Bangsa besar

5 Mei 2011 | Cetusan, Indonesia

Menurutmu, mana berita yang lebih menarik, heboh pernikahan akbar Pangeran William dan Kate Middleton yang dihelat di Inggris 29 April 2011 lalu, atau peristiwa lamaran Ibas Yudhoyono dengan Aliya Rajasa yang digelar dua hari sebelumnya di Jakarta?
Jangan menjawab dua-duanya meski aku tahu keduanya ramai dijadikan bahan ‘jualan’ program-program infotaintment yang maraknya sebelas dua belas dengan maraknya sinetron-sinetron ‘katro’ itu :)
Kalau boleh menebak dan semoga tebakanku benar, kalian pasti lebih memilih larut dalam euforia global terkait dengan pernikahan William dan Kate Middleton, kan? Bukan. Bukan karena gaharnya pengamanan acara pertunangan Ibas dan Aliya yang kalau kita lihat di layar televisi bahkan sampai melibatkan beberapa kendaraan panser itu. Bukan pula karena wartawan konon dilarang masuk ke acara ‘lamaran’ nya Ibas – Aliya, tapi barangkali karena bagaimanapun juga Kate dan William adalah import sedangkan Ibas dan Aliya itu ‘produk’ lokal.
Kita boleh bilang bahwa kita ini anak bangsa masa kini yang tak mengenal lagi perbedaan kelas dan derajat antar manusia, namun hati kecil kita toh tak bisa ditipu begitu saja. Kita terkadang masih gagap dalam gegap gempita “WOW!” ketika melihat apapun perhelatan yang dilakukan di belahan dunia lain (baca: dunia barat) seakan apapun yang mereka hasilkan adalah yang terhebat melebihi kehebatan diri kita sendiri.
Lebih dari itu, sekali lagi, meski kita ini anak masa kini, tapi kita toh tetap dengan mudah terpancing dengan sesuatu yang diembel-embeli istana dan raja. Seolah apapun yang ditampakkan oleh kerajaan adalah sesuatu yang paling elok tak peduli dimanapun kerajaan itu berada, entah di Inggris ataupun di Jogja! :)
Kan, begitu kan?
Lalu kaum industrialis tiba-tiba turut dalam pusaran ini.
Mendompleng kekuatan berlabel globalisasi, mereka mendobrak batas-batas negara dan selera dengan komoditi mereka bersalutkan ‘trend masa kini’. Ya, lihat saja, sudah berapa banyak butik dan produsen-produsen alat rias wajah dan perlengkapan pernikahan yang mulai memanfaatkan trend “William – Kate” sebagai lini baru dalam bisnis global mereka? Seperti layaknya para kaum latah, produsen-produsen itupun semakin menggila dengan penyeragaman produk nan massal yang sayangnya juga kita nikmati secara… massal juga atas nama ‘up-to-date’ karena tak mau ketinggalan jaman!
* * *
Kita ini kan bangsa yang besar, lalu kenapa kita tak kembali menilik diri untuk melihat betapa besarnya kita? Ibaratnya pantai, kalau saja kita ini punya sedikit sifat seperti batu karang yang tak mudah terombang-ambing dan punya identitas yang kuat, kita sebenarnya adalah kekuatan itu sendiri. Sayang kita lebih mirip pasir yang butirnya memang kuat, tapi karena tak ada pengikat diantaranya, jangankan karena badai “trend global”, bahkan kena anginpun kita terberai!

“Kita ini kan bangsa yang besar, lalu kenapa kita tak kembali menilik diri untuk melihat betapa besarnya kita?”

Sebenarnya kita punya begitu banyak hal yang patut kita kemukakan dalam pentas dunia yang sayangnya semakin mengglobal ini dengan cara kita, dengan akar budaya kita sendiri-sendiri sebagai suku bangsa pembentuk bangsa Indonesia ini. Mulailah memikirkan hal-hal yang kecil dengan sentuhan besar, hal-hal lama dengan perspektif baru, apa salahnya?
Kalau mau menyaingi pernikahan agung William – Kate toh sebenarnya bukan perkara besar!
Datanglah ke pedesaan, di pelosok sana, tanyailah berapa pasang pengantin yang tak sempat mengadakan resepsi sederhana karena keterbatasan dana? Kalau mau lebih ekstrim lagi, tanyailah pula berapa pasang yang tampaknya sudah menikah namun pada kenyataannya mereka belum pernah menikah karena alasan ‘takut mahal’ bahkan untuk sekadar di-ijab-kan saja?
Angkat topik itu ke media kalau perlu bergerilya lewat social media, ciptakan beberapa issue yang mendukungnya , ya semacam koin untuk whatever lah! yang pernah ngetop beberapa waktu silam, lalu aduklah adonan itu hingga mekar. Ketika buih-buih mekarnya semakin kentara, sapalah produsen-produsen untuk menggagas acara “Nikah Massal” dan berlakulah profesional terhadapnya seolah kamu sedang ‘menjual’ isu nikah massal itu tadi dan ungkapkan janji-janji betapa perhelatan itu akan semakin menggelembungkan bisnis mereka. Panggil media-media mainstream untuk turut serta dan kalau perlu undanglah media-media internasional sebagai partner untuk menjadi corong di luar negeri tentu dengan balutan issue yang sedikit berbeda yang lebih ‘mendunia’.
Ketika semua sudah matang, laksanakan dan yakinlah bahwa acara nikah massal yang kamu selenggarakan itu akan seagung pernikahan William dan Kate dan bahkan lebih akbar karena ada berapa pasang yang dinikahkan dalam sekali kesempatan itu? Tinggal dikalikan ke-akbar-annya toh!
Jadi, intinya kembalilah pada diri kita sendiri, bangsa kita, lingkungan kita.
Kembali ke soal Ibas – Aliya yang akan menyambut pernikahan di November ini dan tinggalkan William dengan Kate-nya yang anggun itu.
Justin Beiber dan Selena Gomez juga toh sudah berlalu beberapa saat lalu dari panggung Indonesia, maka orientasi harus ditujukan pada Anang – Ashanti yang konon kabarnya sudah jadian berkat jasa Olga Saputra dengan Dahsyat-nya.
Kembali menggagas bagaimana caranya mengirim buku-buku pendidikan ke anak-anak didik di Papua Barat yang mengalami krisis bacaan ketimbang mendahulukan pikiran bagaimana caranya mengirim bantuan kemanusiaan ke negara-negara Timur Tengah yang sedang berselisih?
Atau kalau Papua masih terlalu jauh, berpikir dan bertindaklah bagaimana memberi sarana transportasi yang aman dan nyaman bagi generasi-generasi penerus yang tinggal di kawasan Kepulauan Seribu yang setiap pagi masih harus bersusah payah dan berdesak-desakan di atas kapal yang renta untuk pergi bersekolah ke pulau tetangga ketimbang berpikir bagaimana supaya kita lebih keras mengutuk bangsa A atau mengecam bangsa B dan memuliakan bangsa C yang jelas-jelas bukan bagian dari bangsa kita.
Berusaha untuk membenahi dari sini terlebih dulu, maka dunia akan menyoroti kita ketimbang kita ramai-ramai menyoroti dunia tapi tetap meninggalkan gelap di sini-sini juga.

Sebarluaskan!

15 Komentar

  1. Bentar Don.
    Aku mau komen dulu soal perbedaan kelas itu. THAT’S ABSOLUTELY RIGHT…!! Kalau sudah ada embel-embel import, bangsa kita memang langsung melihatnya gimanaa gitu. Seakan2 mereka itu bangsa setengah dewa. Ya tak bisa dipungkiri, Don. Kadang aku juga begitu, karena lingkungan membuatnya begitu. Seolah2 kalo rambutnya pirang dan kulitnya pucat, berarti layak digaji besar, padahal ilmunya sama kok. Cuma bedanya dia lahir pake bhs Inggris aja :p.
    OK. Aku lanjut baca lagi…
    Hmm…. baca beberapa paragraf terakhir bikin aku sedih. Aku mungkin agak sinis dengan hebohnya bantuan ke luar negeri. Kenapa. Ya kenapa coba 100rb yang kita transfer ke negara sana itu kita sumbangkan untuk tetangga kita yang kelaparan… ya gitu-gitulah Don…

    Balas
  2. diantara kerumunan perhelatan di inggris itu.. ada bendera hobo ngayogyokarto :)

    Balas
  3. Dulu Bung Karno menjalankan politik mercusuar agar rakyat pede menghadapi bangsa lain..
    Sekarang hampir semuanya berkiblat ke Negara Barat, dan kita terbawa arus..
    Entah siapa yang harus memulai membuat kita bangga dengan negeri ini?
    Entah pemerintah atau masing-masing dari kita sendiri?

    Balas
  4. I get your point, Don. Tapi di lain pihak kayaknya terlalu extreme untuk mengatakan bahwa kita mengagung-agungkan bangsa bule hanya karena mereka punya pangeran dan istana. Aku kira euphoria seluruh dunia atas The Royal Wedding sah-sah aja…mengingat ini tidak terjadi setiap tahun. Plus bride and groomnya adalah the new faces of Royalty en sangat fotogenik :) I quoted The Bishop of Canterburry sewaktu beliau menikahkan Princess Diana & Prince Charles :” This is the stuff that fairytales are made of…” (unquote).
    You might not realise this since you’re a guy, but that night a score of little girls dreamed and believed that they too can become princesses. This is an empowerment, I think. Kamu sendiri…wouldn’t you dream of the day when Odi found her Prince Charming…be it in England, Lebanon, or Jogjakarta ? A Prince that’s worthy of her love?
    Aku rasa kita tidak melupakan kesulitan di negeri kita sendiri hanya karena kita tune in for a couple of hours to watch that wedding. Mau dilupain gimana, wong ada pas di depan idung , kok…apalagi sejak Mama pasang parabola di Epping :) All in all, long live princes and princesses, long live traditions, and long live fairy tales….!!! Yang jelas The Royal Wedding jauh lebih menarik and historical daripada weddingnya Pasha Ungu, KD-Raul , Sheila Marcia, dan sekelasnya.

    Balas
  5. saya bahkan tidak terkena euforia pernikahan will-kate ataupun ibas-aliya :D
    soalnya sibuk mengais rejeki hehehe
    tentang sumbangan itu, aku sependapat denganmu Don,
    aku juga ga habis pikir duit segitu banyak dikasiin ke negara lain,
    padahal saudara2 di negara sendiri entah seperti apa menderitanya,
    makanya kadang aku mikir, iki sing pinter sopo? sing bodo sopo?
    ahhhh mbuh lah …. wes ga waras kabeh ketoke :(

    Balas
  6. ibas-alya —- who ??
    heehehehehe.. rumput tetangga emang selalu lebih ijooo…….
    soal yg belakang2.. kataku sih, itu penerapan prinsip : hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri (literally) , bukan pribahasa lagi lho…

    Balas
  7. aku kok nggak merasa ikut eforia dengan pernikahan di Inggris dan lamaran anaknya pak presiden ya? hehe. tapi kalau soal isu import dan lokal, yaaa… memang seperti itulah kebanyakan masyarakat kita. entahlah. *mulai apatis, bosen, dan sebagainya*

    Balas
  8. Om Don, saya sama sekali tak terusik oleh pernikahan yang menurut banyak orang, termasuk murid-murid saya, itu heboh. Saya justru lagi terkonsentrasi perihal blog yang saya ikutkan dalam Lomba Blog Guru, yang lokal adanya. Pikiran saya tidak mampu untuk memikirkan hal yang jauh-jauh itu, Om.
    Salam kekerabatan.

    Balas
  9. Saya malah tak mikirin acara keduanya Don….mungkin kebetulan sibuk, jadi ya tak sempat mengikuti aja.
    Memang sulit ya, bangsa kita besar, daerahnya luas dan banyak yang masih sulit dijangkau. Sedang secara internasional, kita juga harus membantu negara yang sulit, sama seperti mereka membantu negara kita saat terjadi tsunami di Aceh.

    Balas
  10. Kita sangat terpengaruh oleh media, media selalu membesar-besarkan isi berita

    Balas
  11. Itulah The power of information bro…kita khan ada di era new wave….jadi gelombang mana yang lebih besar akan menuntun seseorang terseret oleh arus informasi tersebut…makanya waktu kasus ariel – luna jadi trending topic di twitter…media inggris pun latah memberitakan hal itu juga….betul khan..? jadi bukan masalah topic / isi nya tapi seberapa besar wave nya….dan itu akan menghanyutkan akal sehat…

    Balas
  12. yo ngunu kuwilah. ketoke uwiz susah dirubah.
    dan media memang cenderung memberitakan hal yang menjual dan juga cenderung ikut-ikutan dengan media lain. lihat aja berita-beritanya. pasti sama semua.
    nek sing iki mbahas iki, mesti liane meluuuu.

    Balas
  13. Ketika membaca kata “Royal Wedding” di TL twitter, bahkan saya awalnya mengira itu adalah judul film, hahaha..
    Jujur saja, saya tidak terlalu tertarik dengan pernikahan pangeran Inggris tersebut, saya menganggap dan menempatkan berita tetap seperti sebuah berita, sama sekali tidak ada pengaruhnya untuk saya pribadi. Tapi saya setuju dengan anda bahwa pernihakan tersebut diberikan porsi yang cukup banyak oleh media kita.

    Balas
  14. saya sudah baca tulisan abang sampai abis tapi saya belum begitu paham dengan penjelasan di atas bang
    mungkin pemikiran saya yang belum tertarik menanggapi kasus beginian
    :)

    Balas
  15. Inlander…mental inlander……..
    Revolusi kemerdekaan memang masih belum selesai bung

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.