Ada sebuah pohon di muka kantor yang selama musim dingin kemarin tampak begitu gersang dan kering.
Permukaan kulitnya memucat tak satupun dedaunan yang tersisa di pokok serta cabangnya.
Kupikir ia tengah menanti kematian dan sedang menjalani sakaratul maut yang kelewat panjang.
Tapi tak dinyana, menjelang berakhirnya musim dingin dan datangnya musim semi, pucuk-pucuk daun hijau segar mulai meronakan tubuhnya.
Tak hanya itu, kuncup-kuncup bunga pun semakin menggairahkan tubuhnya untuk selalu dipandang.
Ia memang sedang beradaptasi, coba bacalah kutipan di bawah ini:
In SUMMER, their broad green leaves help capture sunlight needed to make food through photosynthesis.
As temperatures drop, the tree cuts off the supply of water to the leaves and seals off the area between the leaf stem and the tree trunk. With limited sunlight and water, the leaves are unable to continue producing chlorophyll (green pigment in leaves) causing them to change into the beautiful red, yellow and orange leaf colours of FALL.
In WINTER, it is too cold for the trees to protect their leaves from freezing, so they simply loose them and seal up the places where the leaves attach to the branch. Losing their leaves helps trees to conserve water loss through transpiration. (Dried leaves continue to hang on the branches of some deciduous trees until the new leaves come out.)
Before the leaves die, some of the food material they contain is drawn back into the twigs and branches where it is stored and used the following spring.
The warmer temperatures of SPRING signal to the trees that they can grow new leaves again, and restart the cycle.
Diambil dari sini
Hidup baginya adalah proses adaptasi, selalu berubah dan berubah.
Lalu bagaimana dengan manusia?
Meski sama-sama makhluk hidup yang butuh beradaptasi, sebagian dari kita terkadang terlalu gagap dalam menghadapi dan membaca yang namanya “perubahan” serta kurang dapat memahami bahwa hakikat kehidupan pada dasarnya adalah tanggap terhadap perubahan itu sendiri, setiap saat setiap waktu.
Kita sering lupa menyisihkan sebagian dari sukacita dan keberhasilan hari ini untuk esok hari seakan kita yakin bahwa apa yang menjadi kemenangan hari ini adalah kemenangan esok hari…
Sebaliknya, kita terkadang masih menyisakan duka sisa semalam untuk hari yang baru di pagi buta keesokannya…
Sepatutnya kita malu karena tak pernah lebih pintar dari sebatang pohon seperti yang ada di muka kantorku itu tadi.
Pohon tahu kapan saatnya mematahkan dan menggugurkan dedaunan demi menghadapi musim dingin yang miskin mentari tapi kita tak tahu kapan saatnya kita harus berhemat dan berstrategi menghadapi musim-musim di masa yang akan datang yang sayangnya justru lebih tak bisa diprediksi ketimbang sekadar menyebut summer, fall, winter, spring balik ke summer, fall, winter, spring balik ke summer…
Tinggalkan Balasan