Belajar berpengharapan yang benar dari kisah memilukan orang-orang Yerusalem

5 Apr 2020 | Kabar Baik

Tadi pagi aku terbangun gara-gara Joyce, istriku, memutar lagu ?Yerusalem, lihatlah Rajamu!? keras-keras dari mobile phone-nya!

?Hon, mau ikut misa online jam berapa? Minggu ini Minggu Palma!? begitu tanyanya. Dan lantunan lagu yang biasanya membawa derap semangat di dalam hati, pagi tadi berlaku sebaliknya, ia jadi seperti mesin pemeras, memeras-meras perasaan ibaku! Iba karena tak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini karena pandemik COVID-19, aku dan kebanyakan dari kalian harus terkurung di rumah tak bisa ikut perayaan di Gereja.

Minggu Palma

Apa yang menarik dari Minggu Palma? Yesus masuk ke Yerusalem dari gerbang layaknya seorang raja. Membayangkan diri sebagai orang Yerusalem waktu itu, aku barangkali juga akan turun ke jalan, membawa palma di tangan dan merelakan jubahku untuk dilalui Yesus masuk ke kota dengan naik keledai sambil berseru, ?Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!” (lih. Mat 21:9)

Tiga tahun setengah lamanya, sebagai penduduk, aku sudah mendengar kiprah Yesus! Orang sakit disembuhkan! Orang lumpuh dibuatNya bisa berjalan! Orang buta dicelikkan! Bahkan orang mati pun dibangkitkan kembali! Harapanku tentu besar, Yesus, Anak Daud itu, adalah raja! Ia akan menggulingkan penjajahan Romawi yang kejam! Ia akan berkuasa atas negeri Israel dan rakyat akan adil, sentosa dan sejahtera!

Tapi?. apa yang terjadi kemudian?
Lima hari sesudah dielu-elukan, Yesus malah ditangkap! Ia disakiti dan disalib hingga mati! Dimana letak kesaktianNya? Dimana kekuatan ilahiNya? Kenapa tidak melawan? Kenapa bisa mati? Katanya Raja?

Harapan yang salah dari orang-orang Yerusalem

Minggu Palma adalah perayaan sukacita Yesus masuk ke Yerusalem. Tapi di sisi lain, aku menangkapnya sebagai peristiwa yang memilukan karena harapan penduduk Yerusalem tak sesuai dengan kehendakNya! Yang ada di benak orang-orang Yerusalem adalah Yesus menjadi Raja Israel tapi di benak Tuhan, Ia tak mau berpikir sesempit itu! Ia bukan hanya Raja Israel! Ia Raja Semesta! Raja Surgawi yang kekuasaanNya melebihi dunia orang mati! Raja yang menaklukkan penderitaan, siksaan, hinaan dan kematian bukan dengan menghindarinya melainkan mengalaminya untuk kemudian mengalahkan!

Dalam masa pandemik COVID19 ini, selain banyak orang yang makin mendekatkan diri kepada Tuhan, tak sedikit pula yang bersikap sebaliknya, mempertanyakan dimanakah Tuhan di saat-saat seperti ini? Kenapa Ia seolah membiarkan semua ini terjadi? Korban jiwa berjatuhan, ekonomi gulung tikar, interaksi sosial pun dibatasi? menyesakkan! Bukankah Ia adalah juru selamat? Tapi kenapa ada begitu banyak orang yang bahkan percaya kepadaNya tak diselamatkan?

Ajakan untuk berpengharapan yang benar

Belajar dari orang-orang Yerusalem dua ribu tahun silam hari ini kita diajak untuk menaruh pengharapan yang benar! Keinginan dan harapan pribadi tentu boleh disematkan dalam doa tapi bagaimana mengerti, memahami dan mengikhlaskan kehendakNya yang terjadi sepahit apapun itu adalah yang terbaik!

Bahwa kalau saja mau, dulu Ia bisa saja jadi Raja Israel dan menghindari penyaliban! Sama seperti sekarang, bahwa kalau saja mau, Ia bisa menghilangkan COVID19 dari muka bumi dalam sekejap mata! 

Tapi ketika semua ini diijinkan terjadi, yang perlu kita lakukan adalah merenung dan mencoba mengerti kehendakNya dengan kemampuan kita yang terbatas ini, ?Apa yang Tuhan mau? Apa yang Tuhan kehendaki??

Selamat memasuki Pekan Suci Paskah 2020! Sebagaimana Ia dulu berani menghadapi penderitaan, kita pun kini ditantang untuk tidak takut pada apapun yang membentang di hadapan.

Yerusalem, lihat rajaMu!

Sydney, 5 April 2020

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.