Belajar dari Barnabas, belajar untuk berani berselisih?

12 Jun 2018 | Kabar Baik

Hari ini Gereja Katolik memperingati peringatan wajib Santo Barnabas. Barnabas bukanlah Barabas. Barabas itu penjahat yang dibebaskan Pilatus di hari penyaliban Yesus sementara Barnabas adalah murid Tuhan yang kemudian diberi gelar Rasul karena setianya.

Barnabas hadir setelah Yesus naik ke surga. Nama aslinya Yosef tapi kemudian para murid menggantinya jadi Barnabas yang berarti Putera Penghiburan.

Lukas dalam Kisah Para Rasul menulis deskripsi singkat tentang Barnabas sebagai ??orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman? (lih. Kis 11:24).?Apa yang bisa kita pelajari dari sosok Barnabas?

Setiap orang berhak untuk bertobat dan berubah jadi baik

Barnabas menghargai pertobatan sesamanya. Ia juga percaya pada perubahan baik.

Barnabas adalah orang yang memberitahu para murid tentang pertobatan Saulus yang lantas berganti nama jadi Paulus. Saulus sebelumnya adalah bagian dari rejim Romawi yang berkuasa di Israel dan ditugaskan untuk mengejar para pengikut Kristus. Ia dikenal keji dan bahkan saat Stefanus, martir pertama, dibunuh dengan cara dirajam, Saulus ada di sana menyaksikan.

Tentu tak mudah bagi para murid untuk begitu saja percaya tapi Barnabas meyakinkan.

Hal ini menjadi cerminan bagi kita, bagaimana menghargai pertobatan sesama? Bisakah kita menaruh rasa percaya pada mereka yang bertobat atau sebaliknya?

Berani berselisih

Barnabas juga adalah orang yang berani untuk berselisih.

Jadi ceritanya, setelah mengikuti Konsili Yerusalem (50 masehi), Barnabas dan Paulus berencana untuk mendatangi tempat-tempat yang belum terjamah kuasa Kristus. Barnabas mengusulkan untuk mengajak Markus, keponakannya.

Ide itu ditolak Paulus karena menurutnya, Markus pernah menyatakan keluar dari pelayanan dan kembali ke Yerusalem untuk melanjutkan ?hidup lama? nya. Barnabas yang di poin pertama kita tahu adalah orang yang menghargai pertobatan dan percaya bahwa seorang bisa berubah jadi baik terus berusaha mempertahankan Markus.

hal ini membuat ia lantas berselisih dengan Paulus!

Tak semua dari kita berani berselisih. Bahkan ada yang saking takutnya menuduh setiap orang yang berselisih sebagai orang yang dirasuki roh perpecahan.

Benarkah demikian?
Belum tentu! Perselisihan, selama dikhususkan pada tataran pendapat untuk kebaikan adalah hal yang justru menurutku tak boleh dihindari.

copyright: Catholic Culture

St. Barnabas. Copyright: Catholic Culture

Bagiku Barnabas adalah contoh bagaimana seseorang harusnya berani untuk berselisih paham. Bayangkan jika Barnabas memilih untuk menuruti apa yang dikatakan Paulus dengan tidak menerima Markus. Barangkali Markus tidak dianggap sebagai penulis Injil dan ia benar-benar keluar dari pelayanan dan kembali pada kehidupan lamanya.

Memang tak jarang perselisihan jadi berkepanjangan dan merebak pada hal-hal diluar yang disepakati untuk diperselisihkan (pendapat). Hal-hal seperti itu marak terjadi dengan misalnya menyerang pada urusan pribadi lawan atau menghasut apalagi meluncurkan hoax hanya demi supaya pendapatnya dimenangkan.

Nah, kalau sudah sampai di titik ini bolehlah kita mengemukakan untuk berhenti berselisih karena sudah mengancam persatuan! Tapi selama yang diperselisihkan adalah pendapat untuk kebaikan, bukankah akhirnya justru kebaikan itu sendiri yang dimenangkan?

Sydney, 11 Juni 2018

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Terima kasih atas tulisannya. Jadi masukkan yg bagus untuk bahan renungan bulan kitab suci. He… Tuhan Yesus memberkati ??

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.