Batu sandungan dan kesetiaan pada panggilan

3 Sep 2017 | Kabar Baik

“Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”
(Matius 16:23)

Kalau aku jadi Petrus mungkin akan ngambek juga. Niatku kan baik, mendoakan supaya Yesus nggak kenapa-napa? Manusiawi, kan? Tapi kok malah Dia-nya sewot sampai ngata-ngatain iblis segala?

Hehehe… Justru karena alasan ‘manusiawi’ itulah yang membuat Yesus menghardik dan menganggap pemikiran Petrus sebagai batu sandunganNya!

Yesus tidak mempertimbangkan alasan ‘manusiawi’ karena Ia datang diutus Allah. Jadi ketika Allah memberi petunjuk bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga, itu pulalah yang akan dilakukanNya, lain tidak!

Seperti halnya Yesus, kitapun punya tugas perutusan dari Bapa di dalam bidang yang kita geluti masing-masing.

Adapun menjalani tugas tentu tak pernah gampang, tuntutan untuk setia padaNya kadang berhadap-hadapan dengan alasan-alasan ‘manusiawi’ yang kesannya memudahkan tapi justru menjadi batu sandungan.

Misalnya di bidangku yang bersinggungan dengan IT dan design, kadang kalau klien menolak design atau tak suka dengan pekerjaan yang dilakukan anak buahku, pusing juga!

Ada tawaran cara cepat misalnya dengan mencontek design atau meng-copy source code/membajak karya orang lain yang bertebaran di internet dan dengan mudah bisa kita cari menggunakan Google. tapi adakah hal itu adalah jawaban terbaik atas tugas yang kita emban?

“Kenapa enggak? Copy aja design dari orang lain lalu kita ganti warna dan logo seperti milik mereka kan nggak masalah?” bisikan-bisikan seperti itu seperti lalat berkerumun di dekat gendang telinga, menawarkan dan memaksakan kehendak busuk sebagai solusi cepat.

Kalau mau nurut akal manusia, bisikan itu tentu yang terbaik karena ngapain bersusah-susah ngedesign lagi, brainstorming lagi kalau akhirnya ditolak? Kenapa tak lebih baik cari contekan jadi kalaupun ditolak ya nanti cari contekan yang lainnya lagi begitu terus-menerus sampai akhirnya klien happy?

Itulah batu sandungan!
Itulah bujukan iblis yang mungkin kesannya ‘hanya’ dan ‘cuma’ tapi bukankah membangun rumah pun dimulai dari peletakan batu bata yang pertama? Siapa tahu yang awalnya ‘hanya’ dan ‘cuma’ tapi keduanya adalah batu pertama dimana iblis akan meletakkan bangunan kukuh di atas diri kita?

Jadi? Kuncinya adalah setia! Setia pada panggilan sesulit apapun itu karena mungkinkah Tuhan memberikan tantangan dan tugas yang kita tak sanggup mengembannya?

Sydney, 3 September 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.