Belajar tahu diri dan rendah hati seperti Yohanes Pemandi

16 Des 2018 | Kabar Baik

Begitu banyak orang tertarik pada Yohanes, anak Elizabeth sepupu Maria. Ia membaptis maka ia dijuluki Yohanes Pembaptis. Ia berlaku berbeda dari orang-orang dan para ahli agama di jamannya. Oleh karena itu tak ayal kalau banyak orang mengira dialah mesias yang dijanjikan.

Seperti yang dilukiskan Lukas hari ini, banyak orang bertanya kepadanya tak terkecuali para prajurit (lih. Lukas 3:14) tentang banyak hal. Yohanes merasa bahwa ia , dalam pemikiran banyak orang, mulai dicocok-cocokkan atau digadang-gadang sebagai mesias yang dijanjikan. Ia pun mengambil sikap. Bagi Yohanes, bukan dialah mesias yang dinanti. Begini pernyataannya,

?Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak.? (lih. Lukas 3:16).

Kita pun harusnya bersikap seperti Yohanes. Jika harus menggambarkannya dalam dua hal, Yohanes adalah pribadi yang tahu diri dan rendah hati.

Tahu diri

Yohanes tahu diri dalam arti sebenarnya, tahu diri sendiri. Ia yakin bahwa dirinya bukan mesias maka ketika orang lain bertanya tentang keberadaan diri Yohanes, iapun menjawab bukan!

Sikap tahu diri adalah sikap yang harusnya juga kita miliki. Pernahkah kamu bertemu sosok yang modelnya ?sok tahu??

Orang yang ?sok tahu? adalah orang yang tak tahu diri karena dirinya tak tahu apa-apa tapi mengesankan sebagai orang yang paling pandai sedunia!

Ditanya soal politik, jawabannya bisa sampai ke ujung dunia! 

Ditanya soal ilmu pengetahuan, penjelasannya hingga berbusa-busa!

Berdiskusi agama? Wah pokoknya dia yang paling benar dan yang lain pasti masuk neraka!

Kita patut mengasihahi orang yang sok tahu seperti ini justru karena ketidaktahuannya terhadap diri sendiri. Diri sendiri saja tak ia ketahui apalagi orang lain, kan?

Rendah hati

Yohanes rendah hati karena ia tahu diri. Yohanes adalah manusia biasa yang kepadanya Allah berkenan jadi ia tahu bahwa tanpa kehendakNya, ia bukan siapa-siapa, biasa saja.

Sehebat-hebatnya diri, kita pun harus rendah hati karena sebesar-besarnya talenta dan kesuksesan yang kita punya semua adalah berkat dariNya.

Tentu menjadi pribadi yang rendah hati itu tidaklah mudah meski tak selamanya susah. Salah dua ketidakmudahan dari memiliki sikap rendah hati adalah yang kecil hati dan yang kedua false humiilty. Yuk kita kupas satu per satu.

Kecil hati

Banyak orang mengira rendah hati identik dengan kecil hati, padahal keduanya berbeda jauh. Rendah hati itu seperti Yohanes. Ia menjawab apa yang ia tahu. Hingga di titik dimana ia tak tahu ia akan bilang tidak tahu. 

Kecil hati adalah minder, sikap merasa tak mampu melakukan apapun karena merasa dirinya bukan apa-apa dan siapa-siapa. Padahal mana ada pribadi yang benar-benar tak bisa apa-apa? Semua dari kita diberi talenta dan dengan talenta itu kita bisa menjalankan kehidupan.

Orang-orang yang kecil hati adalah orang yang layak dikasihani. Biasanya (tak semua) sikap kecil hati kadang bermula dari lingkungan yang memang menekannya untuk selalu berpikir bahwa dirinya tak bisa apa-apa.

False Humility

False humility adalah kerendahhatian nan semu/palsu.

Misalnya begini, ada seorang yang berpengalaman dalam hal akuntansi, karirnya luar biasa. Namun suatu waktu saat pertemuan RT, ketika diminta untuk membantu mengatur tata-kelola keuangan RT, ia menolak dengan menjawab, ?Ah jangan saya? saya ini masih ingusan belum berpengalaman??

Orang biasanya akan berkomentar, ?Ah sok merendah! Jangan gitu Mas, kalau Mas menganggap diri ingusan lalu kami ini apa? Mas kan seorag akuntan terkenal di bla bla bla.. kami semua tahu kok.?

Orang tadi cengar-cengir, dalam hatinya begitu bangga karena jebakannya untuk sok merendah berhasil dan ia ditinggikan.

Pernah bersikap seperti itu? Hati-hati lebih baik kalian berubah.St Jose maria Escriva, pendiri Opus Dei yang kesohor itu, dalam sebuah tulisannya berkata bahwa bahwa sok merendahkan diri atau yang biasa disebut sebagai false humility justru pertanda seseorang yang tinggi hati.

Pernah melihat orang bersikap seperti itu? Ketawain aja atau suruh mereka baca tulisanku ini atau untuk selengkapnya tentang false humility bisa dibaca di sini.?

Sydney, 16 Desember 2018

Jangan lupa isi Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan. Klik di sini untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.