Belum bisa melayani? Setidaknya jadilah umat yang ?swalayan?

26 Feb 2019 | Kabar Baik

Dalam Kabar Baik hari ini, para murid dikisahkan saling bergunjing tentang siapa yang terbesar di antara mereka.

Karena Yesus tahu pergunjingan tersebut, Ia bersabda, ?Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Ia kemudian mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka. Kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka, ?Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.” (lih. Markus 9:35-37)

Jika selama ini kita merenungi Kabar Baik hari ini dengan mengambil sudut pandang sebagai orang yang diajak untuk menjadi ?yang terdahulu? dan jadi ?pelayan dari semuanya?, hari ini aku mengambil sudut pandang yang mula-mula berbeda yaitu dari kita sebagai umat dan para murid kita bayangkan sebagai para imam. 

Bagaimana sih bersikap sebagai umat?

Anak kecil yang kekanak-kanakan

Sebagai umat kita diajak untuk menjadi anak kecil tapi tidak kekanak-kanakan. Umat yang kekanak-kanakan adalah umat yang paham betul bahwa para imam butuh untuk menjadi pelayan sesuai dengan imamatnya tapi justru memanfaatkan hal tersebut semaksimal mungkin untuk kepentingannya sendiri.

Maunya dilayani, dilayani dan dilayani!

Merayakan ulang tahun, panggil imam ke rumah untuk mengadakan perayaan ekaristi disambung dengan pesta besar-besaran. Tersandung masalah di pekerjaan, langsung kirim WA dan curhat pada romo. Bahkan pagi rasanya tak komplit kalau belum ber-say ?Hi? pada Romo via WA atau via apapun dalam keadaan seperti apapun itu!

Kalian mungkin bertanya, ?Memangnya ada yang kayak gitu, Don?? Dan jawabku adalah, ?Ada!?Meski kalau kalian tak percaya itu ada baiknya karena berarti kalian tidak seperti itu.

Umat yang sewajarnya

Menjadi umat layaknya anak kecil tapi tidak kekanak-kanakan adalah menjadi umat yang sewajarnya.

Ulang tahun, tak perlu panggil imam kalau memang tak kenal-kenal amat. Cukup pesta sederhana penuh syukur dan bolehlah kirim ujub syukur misa untuk memohon berkat di tahun dan usia yang baru.

Tersandung masalah pekerjaan, tak perlu kirim WA ke Romo! Bercerita dan berdiskusilah pada keluarga dan berdoa karena Romo tidak tahu segalanya ,Tuhanlah yang tahu apa yang kau butuhkan bahkan yang belum terucap sekalipun!

Kalau sempat untuk say ?Hi? pada Romo setiap pagi ya bagus, tapi kalau tak sempat ya tak masalah selama kita ber-say ?Hi? pada big bossnya Romo, Tuhan Raja Semesta!

Umat swalayan

Romo cukup kita temui saat perayaan ekaristi di Gereja, saat bertemu di persekutuan-persekutuan doa, atau ketika bertemu di jalan, kalau nggak disapa ya yang kebangetan kita!

Menjadi pelayan memang tak mudah dan butuh proses tapi setidaknya jadilah umat yang tak melulu minta dilayani melainkan yang punya semangat ?swalayan?, bisa melayani diri sendiri setidaknya dan jadi pelayan bagi sesama seluas-luasnya.

Sydney, 26 Februari 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.