Belajar dari Thomas, haruskah kita mudah percaya?

3 Jul 2019 | Kabar Baik

Hari ini Gereja Katolik di seluruh dunia merayakan Pesta Nama St. Thomas (Rasul). Kisah paling kita kenal dari orang yang biasa dipanggil Didimus ini adalah ketidakpercayaannya terhadap Yesus yang bangkit dari mati. Thomas tidak percaya karena ketika Yesus mendatangi rumah para murid, ia tidak ada di situ.? (lih. Yoh 20:24)

Ketidakpercayaan Thomas

Ucapannya yang terkenal terkait ketidakpercayaannya itu adalah seperti yang ditulis kawannya, Yohanes, sebagai berikut:

“Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” (lih. Yohanes 20:25)

Delapan hari kemudian, ketika mendatangi para murid, Yesus meluluskan permintaan Thomas. Ia mendatangi dan berkata, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” (lih. Yohanes 20:27)

Sejak itu Thomas percaya.

Haruskah kita mudah percaya?

Merenungi Kabar Baik hari ini, aku mendapatkan sudut pandang yang baru tentang kejadian ini yang hendak kubagikan hari ini.

Bagiku, Thomas bukanlah contoh buruk karena tidak mudah percaya. Andakan ia ada bersama kawan-kawan lainnya saat Yesus datang, barangkali Thomas juga sudah percaya. Sebaliknya, kalau ada salah satu murid yang tidak melihat Yesus waktu itu, adakah ia tetap percaya atau jangan-jangan seperti Thomas yang tidak percaya? Kan belum tentu juga?

Ia kemudian percaya setelah ia membuktikan. Sikap hidup seperti ini bagiku amat diperlukan untuk dijadikan contoh di jaman yang sudah begitu modern ini.

Di jaman ini, dimana informasi bisa diakses dengan begitu mudahnya, kebenaran kabar menjadi sesuatu yang mahal! Begitu banyak kabar kabur alias hoax yang berkeliaran di sekitar kita.

Kabar tentang pemimpin yang lalim yang belum jelas juntrungannya namun sudah disebarluaskan orang karena dibikin oleh lawan politik. Kabar tentang sebuah kaum yang konon hendak melakukan revolusi negara. Bahkan kabar tentang akan datangnya bencana gempa bumi terkadang membuat kita panik dan jatuh percaya padahal hingga saat ini gempa bumi itu bukan sesuatu yang bisa diprediksi akan tepatnya akan datang menggoyang.

Sikap seperti Thomas untuk mencerna kabar-kabar seperti itu amat dibutuhkan. Dalam prakteknya kita bisa melakukan pembuktian melalui mencari informasi lain sebagai perbandingan, mempelajari secara sungguh-sungguh kemudian berkeputusan apakah berita yang kita dengar itu benar atau tidak. Hoax atau tidak.

Bukannya gak mau percaya, tapi kita harus berhati-hati sebelum akhirnya kita percaya. Karena jangan sampai karena kita terlalu mudah percaya maka kita lantas terpedaya.

Bersyukurlah Thomas!

St Thomas
St Thomas

Kembali ke perikop Kabar Baik hari ini, sayangnya Yohanes tak menuliskan bagaimana reaksi emosi Yesus waktu bertemu Thomas. Apakah Ia marah karena muridNya itu tak percaya? Atau jangan-jangan Ia malah berbahagia karena orang yang semula tak percaya itu bisa ditemui dan dibuatNya percaya?

Hari ini aku lebih memilih kemungkinan yang kedua.

Aku yakin Yesus tak marah. KemauanNya untuk hadir di tengah para murid untuk mempersilakan Thomas mencucukkan jari tangannya ke bekas luka dan lambungNya yang tertusuk adalah tanda Ia memang berkehendak demikian!

Maka amat bersyukurlah Thomas!

Ia tidak percaya tapi ia diberi kesempatan untuk percaya. Kesempatan yang amat langka yang tak didapat para murid lainnya; mencucukkan jari ke bekas luka dan lambungNya. Di titik ini aku jadi ingat apa yang dinubuatkan Yesaya tentang Yesus bahwa oleh luka-lukaNya kita disembuhkan (lih. Yesaya 53:5)

Artinya, Thomas diajak masuk langsung menyentuh luka yang menyembuhkan rasa ketidakpercayaannya itu!

Maka tak heran kalau ia akhirnya dipakai Tuhan secara luar biasa. Pergi meninggalkan Yerusalem, berpetualang jauh ke timur, ke India untuk mengabarkan Kabar Baik Tuhan, mengajak orang-orang menyentuh lukaNya dan membuat mereka percaya!?

Bahkan menurut Kurt E. Koch dalam bukunya The Revival in Indonesia (KRegel Publication, 1972) ada kemungkinan waktu itu Thomas pergi ke Indonesia bersama para saudagar India sebelum akhirnya mati sebagai martir di India.

Santo Thomas, doakanlah kami yang belum percaya?

Sydney, 3 Juli 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.