Batu buangan dan batu penjuru

30 Jan 2022 | Kabar Baik

Ada yang bertanya kenapa di profile akun instagramku, BaikTV (@baik.tv) tertulis penggalan ayat  “Batu yang ditolak oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru”(Mazmur 118:22).

Kalimat itu tak muncul sekali dalam Alkitab karena selain di Mazmur, Matius menuliskannya di Matius 21:42 sebagai catatan bahwa Yesus pernah mengatakannya secara langsung dan Petrus pun demikian. Setelah Yesus naik ke Surga, dalam perjalanannya iamenerakan kalimat itu dalam 1 Petrus 2:7.

Kenapa ayat itu dan bukan ayat yang lain yang muncul di profile BaikTV? Sudah barang tentu karena aku sangat menyukainya. Ayat itu jadi peneguhku!

Sepanjang usia, setidaknya hingga kini, aku banyak mengalami perasaan dilecehkan, dibully, diremehkan, ditolak, tidak dipercaya bahkan ‘dibuang’ dalam konteks bahwa aku tidak bisa dipakai dan dimanfaatkan.

(Mungkin ini mengagetkan dan beda sekali ya dengan pandangan kalian yang baru mengenalku apalagi hanya lewat social media hahahaha…)

Nah, dalam perspektif ‘batu’, perasaan-perasaan itu seolah menempatkanku sebagaimana batu-batu yang dibuang para tukang bangunan. 

Hal yang kuimani juga dirasakan oleh Yesus ketika Ia hidup di dunia ini, 2000 tahun silam. Ia diremehkan, dilecehkan dan ditolak bangsaNya sendiri tanpa mereka sadar bahwa yang mereka perlakukan seperti itu adalah Tuhan, adalah batu penjuru itu sendiri!

Aku bukan Tuhan meski sebenarnya mereka juga tidak berhak memperlakukanku demikian! Tapi sebagaimana aku tak bisa mengubah cara pikir mereka terhadapku, pun aku juga tidak bisa mengangkat harkat dan derajatku sendiri. Hanya dengan bersandar pada Tuhan, hingga sekarang aku bisa bertahan.

Ini bukan kotbah hari mingguku tapi sekadar catatan bahwa aku ingin menyemangati kalian yang mungkin merasakan hal yang sama sepertiku; dilecehkan, dibully, diremehkan, ditolak, tidak dipercaya bahkan dibuang. 

Tidak enak? Banget! Pasti!

Tapi seperti pepatah barat bilang, It’s OK not to be OK, kan?

Yang penting kalian teguh dan tetaplah bersandar pada iman, apapun agama dan keyakinan kalian.

Berusaha untuk membuktikan tentu tidak dilarang tapi please, berhentilah berharap dan berangan-angan bahwa suatu hari kalian bisa memutarbalikkan pandangan orang yang sudah memandangmu dari sudut subyektif yang ia gunakan untuk memandangmu selama ini.

Berdamailah dengan keadaan dan terus carilah hadirat Tuhan dalam hidup dan deritamu. Di situ niscaya ada bahagiamu!

Tetaplah kuat karena kamu dan aku itu batu entah itu buangan, penjuru ataupun karang…

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. 🍎🌺👍💌

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.