Belajar menerima kekalahan dari Yesus

19 Apr 2019 | Kabar Baik

Pelajaran yang paling berharga yang kudapat dari perayaan Jumat Agung tahun ini adalah bagaimana kita diajak untuk menerima kekalahan secara lapang dada.

Dalam salah satu fragmen pasio/ kisah sengsara Yesus dibacakan dalam perayaan Jumat Agung tadi, Pontius Pilatus meminta rakyat Yahudi untuk memilih siapa yang lebih layak dibebaskan dari hukuman, Yesus atau Barabas. Barabas adalah penjahat besar. Orang-orang Yahudi memilih Barabas-lah yang dibebaskan. Dengan demikian Yesus yang kepadaNya Pilatus tak bisa menemukan satupun kesalahan, diharuskan menjalani hukuman salib.

Aku teringat pelaksanaan Pilpres yang baru dilaksanakan dan kita ikuti hari Rabu lalu. Ada kisah menarik yang tersisa dimana ada sosok yang seolah tak siap jika harus dinyatakan sebagai yang kalah dalam pemilihan.?

Ia berusaha meyakinkan khalayak bahwa dialah yang jadi pemenang dan untuk itu, deklarasi kemenangan diadakan berulang-ulang kali.

Tak siap kalah?

Memiliki sikap yang tak siap untuk menelan kekalahan adalah salah satu hal yang paling membahayakan yang menurutku tak boleh ada dalam diri kita. Kenapa? Hidup ini rawan kekalahan dan suatu saat nanti pun kita akan tumbang. Tak menerima kekalahan adalah tak menerima kepenuhan jalan hidup kita sendiri.

Sebagai orang Katolik, kita bersyukur karena memiliki Yesus yang menjadi contoh terbaik bagaimana bersikap ikhlas dan lapang dada menerima kekalahan.

Diam bukan karena tak bisa melawan

Yesus sejak awal tahu bahwa Ia harus menanggung sengsara untuk penyelamatan umat manusia.  Untuk itu, jangankan kalah voting terhadap Barabas, bahkan ketika Ia dipukuli, dihina, dicampakkan dan disalib, Ia tak membalasnya.

Ia diam bukan karena tak bisa melawan keputusan orang-orang Yahudi. Ia diam karena jika melawan, yang terjadi kemudian bukan lagi kehendak Bapa melainkan kehendakNya sendiri. Dan oleh karena cintaNya kepada Bapa, Yesus tak kan pernah mengijinkan hal-hal seperti itu terjadi dalam hidupNya!

Belajar menyelami kekalahan

Belajar pada kesetiaan Yesus hari ini adalah juga belajar memahami dan menyelami kekalahan sebagai satu hal yang harus dihadapi.  Tentu tak mudah, terkadang ketika kita dirundung masalah dan mengalami masa-masa kesesakan, seolah kita hilang arah tanpa harapan. 

Namun sebagaimana Yesus yang percaya kepada rencana BapaNya, demikianlah pula kita diajak untuk mengembangkan sikap percaya. Bahwa dibalik kekalahan dan kesesakan yang mungkin sedang kita alami, di ujung sana, kemenangan dan kebahagiaan yang hakiki sudah menanti.

Oleh bilur-bilurNya, kita disembuhkan.

Oleh kesengsaraanNya, kita dipermuliakan.

Oleh kematianNya, kita dihidupkan.

Sydney, 19 April 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.