Beku tapi bernafas, berdetak tapi tak bekerja. Itukah kita?

14 Mar 2018 | Kabar Baik

“Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.”
Yohanes 5:17

Hari ini kita menemukan alasan kenapa tak boleh malas-malasan apalagi berhenti bekerja. Kenapa? Karena Bapa pun bekerja sampai sekarang! Kita ini citraNya, segambaranNya. Kalau Bapa digambarkan oleh AnakNya sebagai pekerja, kitapun harus demikian adanya.

Tapi meskipun bekerja, semua pekerjaan itu haruslah pekerjaan yang datang dan yang dikehendakiNya. Hal ini supaya sesuai dengan apa yang Yesus katakan dan ditulis Yohanes seperti berikut:

Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; ? sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. (Yohanes 5:30)

Lalu seperti apakah pekerjaan-pekerjaan yang tidak datang dari Tuhan??Bagiku, pekerjaan-pekerjaan yang tidak datang daripadaNya adalah pekerjaan-pekerjaan yang mengutamakan nafsu dunia belaka.

Suatu waktu aku pernah ditawari pekerjaan dengan jabatan dan gaji lebih tinggi dari yang kuterima sekarang. Wah, rasaku ingin langsung menandatangani surat kontrak kerja. Tapi Joyce, istriku, memberikan masukan yang membuatku akhirnya memikirkan ulang dan dengan berat hati menolak pekerjaan itu.

Kenapa? Karena kalau aku menerima pekerjaan itu, meski bergaji tinggi tapi waktu kebersamaan dengan keluarga akan terpangkas dan ini tentu salah. Bagiku, keluarga adalah anugerahNya. Bersama-sama dengan anak-anak dan istri adalah pekerjaan untuk mempertahankan anugerah itu, kan?

Atau pernah pula aku ditawari untuk melakukan pelayanan dalam sebuah ministry di Gereja. Tiga bulan berada di dalamnya, aku merasa tak menemukan ?damai sukacita? dan yang ada justru jurang permusuhan antara aku dan mereka yang berseberangan pendapat melebar padahal kami ada di bawah nama ?Gereja?.

Aku memutuskan untuk mundur karena khawatir yang kukerjakan bukanlah pekerjaan-pekerjaan Tuhan meski tampaknya adalah pekerjaan-pekerjaanNya.

Wah kalau gitu lelah dong?
Tak gampang kataku, berat, kata Dilan!?Perlu ada analisa yang tak pernah berhenti. Perlu ada ?komunikasi? dengan Tuhan yang bisa kita dapatkan dalam doa, laku spiritual maupun dalam perjumpaan sehari-hari dengan sesama kita dan yang pasti, perlu berani untuk memutuskan mana yang perlu terus dikerjakan dan mana yang tidak.

Kita tak punya pilihan selain untuk harus tetap bekerja. Kalau dipikir lelah, akupun kadang berpikir untuk berhenti. Tapi semua aku masukkan dalam alam pikir, jika aku lelah bekerja, bagaimana Ia? Akankah Ia merasa lelah bekerja untuk hidup kita dan sesama?

Juga soal hakikat.
Hakikat kita adalah bekerja, hidup ini untuk sesuatu yang harus dihasilkan demi kemuliaanNya yang lebih besar. Kalau kita tak bekerja maka kita kehilangan hakikat hidup. Kamu mau kehilangan hakikat hidup? Beku tapi bernafas, berdetak tapi diam saja? Kita bukan mayat hidup karena kita belum mati?So? Kerja! Kerja! Kerja!

Sydney, 14 Maret 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.