Banjaran Gatotkaca

23 Des 2010 | Australia, Cetusan, Indonesia

Salah satu temanku, Badu namanya dan anggaplah demikian adanya, dua setengah tahun silam sebelum aku hijrah ke Australia berkata kepadaku demikian, “…kamu akan merasa lebih dekat dengan Indonesia justru karena kamu tidak lagi tinggal di dalamnya…” Dan, sabtu malam lalu, aku membuktikan kebenaran omongannya melalui sebuah pergelaran wayang orang bertajuk The Javanese Traditional Opera Wayang Orang “Indonesia Pusaka” perform “Banjaran Gatotkaca”.
Meski aku adalah orang Jawa asli dan Papaku penggemar berat wayang tapi sejujurnya aku bukanlah pecinta wayang.
Sejauh yang kutahu dari wayang hanyalah ‘pakem-pakem’ simple yang kudapat dari bangku sekolah dasar dan menengah dulu seperti misalnya bahwa Rama itu suami Dewi Shinta, Pandawa itu ada lima, Gatotkaca adalah anak Bima dan memiliki otot kawat dan tulang besi serta hal-hal mendasar lainnya.
Oleh karenanya ketika melihat poster acara terpampang di sebuah restaurant penyedia masakan khusus Indonesia di Kingsford, awalnya aku tak terlalu berminat menonton acara itu hingga akhirnya teman-temanku sesama Indonesian maupun bule yang beristri/suamikan Indonesian mengajakku untuk menonton acara itu lalu aku tak kuasa lagi menolak ajakan itu.

0 dollar

Hal yang paling mengejutkan dari penyelenggaraan event ini, menurutku, adalah pada bandrol harga tiket sebesar 0 dollar alias cuma-cuma!
Tapi tentu tidak se-cuma-cuma itu sebenarnya, masing-masing dari kami harus membayar ‘sumbangan’ minimal 10 dollar untuk setiap tiket cuma-cuma yang didapat.
Loh kenapa demikian, karena event ini adalah event pengumpulan dana untuk korban bencana alam di Indonesia jadi yang lebih dipentingkan adalah tentang bagaimana kita mengumpulkan dana lewat tontonan itu dan bukannya membayar tiket untuk tontonan itu sendiri. Sesuatu yang sangat tulus lagi mulia, kan?

Sydney Opera House gitu loh!

Pemilihan Sydney Opera House sebagai venue acara kupikir juga merupakan satu hal yang istimewa atau setidaknya tampak jelas betapa sebenarnya dalam beberapa sisi, hubungan Indonesia-Australia sangat mesra terbukti dengan sebegitu mudahnya kita mengakses gedung yang bersama Harbour Bridge menjadi landmark kota Sydney itu sebagai tempat pelaksanaan acara.
Ini bukan kali pertama loh kita, Indonesia, diberi tempat untuk mengadakan acara di sana karena beberapa bulan sebelumnya, Addie MS bersama Twilight Orchestra-nya pernah pula manggung di sana dalam sebuah event musik bertema ke-Indonesia-an tentu saja.

Diliput TVOne

Ketika hari pelaksanaan tiba, 18 Desember 2010 silam, kami tiba di Sydney Opera House sejak sekitar pukul 06.30 pm, atau lebih kurang setengah jam sebelum acara dijadwalkan dimulai. Meski dari luar tak tampak ada sesuatu yang ‘besar’ terjadi, tapi ketika masuk ke dalam lobi lantai dasar bangunan, aura ‘Indonesia’ sangat terasa.
Ada begitu banyak wajah-wajah Indonesia yang kebanyakan berbusana batik, yang wanita banyak pula yang berkerudung jilbab, berbicara menggunakan bahasa Indonesia dan sama-sama menuju ke tempat pergelaran yang malam itu diadakan di hall utama di lantai atas. Oh ya, selain Indonesian, aku melihat ada beberapa orang bule serta India yang juga menyempil dalam deretan penonton.
Setelah naik eskalator, sampailah kami ke Main Entry acara yang riuh.
Di sisi kanan pintu masuk didirikan sebuah boot mini yang dijadikan tempat pengumpul sumbangan. Menariknya, kalau kita nyumbang ke sana, berapapun itu, kita akan mendapatkan sebuah goodie bag lengkap dengan leaflet dan beberapa buku tentang promosi wisata Indonesia. Kupikir ini adalah sebuah embel-embel yang menarik karena goodie bag tidak diberikan secara cuma-cuma begitu saja.
Sementara di sisi kiri, tempat penjualan minuman dan finger food buka melayani banyak antrian yang memesan minuman dan makanan untuk dinikmati disitu maupun dibawa ke dalam gedung pertunjukan. Kalau yang ini sebenarnya lebih pada fasilitas tetap yang disediakan oleh Sydney Opera House. Aku tak terlalu mengamati distribusi minuman yang beredar di sana apakah disesuaikan dengan ‘karakter’ Indonesia yang ‘mungkin’ lebih memilih air putih plus orange juice ketimbang ‘alkohol’ tapi yang jelas beberapa kali aku menyaksikan event di Opera House, selain menjual air mineral dan juice, mereka juga menyediakan aneka macam beer yang tentu saja beralkohol dan menyenangkan :)
Beberapa saat setelah aku mendapat goodie bag dan istriku membelikanku sebotol minuman untuk dibawa masuk ke dalam gedung, di tengah kerumunan para Indonesian, secara tak sadar tiba-tiba di depanku berdiri seorang kamerawan didampingi rekannya menyorot ke arahku dan anakku, Odilia, yang kududukkan di kereta-nya.
“Wah, masuk tipi!” gumamku pada mereka yang di dadanya tertempel tulisan TVOne dan tersenyum padaku. (Hi LAPINDO…. *wink)

Aneka Ragam Sambutan

Satu hal yang kusaluti dari pelaksanaan acara pertunjukan ini adalah tepatnya waktu panitia dalam menggelar acara.
Pukul 07.00pm, MC yang sore itu tampak anggun mengenakan kemeja bernuansa putih dan berjilbab, memulai acara dalam Bahasa Inggris, mengucapkan sepatah-dua patah kata selamat datang lalu memanggil Duta Besar Indonesia untuk Australia untuk memberikan sambutan.
Tak sampai lima menit kemudian, sambutan kedua diberikan oleh Jaya Suprana, ketua rombongan wayang orang yang memang benar-benar dibawanya dari Indonesia.
Di titik ini aku cukup terkejut pada ‘keseriusan’ acara ini, dan semenjak Jaya menampakkan dirinya ke atas panggung, yakinlah aku bahwa acara kali ini benar-benar akan bagus karena siapa pula yang meragukan bos MURI ini dalam mengelola dan menampilkan budaya dan seni khas tradisional Indonesia?
Jaya, dalam Bahasa Inggris yang juga terbata-bata, mengungkapkan bahwa hingga saat itu, masih belum termasuk sumbangan yang diperoleh on the spot, telah terkumpul uang sebesar 10 ribu AUD untuk para korban bencana alam di tanah air seperti di Wasior, Mentawai dan Merapi. Uang tersebut lantas secara simbolik diberikan kepada Jero Wacik, Menteri Budaya dan Pariwisata Indonesia yang lantas menjadi pemberi sambutan selanjutnya sekaligus yang terakhir sebelum acara.
Ada beberapa poin menarik yang bisa kucatat dari apa yang dikatakan Jero Wacik, di antaranya adalah target pemerintah Indonesia untuk mendatangkan lebih banyak lagi wisatawan asing dari Australia untuk mengejar target 1 juta wisatawan tahun depan. Ada pula ungkapan tentang betapa beruntungnya kita yang hadir di situ karena justru pertunjukan wayang orang semegah itu tidak biasa diadakan di Indonesia sendiri.
Mau tak mau aku sangat sepakat dengannya. Tapi jika boleh ditambahi dan memperuncing pendapatnya, hal yang paling penting sebenarnya justru bukan soal ada atau tidaknya pertunjukan wayang orang semegah itu di tanah air, tapi lebih pada pertanyaan bahwa, kalaupun aku saat ini di tanah air dan melihat ada iklan tentang pementasan eayang orang, akankah aku sudi untuk meluangkan waktu untuk menyaksikannya sesemangat aku menontonnya malam itu di Opera House? Bukankah acara-acara sinetron serta ramai gosip artis di televisi, pemutaran film-film ‘barat’ di sinema-sinema mahal atau bahkan nongkrong dan berbelanja di mall adalah sesuatu yang lebih menarik ketimbang menyaksikan sebuah pertunjukan ‘kuno’ berjudul wayang orang?
Semoga ini hanya terjadi padaku dan tidak pada kalian, warga Indonesia yang begitu mencintai warisan budaya leluhurnya :)

Armonia Choir

Beberapa saat setelah Jero Wacik mengakhiri pidatonya dan Jaya Suprana mempersilakan tim untuk memulai acara, panggung lantas meredup untuk beberapa waktu hingga MC memanggil Armonia Choir tampil.
Alunan gamelan yang ditabuh para niyaga yang duduk di depan panggung mengiringi para anggota koor masuk ke panggung dalam barisan-barisan rapi.
Kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu yang malam itu tampil anggun berkebaya dengan dominasi warna merah maroon. Para pria ada meski tak seberapa jumlahnya, barangkali mereka hadir sebagai penyeimbang suara yang dihasilkan. Dalam waktu lima belas menit, koor yang dikomandani oleh Baruno Wibowo inipun menghibur penonton dengan membawakan dua tembang lawas Jawa, Prau Layar dan Jaranan.
Ya, kalian benar kalau menebak aku sangat menyukai bagian ini.
Mulutku tak kuasa ikut melafalkan lirik lagu ‘dolanan anak’ itu. Mataku mbrambangi, larut dalam alunan lagu yang tampil begitu syahdu sementara benakku menoleh ke belakang ke arah sepenggal kenangan hidup masa kecil di tanah Jawa dulu.
Ada semacam kerinduan tapi uniknya kerinduan itu justru menyalahkanku kenapa aku yang tak terdorong untuk mencari secara aktif kebudayaan-kebudayaan lama nan klasikal yang seperti ini di tengah bisingnya jaman ketimbang membiarkan diri terjerembab ke kebudayaan dan seni post-modern yang pertumbuhannya kini bagai cendawan di musim hujan.
Untung tak sampai bener-bener mrebes mili air mataku, pertunjukan koor ini segera berlalu dan it’s a show time, Banjaran Gathotkaca!

It’s a show time!

Pertunjukan dimulai dengan keterangan yang dibacakan MC yang kali ini tak lagi tampak batang hidungnya, telah ‘ndhelik’ ke belakang panggung dan mengontrol acara dari sana.
Ia menggulirkan cerita sejak awal mula kenapa “Banjaran Gatotkaca” menjadi lakon pementasan yang jamak diadakan semenjak jaman kerajaan Singasari, Jawa Timur, seribu tahun silam. Tak lupa ia memperkenalkan sosok Raden Gathotkaca yang adalah ksatria unggul dalam cerita Mahabaratta dan menjadi tokoh sentral dalam pementasan ini.
Tak lama kemudian, pertunjukan dimulai dan kami pun terbuai dibuatnya…
Dalam waktu kurang lebih 1.5 jam ke depannya, Banjaran Gatotkaca disajikan dalam penggalan-penggalan (scenes) sehingga terkesan tidak terlalu berat dan komprehensif.
Berikut adalah urut-urutan scenes yang disajikan seperti yang kusarikan dari buku petunjuk yang ada dalam kemasan goodie bagnya: The Birth of Gatotkaca, The Prophecy, Chandradimuka Crater, The Coronation, Pergiwa Pergiwati, Goro-Goro, The Romance, The Royal Wedding, The Great War Commences, The Women’s Army, One on One, The Night Attack dan The Death of Gatotkaca.
Dengan waktu yang lumayan singkat dan muatan cerita yang cukup panjang, toh imbuhan “dagelan” yang biasa ditunggu-tunggu dalam pertunjukan wayang orang maupun ketoprak di tengah gugusan cerita yang serius masih pula sempat ditampilkan. Malam itu secara cemerlang punokawan (semar – gareng – petruk – bagong) dalam scene ‘Goro-Goro’ mampu mengocok perut penonton lewat humor yang keluar dari pakem wayang aslinya, menyentil hal-hal yang terjadi di kanan-kiri masa kini.
Pemanfaatan multimedia berupa screen, meski belum terlalu optimal, juga cukup memberi warna dan seolah menjadi ‘lengan tambahan’ untuk mempertebal kesan pada cerita seperti misalnya pada saat Gatotkaca harus terbang. Aku ingat dulu ketika beberapa kali nonton wayang di televisi, si pelakon Gatotkaca, pada setiap adegan terbang, ia harus membentangkan selendangnya lalu menari ke sana kemari. Sekilas tentu hal ini bukan sesuatu yang ‘terbaca’ sebagai “Oh, dia sedang terbang” karena masa iya si Gatot terbang menggunakan selendang? Nah, dengan adanya screen tersebut, si Gatotkaca tinggal menari putar kiri-kanan sesaat lalu menghilang ke balik layar dan keberadaannya lantas diwakili oleh screen yang menunjukkan bahwa ia, Gatotkaca, sedang terbang di antara awan dan birunya langit.
Lalu yang tak kalah menarik terkait penggunaan screen sebagai pendukung cerita adalah saat akhir pementasan, melalui screen kita bisa tahu seberapa dahsyat perang Barathayudha itu. Aku membayangkan, jika tak ada penggambaran betapa hebat pertempuran yang terjadi melalui screen, barangkali aku dan semua penonton yang tak tahu banyak tentang wayang akan berpikir bahwa Barathayudha itu memang perang tapi ya just another war… bukan suatu perang besar.
Saking menariknya pertunjukan wayang orang ini, apresiasi penonton berupa tepuk tangan nyaris selalu terdengar membahana setiap pergantian setting cerita. Agak mengganggu sebenarnya karena jalinan cerita toh belum benar-benar usai dan kupikir dibutuhkan keheningan sebagai jeda antar section, bukannya gegap gempita seperti itu. Demikian pula ketika MC mengumumkan kematian Gatotkaca sesaat setelah ia bertarung melawan Adipati Karna, terdengar lenguhan dari penonton “oughhhhh” yang di sini kerap digunakan untuk meluapkan keprihatinan.

Positif? Well Organized!

Ada beberapa sisi positif yang bisa kurangkum mewakili banyak kesan yang bermunculan terkait acara itu.
Yang paling mengutama pikirku adalah betapa event ini terselenggara dengan sangat teratur dan sangat baik! Beberapa kali aku mengikuti acara-acara berbau “Indonesia” di sini mulai dari festival agustusan, festival budaya hingga katakanlah acara natalan bersama di konsul jendral, tapi aku harus bilang bahwa pertunjukan Wayang Orang “Banjaran Gatotkaca” ini yang terbaik!
Barangkali hal ini terjadi karena ada pemilahan panitia lokal yang mempersiapkan acara serta tetek bengeknya dan panitia produksi pertunjukan yang berkonsentrasi pada tata teknis pelaksanaan produksinya. Tak hanya dari ketepatan waktu pelaksanaan namun juga pada banyak hal seperti misalnya kemasan tiket yang dibuat se-preofesional mungkin, tak kalah dengan bentuk dan design tiket pertunjukan yang kerap digunakan di sini.
Goodie bag juga adalah sebuah kejutan tersendiri!
Tak disebutkan bahwa goodie bag akan ada saat pelaksanaan, maka dari itu, ketika tiba di Sydney Opera House dan diberitahukan ada goodie bag, seminim apapun itu tapi keberadaannya adalah bukti bahwa acara ini tidak dipersiapkan dalam satu malam saja melainkan melalui proses perencanaan dengan hasil akhir yang brilian.
Goodie bag beserta isinya
(Coba perhatikan foto yang kuunggah bersama tulisan ini, dan bayangkanlah semua literatur baik buku, leaflet dan bahkan CD yang kufoto itu semua ada dalam satu goodie bag saja!)

Positif? Profesional dan Indah

Tak salah memang kalau Jero Wacik berujar bahwa pertunjukan ini langka, sebuah pertunjukan maestro yang berkelas dalam genre perwayangan.
Mulai dari paduan suara yang indah yang tidak blero, tatanan musik yang terkesan agung lewat tangan para niyaga di balik perangkat gamelan hingga gemulai tari para pemain wayang dibalik gemerlapnya kostum, kesemuanya adalah sajian yang indah, profesional dan sangat “tak biasanya!”
Nama-nama besar seperti Aylawati Sarwono (pemeran Pergiwa – co-founder dan direktur The Jaya Suprana School of Performing Arts and The Prestasi Nusantara Institute), Kadar (maestro karawitan Jawa), Nanang Riswandi (pemeran Gatotkaca – master tari IKJ) hingga Ali Mursadi (Master Indonesian Arts Institute Surakarta, best actor in the role of Arjuna in the world), mereka semua unjuk gigi dalam pementasan akbar malam itu.
Jadi, siapa lagi yang mau meragukan?

Negatif? Translation please!

Meski ada taburan poin positif, tapi jika tanpa cacat, sepertinya pertunjukan kemarin akan berubah jadi robot yang tidak berkesan :)
Aku cukup terhibur bahwa pada kenyataannya bahasa Jawa yang digunakan oleh para pemainnya sudah begitu teradaptasi bahasa Jawa percakapan yang dulu sering kugunakan.
Tak seperti bayanganku dimana biasanya pertunjukan wayang menggunakan Bahasa Jawa yang sangat tinggi dan halus yang barangkali aku sendiri pun sudah tak tahu lagi bagaimana cara mengucapkan apalagi menterjemahkannya itu.
Tapi bisa kujamin bahwa yang mampu menikmati secara utuh pertunjukan kemarin adalah benar-benar mereka yang berasal dari Jawa (sepertiku) karena selain bantuan MC yang hanya memberi komentar cerita nyaris di awal dan akhir scene, tak ada bantuan terjemahan untuk setiap percakapan para pemain padahal ini sangat penting!
Seharusnya, selain untuk digunakan sebagai media visual pendukung cerita seperti yang kuungkap di atas, screen multimedia yang terpampang di belakang panggung bisa pula dimanfaatkan untuk menuliskan subtitle yang berisi percakapan para pemain wayang sehingga misalnya ketika Punokawan sedang melawak, setidaknya lawakannya juga dimengerti oleh para bule yang juga hadir di situ lepas dari apakah yang diucapkan punokawan itu tetap berarti banyolan bagi mereka atau tidak.

Negatif? Penonton Telat Datang

Penyelenggaranya sudah sangat OK karena pementasan dimulai tepat waktu, eh giliran penontonnya banyak yang terlambat datang!
Menyebalkan? Jelas iya karena saat kita sudah mulai terkonsentrasi pada jalannya cerita, slewiran orang, cekikian dan bisikan meributkan harus duduk dimana adalah gangguan yang membikin gatal kulit kepala! Belum lagi kalau tiba-tiba mereka mendekat dan bilang dengan sangat sopan, “Maaf, boleh numpang lewat, tempat duduk saya di situ?”
Masa ya kujawab, “Tidak! Tidak boleh!”
Kan aku ini masih orang Indonesia yang terkenal dengan kesopanannya? :)

Negatif? Penonton Terlalu Cepat Pulang

Tak hanya itu, begitu acara selesai, maksudku tepat ketika Gatotkaca dinyatakan mati dan lampu panggung dihidupkan, penonton yang tak sabar itupun berebut keluar.
“Lho ya gitu dong Don, dimana salahnya?”
Tak salah, tapi lebih pada bagaimana kita seharusnya mampu memberikan apresiasi pada para pemain, pendukung pertunjukan termasuk panitia dengan memberikan standing ovation saat penyerahan buklet bunga seperti halnya banyak pertunjukan-pertunjukan yang biasa digelar di sini. Lha ini bukannya berdiri dan bertepuk tangan malah ribut antri keluar pintu dan sekali lagi, bisik-bisik sopan mereka pun terkesan sangat mengganggu dan sekali lagi juga aku tak bisa berlaku tak sopan, karena mereka kan sudah sopan kepadaku? :)

Negatif? Flash Light

Terakhir sebelum aku menonton Banjaran Gathotkaca, aku pernah pula menonton konser Air Supply yang diadakan di tempat yang sama.
Saat itu aku ingat betul aku membawa kamera ber-flash karena ingin memotret mereka dari jarak dekat… tapi apa boleh buat, sekali membuat foto ber-flash, sesudahnya aku didatangi oleh petugas jaga dan dengan sopan dimintanya aku tak mengulangi perbuatanku, memotret menggunakan flash.
Beda dulu, beda pula sekarang. Entah siapa yang salah, panitia penyelenggara atau pengelola Sydney Opera House, sehingga malam itu, panggung yang sudah dibuat begitu terang benderang oleh lampu dan tempat duduk yang sudah dibuat gelap demi fokus pertunjukan, tetap harus mengalami hujaman flash demi memuaskan rasa dokumentatif dan melunaskan rasa penasaran untuk menjadi seorang fotografer dari para penonton :)
Akibatnya, meski setting cerita Gatotkaca sedang rendevouz bersama kekasihnya, Pregiwa, di hutan tapi karena ulah hujan cahaya dari penonton, hal itu membuat setting cerita tak ubahnya seperti sedang berada di langit, Gatotkaca sedang terbang di langit berbintang.
Itulah semua yang bisa kuceritakan pada malam yang begitu membanggakan bagiku sebagai orang Indonesia.
Bagiku ini adalah ‘hidangan’ akhir tahun yang indah. Setelah awal minggunya menikmati konser musik kelas dunia dari U2 dan tepat seminggu sebelum aku berlibur ke Indonesia, pertunjukan Wayang Orang Banjaran Gatotkaca adalah seperti ‘entree’ dari perjalanan liburanku ke sana beberapa hari lagi.
Sukses untuk segenap panitia, well done!

Sebarluaskan!

13 Komentar

  1. londone akih sing nonton ra, mas?

    Balas
  2. Saya setuju bahwa ketika kita berada di “luar” maka rasa cinta akan tumbuh lebih dalam. Contohnya ketika terjadi Bom Bali pertama, saya sedang berada di Surabaya (kuliah), air mata saya jatuh mendengar berita itu. Tapi saudara dan teman-teman saya di Bali biasa saja. Mungkin jika ketika itu saya di Bali, perasaan saya akan sama seperti mereka.
    Wayang, saya salah satu penggemar Wayang, khususnya Wayang Bali, sejak kecil saya suka menonton. Walaupun pertunjukkan wayang di Bali sempat dianggap “ndeso”. Untunglah beberapa tahun terakhir semenjak kehadiran wayang “Cenk Blonk”, wayang di Bali mulai disukai oleh masyarakat termasuk masyarakat di perkotaan.
    **Maaf kalau agak OOT.

    Balas
  3. Aku bisa merasakan betapa kerinduanmu akan kampung halaman sedikit terobati oleh suguhan nan apik itu Don. Kamu benar, bahwa kecintaan kita akan sesuatu, terasa begitu besarnya ketika kita berjauhan dengannya. Oleh karenanya, ada pepatah bijak yang mengatakan begini: “Jarang-jaranglah berjumpa, akan menambah kecintaan”.
    Aku merasa bangga dengan laporanmu ini Don. Ternyata, pertunjukkan Indonesia di luar negeri sana, bisa tampil sangat baik dan terorganisir dengan rapi. Semoga semakin banyak pertunjukan-pertunjukan semacam itu di kemudian hari yang tentunya diatur secara baik… :)

    Balas
  4. aku yang orang Indonesia kok gak pernah nonton gini ya?
    :(

    Balas
  5. Kali ini sangat sangat panjang tulisannya sampai aku bingung merumuskan pendapatku :P
    Namun yg mmbuat yg ingin ku garis bawahi, bukan soal wayang cukup kuno mas dv hanya saja ketika di indonesia hal ini sdh jd hal yg biasa jd akan cukup mmbosankan. Apalagi tak ada gedung se eksotik opera sydney ;)

    Balas
  6. Setuju, kebanggaan sebagai Indonesia lebih kuat kalau lagi di luar negeri.
    Aku bukan orang Jawa dan gak ngerti wayang, (translation memang perlu), tulisan ini bikin penasaran pengen nonton wayang.

    Balas
  7. ulasannya mantab… :D
    saya bangga sekaligus sedih. di solo, wayang wong sriwedari yang rutin pentas hampir selalu sepi penonton. :(

    Balas
  8. Mas Don, Terimakasih banget ulasannya ttg Banjaran
    Gatotkatja lengkap dengan saran yg membangun. Sebagai salah satu
    pemeran disitu juga sebagai “penyanyi” di choir Armonia saya juga
    bangga bisa “membawa” wayang main di Sydney Opera House…. Kalau
    ada yg ingin nonton wayang di Jakarta bisa mengunjungi gedung
    wayang orang Bharata di Jl.Kalileo (sebelum pasar kue subuh) Senen
    Jakarta setiap malam minggu, di Solo bisa mengunjungi gedung wo
    Sriwedari setiap malam. Bagi saya, mencintai budaya sendiri dan
    ikut andil dalam melestarikannya adalah merupakan sebuah
    kebanggaan. Salam paling Indonesia, Dewi Arimbi.

    Balas
  9. Ahh Don, saya penyuka wayang, bahkan dulu semasa muda sering menarikan beberapa cuplikan cerita Ramayana-Baratayudha.
    Tentang kilatan kamera penonton, kenapa tak bisa dilaksanakan seperti di Jakarta, bahwa penonton dilarang membawa kamera masuk dan dilarang memotret. Dan kenyataannya penonton tak melanggar karena ada yang melanggar langsung didatangi petugas…dan ini pertunjukan konser (kalau tak salah “La Galigo”) yang pemainnya orang Indonesia semua.
    Semoga makin banyak pertunjukan yang mengankat adat budaya Indonesia, bisa dimainkan secara internasional ya…

    Balas
    • Tolong ini di delete ya, thanks

      Balas
  10. Ahh Don, saya penyuka wayang, bahkan dulu semasa muda sering menarikan beberapa cuplikan cerita Ramayana-Baratayudha.
    Tentang kilatan kamera penonton, kenapa tak bisa dilaksanakan seperti di Jakarta, bahwa penonton dilarang membawa kamera masuk dan dilarang memotret. Dan kenyataannya penonton tak melanggar karena ada yang melanggar langsung didatangi petugas…dan ini pertunjukan konser (kalau tak salah “La Galigo”) yang pemainnya orang Indonesia semua.
    Semoga makin banyak pertunjukan yang mengangkat adat budaya Indonesia, bisa dimainkan di panggung internasional ya…

    Balas
  11. Saya suka wayang, cuma saat saya SMA di jogja dulu (saya lulus tahun 2008), pecinta wayang di SMA saya yang saya tahu sedikit sekali, hanya sekitar 3-4 orang. Banyak sekali yang enggan diajak menonton, jawabannya biasanya, “males ah, cerita wayang panjang banget, jadi kalo dipentasin satu lakon ya nggak dapet ‘feel’-nya karena nggak familiar dengan seluruh ceritanya” :( padahal saya juga nggak lancar bahasa Jawa, tapi kalau ada wayang di tivi ya suka nonton. Saya tahu ceritanya karena saya akrab dengan mitologi India. Beginilah Mas kalau hidup di era globalisasi dimana arus globalisasi lebih banyak searah dari Barat ke Timur :(
    ps: salam kenal mas doni :P

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.