Tapi kalau tujuannya untuk membeli mobil baru yang lebih bagus dari sekarang, pertanyaannya adalah haruskah mobil yang sekarang diganti?

Kalau iya, kenapa harus diganti? Rusak? Biaya memperbaiki yang mahal jadi lebih baik beli? Atau jangan-jangan untuk sekadar menaikkan gengsi?

Duh, kalau benar untuk menaikkan gengsi saja kenapa tak menabung untuk uang muka KPR rumah jadi kamu bisa melamar pacarmu secepatnya lalu menikah? Bukankah menikah lebih baik daripada sekadar menaikkan gengsi karena mobil baru?

Pertentangan juga terjadi misalnya dalam memilih calon presiden dan wakil presiden andalan. ?Ah, kalau aku jelas, Don! Memilih yang membela umat agamaku saja lah! Itu sudah pasti!?

Seorang harus berani mempertentangkan sebelum memastikan, adakah pilihanmu itu memang benar-benar akan membela umat? Bagaimana kamu bisa tahu? Kajian-kajian apa yang sudah dilakukan selain melihat dan menikmati media hoax di internet dan grup WA?

Kalaupun memang benar bahwa ia akan membela umat agamamu bagaimana perlakuan mereka terhadap umat agama lain? Bukankah presiden dan wakil presiden itu untuk negara dan bangsa yang meliputi aneka ragam umat beragama?

Mempertentangkan butuh keberanian itu pasti! Tapi keberanian adalah bara api yang dilemparkan Yesus yang sudah ada dalam sanubari kita sejak kita menerimaNya dalam hidup. Api itu adalah Roh Kudus!

Sydney, 25 Oktober 2018

Jangan lupa isi Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan. Klik di sini untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.