Belajar menjadi debu, belajar mengakui diri kurang tahu seperti Nikodemus

10 Apr 2018 | Kabar Baik

Sejak lama ada beberapa kawan bertanya kenapa aku sering menggunakan istilah rendah diri dan bukan rendah hati?

Waktu kutanya apakah hal itu mengganggu? Ada dari mereka menjawab, ?Rendah diri itu seperti merendahkan diri, merasa dirinya kurang??

?Kalau rendah hati??
?Rendah hati itu tidak sombong?? jawabnya.

Tak salah! Memang betul karena menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ?rendah diri? memang berarti ?merasa dirinya kurang? sedangkan ?rendah hati? adalah ?hal (sifat) tidak sombong atau tidak angkuh.? Tapi aku tak peduli, aku memilih untuk memakai keduanya, rendah diri dan semoga rendah hati. Mau tau alasanku?

Yang pertama karena aku memang merasa belum/kurang mengerti banyak hal. Kedua, lebih baik bagiku merasa rendah diri daripada tidak mau mengakui kerendahan diri sendiri. Bukankah ketidakmauan itu adalah wujud dari seseorang yang tidak rendah hati? Nah bingung kan?! Hahaha?

Sama seperti halnya dengan Nikodemus yang sejak kemarin dilukis Yohanes, Ia datang pada malam hari menemui Yesus. Nikodemus seorang Farisi tapi ia berbeda dengan rekan sekaumnya. Orang-orang Farisi terbiasa bersikap congkak dan angkuh karena merasa menggeluti Taurat dan merasa yang paling benar dan paling mengerti atas hukum-hukum leluhur Yahudi itu.

Tapi Nikodemus mau menanggalkan itu semua untuk mendengarkan Yesus. Meletakkan diri sebagai orang yang merasa kurang dan ingin belajar dariNya yang sering yang dipergunjingkan dan diperdebatkan oleh sesamanya.

Dan terbukti Nikodemus memang tak banyak tahu, kan? Ketika Yesus mengangkat soal ?lahir baru? saja ia plonga-plongo. Yohanes mengungkap ?keplonga-plongoan? Nikodemus secara tajam seperti ditulis Yohanes, ?Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?? (Yohanes 3:10).

Kita patut meniru sikap Nikodemus. Karena apalagi di hadapan Tuhan, bukankah Ia itu Maha Besar? Kalau kita merasa sudah mengerti semuanya, seperti yang ditulis St Agustinus, jangan-jangan pengertian kita itu salah? Jangan-jangan ia bukan lagi Allah?

Menjadi Nikodemus juga menjadi sosok yang tak berhenti untuk mengembangkan diri dan mau belajar. Aku tak bisa menemukan padanan yang tepat untuk tokoh seperti Nikodemus di zaman now, tapi entah kenapa aku tiba-tiba teringat alm. Steve Jobs.

Pendiri Apple Inc. yang banyak melahirkan produk-produk revolusioner digital itu sekali waktu pernah mengungkapkan kunci keberhasilannya yaitu perasaan untuk merasa bodoh dan ?lapar? (Stay foolish, stay hungry). Steve Jobs merasa harus selalu belajar karena ia merasa tak tahu banyak hal dan justru itu yang membuat Apple Inc. berkembang pesat.

Perasaan rendah diri yang ?kuterjemahkan? sebagai ?stay foolsih, stay hungry? juga menjadi amat berguna ketika kita menghadapi kegagalan atau kekurangberhasilan satu hal.

Orang yang tak memiliki kesadaran bahwa dirinya ?tak tahu apa-apa? akan sulit menerima kegagalan. Sementara itu, orang yang ?rendah diri? akan memiliki sikap mental lebih baik karena ketidakberhasilan justru adalah tanda positif bahwa kita masih harus belajar untuk menjadi lebih tahu dan mengerjakan banyak hal.

Jadi, kenapa mesti malu merendahkan diri apalagi dihadapan Tuhan?

?Nggak malu sih, Don? tapi kalau pakai istilah ?rendah diri? kesannya kita ini rendahan banget??

?Walah? lha di mata Tuhan apa kita ini besar dan tinggi?? tanyaku.

?Kita ini kan Anak Tuhan, Don! Kita ini diangkat dari hamba? jadi jangan pakai mental hamba??

Halah, mbuh lah sak karepmu!
Mau mental hamba, mental anak maupun mentallica pokoknya aku lebih suka menempatkan diri sebagai orang yang ?stay foolish, stay hungry? terlebih ketika berhadapan dengan Yang Maha Besar. Seperti dikatakan Yesus dalam akhir Kabar Baik hari ini, Anak Manusia (diriNya sendiri) harus ditinggikan supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup kekal (Yohanes 3:14-15). Nah kalau kita ini nggak mengaku diri rendah, bisa setinggi apa kita melambungkanNya?

Sydney, 10 April 2018

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. aku pilih mentalica aja dah…haaa..

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.