Bapaknya bule ya?

20 Jan 2014 | Cetusan

Waktu menunggu (alm) Papa Mertua sakit di salah satu rumah sakit di Jakarta selama kurang lebih dua minggu Desember silam, aku sering diberi tugas istriku untuk membawa anak-anak, Odilia dan Elodia, muter-muter di atas baby stroller di lobby rumah sakit supaya mereka tidur siang barang satu atau dua jam.

Ada banyak pengalaman menarik terkait dengan hal tersebut.?Mulai dari diperhatikan orang-orang yang bersliweran di lobby, banyaknya orang-orang yang mencoba mendistraksi anak-anakku bahkan ketika mereka sudah sangat mengantuk entah itu dengan sapaan hingga colek-mencolek pipi anak-anakku dan masih banyak lagi.

Tapi kupikir tak ada pengalaman yang lebih unik dari yang hendak kuceritakan di sini.

Dari sekian banyak orang-orang yang selalu memperhatikanku ketika sedang menidurkan anak-anak, ada seorang ibu yang menurut perkiraanku berusia sekitar 50 tahunan yang sepertinya juga sedang menunggu kerabatnya yang jadi pasien di sana.

Beberapa kali aku bertemu dengannya entah itu di lobby atau di lantai 5, tempat ATM beberapa bank berada serta sebuah restaurant chinesse food yang kerap pula aku sambangi.

Setiap bertemu dengannya, ia tak pernah meloloskanku dari pandangannya, kadang sinis kadang senyum meski senyumnya berasal setelah ia melongok kedua anakku yang mungkin menurutnya lucu duduk di atas di stroller.

Dan peristiwa itupun terjadi.
Pada suatu siang, ketika aku hendak menidurkan anak-anak, turun dari lantai 35 menggunakan lift, saat pintu terbuka kudapati si ibu sudah di sana dan hanya ada dia di dalamnya.

?Siang!? sapaku karena sepertinya aku tak punya pilihan untuk tidak menyapa.

Tadinya ia tetap diam, tapi setelah melihat anak-anakku ia pun menyapa, ?Siang!? Aku tak tahu apakah ?Siang? nya adalah balasan dari ?Siang? ku, atau justru ia sedang me-?nyiang?-i anak-anakku karena matanya sama sekali tak tertuju kepadaku.

Ia terus melihat anak-anakku, sesekali menggodanya dengan jemari dan mengerling-kerlingkan mata. Aku masih diam saja.

?Ibunya dimana?? si ibu itu akhirnya membuka pertanyaan meski matanya tetap tak berpaling dari kedua anakku.

?Oh, di atas.. lantai tiga lima!? ujarku memperhatikan dia yang tak memperhatikanku.

?Papanya bule ya kelihatannnya??

Dang!
Tiba-tiba aku bersyukur di depanku ada cermin yang terpasang di satu sisi lift. Kuperhatikan wajah dan tubuhku dalam-dalam, Aku bukan bule? aku J-A-W-A! batinku.

Jadi ini tho alasannya kenapa ia tak pernah mau memandangku bahkan ketika aku sudah sedemikian sopan menyapanya?

Dikiranya aku ini adalah penjaga yang dibayar oleh ibu dan ?bapak? anak-anakku. Ya, semacam para nanny yang diambil dari lembaga pelatihan untuk dibayar per bulan untuk mengganti popok, mengelap tinja, memberi makan, mengelap muntahan dan segala macam tetek bengek yang diperlukan oleh kedua anakku itu.

Aku tertunduk, prihatin.
Bukan! Bukan karena jatuh harga diriku karena dianggap nanny bagi anak-anakku sendiri, tapi lebih dari itu, ternyata stereotipe bahwa yang mendorong stroller adalah nanny, bukan orang tua si anak yang telah begitu kuat tercipta di benak orang.

Ini tentu buah gaya hidup urban seperti yang kerap kulihat di mall-mall di Jakarta. Sebuah keluarga muda dengan dua anak, si bapak berperut gendut, bertas selempang tampak seperti berbahan baku kulit, jalan mondar-mandir melihat barang-barang yang seolah semuanya mudah dibeli baik itu cash maupun ngutang.

Si ibu, masih muda juga. Berhak tinggi, perut tanpa selulit meski anaknya dua (dan kadang membuatku berpikir, waktu mengandung, apakah janinnya disimpan di dalam toples karena perutnya yang terlalu slim untuk dimiliki mereka yang pernah mengandung dan melahirkan), menenteng tas branded entah KW entah asli, berambut merumbai berwarna serta tentu polesan bedak tebal dan berparfum wangi menutupi bau ketek aslinya.

Sementara dua anak, masing-masing pada stroller berbeda didorong oleh dua pemudi lusuh berbaju putih, ahhaaa.. tentu itulah nanny-nya.

Di satu sisi mungkin itu pertanda peningkatan kemakmuran karena dengan membayar gaji dua nanny, plus yang lain-lain, kita bisa membayangkan berapa pendapatan keluarga itu dalam sebulannya, tapi di sisi lain, manakah yang sebenarnya terjadi, anak-anak yang turun pangkat karena diurus nanny, atau para nanny yang naik derajat karena mengurus anak-anak majikannya?

Entahlah, tapi aku tak pernah bercita-cita untuk menggaji nanny sekalipun aku mampu untuk membayarnya. Kenapa? Semata karena aku tak ingin merendahkan anak-anakku yang harus ditangani oleh orang lain yang bukan orang tuanya saat kami masih bisa mengurusinya secara langsung.

Aku kembali berkaca di depan cermin, aku belum berubah jadi bule, tetap orang Jawa yang kata kawan-kawanku tak lusuh.. setidaknya tak selusuh para nanny itu.

Ting-tong! Suara penanda bahwa kami telah sampai di lobby berbunyi membuyarkan lamunanku.

?Maaf, Bu saya duluan ya!?
Si Ibu diam saja dan tetap memalingkan muka dariku bermain dengan anak-anakku.

?Bu, tadi kan Ibu tanya siapa bapaknya anak-anak ini? Saya bapaknya, Bu!? aku berkata padanya saat pintu lift terbuka, senyum kusunggingkan meski ku tak yakin apakah senyumku tampak sinis atau tulus karena kulupa melirik cermin lagi untuk memastikannya.

Aku beringsut keluar sembari menyapu matanya dengan pandanganku, kulihat ia mendadak menatapku, tapi aku tak memedulikannya.

Bukannya aku sakit hati, tapi waktuku tak banyak.. anak-anakku sudah teramat sangat mengantuk…

Sebarluaskan!

11 Komentar

  1. Mas, saya ingat waktu sampean komen di blog saya dulu ketika saya menulis bahwa saya tidak menggunakan pembantu RT lagi untuk membantu mengurus anak, bahwa Mas memilih mengurus sendiri anak dan keluarga dibanding menggunakan pembantu RT.

    Setelah kini anak saya hampir 4 tahun dan terakhir kali menggunakan jasa pembantu RT di rumah lebih dari 3 tahun lalu, saya menyadari bahwa hidup tanpa pembantu di rumah jauh lebih baik dan nyaman.

    Balas
    • Jelas, pasti lebih nyaman, Bli! Logikanya begini lah, kita kan berkeluarga, ada orang lain yang tinggal di dalam rumah yang bukan keluarga saja bikin risih kan? :)

      Balas
  2. Saya baru nyadar kalau tanpa pembantu lebih menyehatkan sejak 3 bulan yang lalu :D
    Opo-opo dadi diayahi dewe mas tapi tertebus dengan kebebasan ote-ote di rumah semaunya kekekek …

    Balas
    • Awas, kebiasaan ote-ote bisa menyebabkan pertambahan jumlah anak yang takutnya akan mbikin anda butuh pembantu lagi Mas ;))

      Balas
  3. Aku wes tau ditakoni “Mas njemput noniknya siapa?” pas di SD Tarakanita Bumijo. Ga lama anakku datang dan teriak “ayaaaahhhh”
    :D

    Balas
    • Nek kowe ra nggumun.. *mlayu* wakakakkaka

      Balas
  4. Kalau untuk membantu meringankan pekerjaan rumah, ya.. kami punya. Dia adalah tetangga sebelah yang datang saban pagi untuk bersih-bersih dan menyetrika pakaian, kemudian pulang dan kembali lagi pada sore hari untuk kembali bersih-bersih dan mengangkat jemuran. Untuk momong anak? Itu jadi urusan dan tanggung jawab kami.. :)

    Eh, emangnya si ibu gak balik nanya, “Kalau begitu, ibunya bule ya?” :D

    Balas
    • Kalau si ibu sampe tanya gitu, aku akan jawab, “Waktu aku menikahi kamu, kamu bule apa bukan?” biar tambah buyar :D

      Balas
  5. Untung bukan aku yang sedang mengurus anak-anakmu don.
    Nanti aku ditanya, “Kamu baby sitter kok gemuk sih, emang gajimu berapa?” hahahaha

    Balas
    • Hehehehe, hajar aja kalo sampe gitu sih hahaha

      Balas
  6. nek aku paham kenapa Mas bisa dinilai begitu
    jadi inget cerita teman yg diperiksa keamanan pas barengan sekeluarga masuk mall gara2 dia berpakaian ala seorang manuker

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.