Belajar menerima teguran

15 Agu 2019 | Kabar Baik

Dalam Kabar Baik hari ini, Yesus bicara tentang bagaimana hal menegur sesama ketika seseorang berbuat dosa. ?? tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.??(lih. Mat 18:15). Meski Yesus bicara tentang bagaimana menegur, tapi renungan Kabar Baik hari ini ingin kuposisikan dalam sudut yang berkebalikan, belajar menerima teguran. Bagaimana ketika kita ditegur seseorang karena menurutnya kita berbuat salah?

Belajar menerima teguran

Nyamankah kita menerimanya senyaman kita saat menegur seseorang?

Dulu aku paling benci ditegur dan dinasihati.

Aku selalu berpikir bahwa diri ini lahir sebagai sosok cerdas dengan banyak talenta yang diberikan oleh Tuhan. Di awal usia 20 tahunan, bersama kawan-kawan, aku sudah sukses mendirikan dan membesarkan perusahaan di Jogja tanpa bantuan finansial dari orang tua.?

Aku juga aktif dalam pelayanan persekutuan doa serta organisasi non-rohani lainnya. Tingkatnya pun tidak ?main-main? aku pernah menduduki sebuah jabatan yang cukup ?berkelas? dalam sebuah struktur pelayanan rohani kepemudaan katolik di tingkat nasional.

Namun semua itu seolah jadi tak berarti ketika aku sampai pada salah satu keputusan terbesar yang kubuat dengan sadar: bermigrasi ke Australia. Pindah ke tanah baru, memulai segalanya dari nol, meninggalkan semua ?kejayaan? dan berinteraksi dengan orang serta budaya baru, aku belajar pentingnya mendengar daripada didengar.

Belajar mendengar

Awalnya tentu amat berat. 

Hati ini berontak setiap kali ada orang lain yang menasihati/menegorku. Awalnya, meski terdengar tapi mereka tak kudengar sama sekali. Tapi semua kupaksakan. Ibarat minum jamu, aku tak peduli rasa pahitnya yang penting masuk ke tubuh dulu. Dan itu adalah langkah pertama dalam kita belajar menerima teguran.

Belajar memikirkan

Langkah kedua adalah dengan mulai membuka pikiran serta mempertimbangkan apa yang dinasihatkan orang. Ketika aku sudah terbiasa untuk mendengar, aku belajar untuk memikirkan. Bagian ini lebih berat lagi karena ada begitu banyak hal yang kudengar itu bertentangan dengan batin dan pemikiran.

?Kok gini??

?Aku nggak pernah melakukan itu tapi kenapa ia bilang begitu?!?

?Ini salah! Aku yang benar!?

Dan masih banyak lagi?

Meski tak semuanya kusetujui sejak dalam pikiran, tapi ketika aku sudah mendengar dan memikirkan nasihat/teguran bagiku itu sudah sebuah pencapaian yang lumayan dalam belajar menerima teguran.

Belajar menerima teguran: belajar setuju (dan tidak setuju)

Langkah ketiga adalah menyetujuinya.

Ini adalah yang terberat. Setelah mendengar dan memikirkan, menyetujui nasihat/teguran orang lain adalah hal yang sama sekali tidak mudah. Setuju berarti menganggap diri ini salah atau setidaknya kurang sempurna. Butuh kerendahan hati yang luar biasa untuk akhirnya aku bisa mulai sadar bahwa aku tak selamanya benar. 

Tapi di satu sisi, hal yang tak kalah sulitnya sebenarnya adalah bersikap tidak setuju terhadap nasihat atau teguran yang kita terima. Karena meski kita ini tak selamanya benar, tapi orang lain terkadang juga punya peluang yang salah dalam menilai kita.

Nah, kalau sampai perkara ini, persoalan yang kita hadapi lain lagi. Nanti kapan-kapan kutulis di sini?

Sydney, 15 Agustus 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.