Belajar dari Petrus mengenali dan mengelola saat-saat tergelap dalam hidup

16 Apr 2019 | Kabar Baik

Jika kemarin kita diajak ?melihat? Yudas, hari ini Kabar Baik mengetengahkan Petrus. Petrus, adalah murid utamaNya. Pada perjamuan terakhir sebelum sengsara Tuhan, ia menyatakan janji setia, ?Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!? Begitu katanya seperti ditulis Yohanes yang jadi saksi mata dan hadir dalam peristiwa itu.

Namun apa kata Yesus menanggapi hal itu?

“Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” (lih. Yoh 13:38)

Dan kenyataannya memang demikian. Beberapa jam sesudah perjamuan akhir, di depan rumah Imam Besar dan tak jauh dari tempat Yesus berdiri, Petrus menyangkal bahwa dirinya tahu dan kenal dengan Yesus.

Aku tertarik memperhatikan situasi dan kondisi dimana Petrus menyatakan dua hal tersebut di atas.

Saat tergelap

Dalam suasana perjamuan terakhir yang kubayangkan pasti emosional karena Yesus tahu waktunya sudah dekat terlebih Yudas pun pergi untuk mengkhianati, Petrus menyatakan janjinya untuk setia dan memberikan nyawa bagiNya. 

Sementara itu, situasi saat Petrus menyangkal adalah berbeda sama sekali. Waktu itu dinihari, orang-orang berkerumun di rumah Imam Besar menghakimi Yesus. Jika Petrus mengaku saat ditanya bahwa dirinya adalah bagian dari pemuridan Yesus, sudah barang tentu ia akan diringkus juga!

Mari perhatikan saat kejadian penyangkalan itu terjadi yaitu dinihari, sesaat sebelum ayam jantan berkokok. Tahukah kalian, saat-saat sebelum fajar adalah saat-saat paling gelap dan paling dingin dari semua saat dalam satu hari?

Keadaan ini seolah mengisyaratkan bahwa Petrus jatuh ketika ia berada di titik yang paling gelap dan paling dingin yang menghinggapinya!

Dulu sekali saat masih tinggal di Indonesia, aku pernah merasa gagal untuk ikut Tuhan pada suatu pagi tak lama setelah ikut perayaan ekaristi. Gara-garanya sederhana. Saat sedang mengambil motor dari lahan parkir di depan gereja tiba-tiba dari arah belakang, seorang yang juga sedang mengambil motor, menabrakkan motornya ke arah motorku.

Bruk! Aku kaget.
Tapi karena baru balik dari Gereja ya udah deh kumaafkan. Eh tapi tak lama kemudian, justru orang itu yang nyolot kepadaku, ?Ati-ati, Mas! Lain kali kalau mau narik motor liat-liat belakang!?

Darahku mendidih!
Apa-apaan ini?!
Jelas yang salah adalah dia tapi kenapa aku yang dipersalahkan? Aku mencabut kata-kataku, kuletakkan sepeda motor dan kudatangi dia untuk kutantang berkelahi.

Mengenali saat tergelap kita masing-masing

Hilang sudah ingatanku bahwa tak sampai tiga puluh menit sebelumnya aku mendaraskan doa, ?Dan ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami?.? 

Aku jatuh dalam pengingkaran doa dan janji pada saat titik tergelap mendatangiku. Apakah titik tergelap itu? Saat aku dipersalahkan padahal aku tahu tak bersalah dan bahkan telah berusaha memaafkannya. Kapan terjadinya? Tak sebegitu lama setelah aku berdoa untuk memaafkan salah sesamaku sendiri!

Kawan, masing-masing dari kita memiliki titik terlemah, titik tergelap yang kadang ketika tak mampu mengelola perasaan saat melewatinya, kita akan jatuh seperti Petrus, sepertiku.

Kesempatan untuk memperbaiki

Wajar? Manusiawi!
Tapi ketika terjatuh, kembalilah tegak, mengakui salah di hadapan Tuhan supaya Ia memberi kita kesempatan lagi untuk memperbaikinya seberat dan sesulit apapun itu karena dulu Petrus pun melakukannya. Ia kembali ke kawanan murid dan memimpin umat untuk membuktikan janji mencintai dan memberikan nyawanya bagi Kemuliaan Tuhan!

Sydney, 16 April 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.