Belajar lima hal yang selama menjadi Ketua Pemilihan Presiden Paguyuban Alumni De Britto 2019

16 Agu 2019 | Cetusan

Pengumuman presiden terpilih dalam Pemilihan Presiden Paguyuban Ikatan Alumni SMA Kolese De Britto 2019 tadi siang menandai selesainya tugasku sebagai ketua panitia pemilihan. Meski memang pembubaran dan pengembalian mandat baru akan kulaksanakan hari Sabtu, 24 Agustus 2019 mendatang tapi secara prinsipil, pekerjaan inti sudah kuselesaikan. Di situ aku belajar banyak hal.

Usai sudah rangkaian persiapan sejak kurang lebih dua bulan setengah silam yang hingar-bingar itu. Letih? Jelas! Perasan pun kadang campur-aduk. Tapi aku selalu berpikir ketika satu hal diijinkan terjadi oleh Tuhan atasku maka disitu Ia memberiku kesempatan untuk memetik pelajaran untuk hidup selanjutnya.

Dan berikut adalah poin-poin yang kupelajari selama ini.

#1 Belajar sabar

Aslinya aku bukan seorang penyabar. Tapi menghadapi alumni De Britto yang jumlahnya lebih kurang 14000 kemarin membuatku belajar makna ?harus sabar?. Apalagi secara umum alumni De Britto dikenal sebagai sosok yang kritis. Kami dididik untuk bebas menyampaikan pendapat secara bebas.  Yang mengkritisi ada begitu banyak mulai dari yang sepele yang dipertanyakan hingga yang sejatinya krusial dan prinsipil.

Lalu bagaimana aku bisa belajar sabar? Ada taktiknya, baca di poin selanjutnya.

#2 Memilih isu yang perlu ditanggapi

Kalau mau dituruti, kerja sebagai ketua panitia kemarin tentu tak kan tuntas kalau harus menjawab semua pertanyaan dan pendapat serta isu yang beredar.

Maka aku memilih isu, mana yang perlu ditanggapi, mana yang tidak. Mana yang harus diselesaikan saat itu juga, mana yang bisa kuulur-ulur panjang.

Misalnya isu data security. Ada pertanyaan dari seseorang yang menanyakan apakah kami aware terhadap isu data security.

Bagiku itu adalah hal yang tricky. Kalau tak kujawab, kredibilitas tim yang kupimpin bisa turun. Tapi kalau kujawab saat itu juga, justru ketika kita bicara data security dan terpancing mengungkapkan detail, takutnya akan ada pihak yang memanfaatkan penjelasanku untuk mencari celah keamanannya.

Maka aku memilih untuk tak menanggapi isu itu hingga masa pengumpulan data pemilih selesai dan kujawab secara gamblang.

Peran juru bicara amat membantu dalamku memilih isu. Ada hal-hal yang aku minta juru bicara menyampaikan ke media tapi ada juga yang kuambil alih sendiri. Ketika isu disampaikan oleh juru bicara, otomatis dia juga yang menjawab pertanyaan-pertanyaan, kritik serta saran dari alumni. 

Sementara aku bisa fokus untuk mengerjakan hal-hal lainnya.

#3 Belajar mengelola konflik

Konflik ada untuk mendewasakan kita. Jadi ketika ada konflik, aku tak menghindarinya. Aku hadapi dan kelola sebaik-baiknya.

Dalam melaksanakan tugas sebagai ketua panitia kemarin, yang namanya konflik datang kadang tak kenal waktu.

Misalnya ketika aku harus mengubah tanggal pemilihan putaran pertama yang semula tanggal 4 Agustus 2019 kuubah jadi tanggal 3-5 Agustus 2019. 

Banyak yang keberatan dengan sikapku itu. Tak hanya dari luar bahkan dari dalam KPU sendiri, mereka sempat menyayangkan keputusan yang menurut mereka ?otoriter? itu. Bahkan, ssstttt ada lho yang protes keras dan merasa dirugikan dengan hal itu.

Aku tak melawan frontal meski sempat terpancing untuk melakukannya. Aku menggunakan alasan bahwa perpanjangan waktu pemilihan adalah demi supaya para alumni punya keleluasaan waktu untuk memilih. 

Dengan berteguh pada hal itu, ketika ada yang menyudutkanku, jawaban yang kupakai adalah, ?Nggak masalah kamu menganggap aku otoriter tapi aku membela para alumni. Ini acara mereka dan mereka berhak memilih dengan nyaman!?

Ketika pada akhirnya tanggal 4 Agustus 2019 terjadi blackout di Jakarta dan sekitarnya selama hampir sehari lebih, ada anggota tim yang mengapresiasi langkahku, ?Wah, ada benarnya juga kamu mengubah tanggal karena kalau cuma sehari, yang milih pasti dikit sekali karena orang-orang di Jakarta gak bisa nyoblos karena blackout!?

Aku tersenyum. Tak hanya itu, Bro! Andai saja waktu itu kubikin sehari, hasil pemilihan bisa jadi tak seperti sekarang :)

#4 Implementasi service design

Sebagai seorang yang berprofesi sebagai experience design consultant, ajang pemilihan presiden ini kupakai untuk mempertebal portfolioku dalam hal implementasi service design. 

Aku beruntung karena belum ada aturan baku tentang pemilihan maka design, landasan dan tata aturannya kubikin sendiri. Mulai dari bagaimana mendesign sistem pendaftaran capres, pendaftaran pemilih, kampanye, pemilihan hingga pengumuman pemenang.

Aku menggunakan beberapa metodologi yang selama ini sering kupakai dalam bekerja seperti misalnya persona development, untuk menggambarkan seperti apa karakter pemilih secara garis besar.  Dari penggunaan persona hack yang matang, aku bisa memetakan bagaimana rerata emosi para alumni. Hal ini membuatku bisa mendukung pengelolaan konflik yang kusebut di atas. 

Ada juga tentang user journey map dari Pilpres 2015 silam dimana aku juga jadi anggota KPU waktu itu. Dari situ aku mendapat beberapa ?opportunities? dan catatan-catatan yang lantas kujadikan sebagai dasar membangun sistem yang kemarin kuimplementasikan.

#5 Belajar mengenal pribadi orang-orang yang sebenarnya

Pilpres kemarin secara tak langsung menjadi ajang bagiku untuk mengenal karakter banyak orang. Interaksiku selama ini dengan mereka ada di level yang nyaman maka ketika kita sampai pada interaksi yang tak nyaman, adakah semuanya tetap sama?

Ternyata tidak!

Ada beberapa tabiat dari beberapa orang yang mengejutkanku yang lantas membuatku menggumam, ?Oh, ternyata begini toh watak asli orangnya??

Kaget? Iya!
Mengecewakan? Aku tidak pernah berharap terlalu banyak pada sesama manusia :)

Yang pasti aku bersyukur.

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. mantap pak ketua KPU..
    salut utk kerja kerasnya menyelenggarakan pemilu alumni yg dahsyat.

    Balas
  2. Semua pasti ada hikmah / pelajarannya. Tergantung kita : peka atau tidak, mau merefleksi atau tidak. Beruntunglah mas DV peka dan mau, maka hasilnya : naik kelas. Bravo, terima kasih, Berkah Dalem

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.