Belajar mengasihi Tuhan dari pengalaman LDR-an

29 Mar 2019 | Kabar Baik

Ada tiga sosok yang wajib kita cintai sesuai Hukum Kasih dalam Kabar Baik hari ini, Tuhan, sesama dan diri kita sendiri.

Yang paling mudah adalah diri kita sendiri. Yang lebih sulit itu mengasihi sesama karena kadang kita terlalu asyik mengasihi diri sendiri. Yang paling sulit? Mengasihi Tuhan! Kenapa? Karena Ia tak kasat mata, tak satupun dari kita yang hidup pernah bertemu denganNya.

LDR, Long Distance Relationship

Aku jadi teringat cerita seseorang. Ia pernah menjalani pacaran hubungan jarak jauh (LDR – long distance relationship) selama delapan tahun sebelum akhirnya ia menikahi pacarnya itu.

Untuk berkomunikasi, waktu itu sekitar akhir dekade 90an dan pertengahan 2000an, koneksi internet belum semudah dan semurah sekarang untuk mendapatkannya. ?Boro-boro video call, buat chatting di messenger aja koneksi kadang lemot, Don!? ujarnya menerawang.

Tapi kawanku punya cara unik untuk tetap ?menjaga sebentuk cinta putih? nya itu!

Rasa cinta dan atmosfir pacaran

?Pertama, aku yakin aja kalau pacarku juga tetap mencintaiku hahaha!? 

Selanjutnya kawanku lantas menceritakan bahwa ia juga rajin mengunjungi rumah pacarnya yang ada di kota yang sama dengannya. Bersilaturahmi dengan calon mertua, berkawan dengan kakak-adiknya yang sekarang jadi kakak dan adik iparnya itu.

Ia melakukannya terutama untuk tetap menjaga ?rasa cinta? dan berada dalam ?atmosfir pacaran? meski mereka sedang berjauhan. ?Sehingga ketika ketemu saat ia liburan, kita nggak saling kaku karena setiap hari selain tetap berkomunikasi, aku juga akrab dengan keluarganya yang kini jadi keluargaku juga!?

LDR tentu tak sama dengan bagaimana kita mencintai Tuhan. Tapi ada sisi-sisi yang sama yang bisa kita praktekkan.

Yang pasti tak mudah. Barangkali karena ketidakmudahannya itu pula maka Yesus mengajarkan bahwa untuk mengasihiNya, kita harus menggunakan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatanmu.

Doa dan ibadah

Berkomunikasi adalah syarat utama dan doa adalah cara terbaik untuk itu seperti halnya kawanku yang menggunakan messenger di internet untuk ngobrol dengan pacar jarak jauhnya.

Kita juga diajak untuk menjaga ?rasa cinta? dan tetap berada dalam ?atmosfir hubungan kasih? dengan Tuhan melalui ibadah yang kita lakukan di rumahNya yang ada di bumi, Gereja. Bercengkrama dengan saudara-saudari seiman juga baik diadakan dalam acara-acara bina iman.

Peduli pada sesama yang hina

Namun yang lebih penting, kita juga diajak untuk peduli dan melakukan yang terbaik pada yang hina nan terpinggirkan. Hal ini seperti diungkapkan Yesus dalam Matius 25:31-46. Mereka yang kelaparan, mari diberi makan. Mereka yang kehausan, diberi minuman. Yang terasing? Kita tawari tumpangan. Yang telanjang, kita beri pakaian. Yang sakit? Kita jenguk dan doakan! Yang dipenjara? Sama dengan yang sakit, kita datangi, hibur serta doakan.

Kedekatan dengan mereka dan usaha terbaik kita untuk menolong adalah usaha terbaik juga dari kita untukNya. Kenapa? Karena yang kita lakukan kepada mereka adalah yang kita lakukan untuk Tuhan.

Terus-menerus berusaha melakukan hal-hal di atas sehingga nanti ketika pada akhirnya kita bertemu denganNya dan Ia bertanya, ?Sudahkah engkau mencintaiKu selama hidupmu di dunia??

Dengan mantap kita bisa menjawab, ?Ya Tuhan, aku sudah dan akan terus mengasihiMu dengan segenap jiwa, hati, akal budi dan kekuatanku. Sepuluh ribu tahun dan untuk selama-lamanya?.?

Sydney, 29 Maret 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.