
Bagaimana pandanganmu tentang barang yang telah usang?
Sesuatu yang harus dibuang karena sudah tak digunakan lagi,
atau justru sesuatu yang harus dipikirkan fungsi barunya dan tidak untuk dibuang begitu saja ?
Hari sabtu kemarin aku membeli sandal baru di gerai The Athlete Foot di Galeria Mall Yogyakarta.
Reebok merknya, modelnya jepit dan sangat nyaman untuk dipakai pada saat-saat senggang.
Sebenarnya tak ada niatan sama sekali untuk membelinya karena pada awalnya aku ke Galeria Mall hanya karena ingin makan nasi merah di Bee Restaurant.
Tapi karena ingat kejadian minggu lalu dimana kakiku sakit semua gara-gara jalan-jalan di Klaten dengan sandal lawasku, tak kuurungkan lagi niatku untuk membeli penggantinya mumpung sedang
di Galeria Mall.
Adapun pendahulunya, sepasang Reebok yang kubeli lebih dari tiga tahun yang lampau, itu sebenarnya masih lumayan bagus, ya paling tidak belum ada yang sobek pada permukaannya.
Akan tetapi beda konstruksi, beda pula solnya yang telah menipis teramat sangat sehingga untuk dipergunakan berjalan di jalan bertekstur tak rata akan sangat menyakitkan telapak kaki.
Aku sebagai orang yang terkadang terlalu sentimentil terhadap barang sekalipun, begitu menyayangi sandal lawasku itu.
Ada begitu banyak hal yang telah kulewati dengan sendal itu termasuk pada saat-saat kritis gempa Jogja, dua tahun yang lalu, pada saat aku tak bisa menemukan sepatuku
karena takut masuk ke gedung karena trauma gempa, sendal itulah yang kupakai untuk liputan berkeliling Jogja dan sekitarnya hingga beberapa hari ke depannya.
Sesaat setelah membeli sendal baru kemarin, awalnya sendal lawas itu akan langsung kubuang begitu saja.
Akan tetapi salah satu temanku, Yono, memberi saran yang justru membuatku berpikir ulang tentang pembuangan sandal bekas itu.

“Ngapain dibuang? Kok kayak ndak bisa dimanfaatkan saja? Untuk sandal rumah kan masih bagus tho?”
Aha! Betul juga katanya, maka aku pun mengurungkan niat untuk membuangnya…
Sesampainya di rumah aku mencucinya hingga benar-benar bersih lalu mengenakannya khusus di dalam rumah melindungi kakiku dari debu lantai.
Maka jadilah ia tak dibuang malah naik pangkat menjadi sandal rumahan yang tak harus diinjak-injakkan lagi di atas tanah dan batu, kotoran kuda dan aspal panas.
Pelajaran kecil yang kudapat sore itu membuatku berpikir bahwa sesuatu yang telah usang itu belum tentu harus dibuang.
Ia usang hanya karena tak bagus lagi untuk menjalankan satu fungsinya, justru ia akan menjadi baru ketika kita memberikan satu fungsi baru padanya.
Ia, yang usang itu, akan benar-benar tak berguna ketika memang sudah benar-benar tak ada lagi wujudnya.
Piye ?
Tinggalkan Balasan