Menurutmu, mana berita yang lebih menarik, heboh pernikahan akbar Pangeran William dan Kate Middleton yang dihelat di Inggris 29 April 2011 lalu, atau peristiwa lamaran Ibas Yudhoyono dengan Aliya Rajasa yang digelar dua hari sebelumnya di Jakarta?
Jangan menjawab dua-duanya meski aku tahu keduanya ramai dijadikan bahan ‘jualan’ program-program infotaintment yang maraknya sebelas dua belas dengan maraknya sinetron-sinetron ‘katro’ itu :)
Kalau boleh menebak dan semoga tebakanku benar, kalian pasti lebih memilih larut dalam euforia global terkait dengan pernikahan William dan Kate Middleton, kan? Bukan. Bukan karena gaharnya pengamanan acara pertunangan Ibas dan Aliya yang kalau kita lihat di layar televisi bahkan sampai melibatkan beberapa kendaraan panser itu. Bukan pula karena wartawan konon dilarang masuk ke acara ‘lamaran’ nya Ibas – Aliya, tapi barangkali karena bagaimanapun juga Kate dan William adalah import sedangkan Ibas dan Aliya itu ‘produk’ lokal.
Kita boleh bilang bahwa kita ini anak bangsa masa kini yang tak mengenal lagi perbedaan kelas dan derajat antar manusia, namun hati kecil kita toh tak bisa ditipu begitu saja. Kita terkadang masih gagap dalam gegap gempita “WOW!” ketika melihat apapun perhelatan yang dilakukan di belahan dunia lain (baca: dunia barat) seakan apapun yang mereka hasilkan adalah yang terhebat melebihi kehebatan diri kita sendiri.
Lebih dari itu, sekali lagi, meski kita ini anak masa kini, tapi kita toh tetap dengan mudah terpancing dengan sesuatu yang diembel-embeli istana dan raja. Seolah apapun yang ditampakkan oleh kerajaan adalah sesuatu yang paling elok tak peduli dimanapun kerajaan itu berada, entah di Inggris ataupun di Jogja! :)
Kan, begitu kan?
Lalu kaum industrialis tiba-tiba turut dalam pusaran ini.
Mendompleng kekuatan berlabel globalisasi, mereka mendobrak batas-batas negara dan selera dengan komoditi mereka bersalutkan ‘trend masa kini’. Ya, lihat saja, sudah berapa banyak butik dan produsen-produsen alat rias wajah dan perlengkapan pernikahan yang mulai memanfaatkan trend “William – Kate” sebagai lini baru dalam bisnis global mereka? Seperti layaknya para kaum latah, produsen-produsen itupun semakin menggila dengan penyeragaman produk nan massal yang sayangnya juga kita nikmati secara… massal juga atas nama ‘up-to-date’ karena tak mau ketinggalan jaman!
* * *
Kita ini kan bangsa yang besar, lalu kenapa kita tak kembali menilik diri untuk melihat betapa besarnya kita? Ibaratnya pantai, kalau saja kita ini punya sedikit sifat seperti batu karang yang tak mudah terombang-ambing dan punya identitas yang kuat, kita sebenarnya adalah kekuatan itu sendiri. Sayang kita lebih mirip pasir yang butirnya memang kuat, tapi karena tak ada pengikat diantaranya, jangankan karena badai “trend global”, bahkan kena anginpun kita terberai!
“Kita ini kan bangsa yang besar, lalu kenapa kita tak kembali menilik diri untuk melihat betapa besarnya kita?”
Sebenarnya kita punya begitu banyak hal yang patut kita kemukakan dalam pentas dunia yang sayangnya semakin mengglobal ini dengan cara kita, dengan akar budaya kita sendiri-sendiri sebagai suku bangsa pembentuk bangsa Indonesia ini. Mulailah memikirkan hal-hal yang kecil dengan sentuhan besar, hal-hal lama dengan perspektif baru, apa salahnya?
Kalau mau menyaingi pernikahan agung William – Kate toh sebenarnya bukan perkara besar!
Datanglah ke pedesaan, di pelosok sana, tanyailah berapa pasang pengantin yang tak sempat mengadakan resepsi sederhana karena keterbatasan dana? Kalau mau lebih ekstrim lagi, tanyailah pula berapa pasang yang tampaknya sudah menikah namun pada kenyataannya mereka belum pernah menikah karena alasan ‘takut mahal’ bahkan untuk sekadar di-ijab-kan saja?
Angkat topik itu ke media kalau perlu bergerilya lewat social media, ciptakan beberapa issue yang mendukungnya , ya semacam koin untuk whatever lah! yang pernah ngetop beberapa waktu silam, lalu aduklah adonan itu hingga mekar. Ketika buih-buih mekarnya semakin kentara, sapalah produsen-produsen untuk menggagas acara “Nikah Massal” dan berlakulah profesional terhadapnya seolah kamu sedang ‘menjual’ isu nikah massal itu tadi dan ungkapkan janji-janji betapa perhelatan itu akan semakin menggelembungkan bisnis mereka. Panggil media-media mainstream untuk turut serta dan kalau perlu undanglah media-media internasional sebagai partner untuk menjadi corong di luar negeri tentu dengan balutan issue yang sedikit berbeda yang lebih ‘mendunia’.
Ketika semua sudah matang, laksanakan dan yakinlah bahwa acara nikah massal yang kamu selenggarakan itu akan seagung pernikahan William dan Kate dan bahkan lebih akbar karena ada berapa pasang yang dinikahkan dalam sekali kesempatan itu? Tinggal dikalikan ke-akbar-annya toh!
Jadi, intinya kembalilah pada diri kita sendiri, bangsa kita, lingkungan kita.
Kembali ke soal Ibas – Aliya yang akan menyambut pernikahan di November ini dan tinggalkan William dengan Kate-nya yang anggun itu.
Justin Beiber dan Selena Gomez juga toh sudah berlalu beberapa saat lalu dari panggung Indonesia, maka orientasi harus ditujukan pada Anang – Ashanti yang konon kabarnya sudah jadian berkat jasa Olga Saputra dengan Dahsyat-nya.
Kembali menggagas bagaimana caranya mengirim buku-buku pendidikan ke anak-anak didik di Papua Barat yang mengalami krisis bacaan ketimbang mendahulukan pikiran bagaimana caranya mengirim bantuan kemanusiaan ke negara-negara Timur Tengah yang sedang berselisih?
Atau kalau Papua masih terlalu jauh, berpikir dan bertindaklah bagaimana memberi sarana transportasi yang aman dan nyaman bagi generasi-generasi penerus yang tinggal di kawasan Kepulauan Seribu yang setiap pagi masih harus bersusah payah dan berdesak-desakan di atas kapal yang renta untuk pergi bersekolah ke pulau tetangga ketimbang berpikir bagaimana supaya kita lebih keras mengutuk bangsa A atau mengecam bangsa B dan memuliakan bangsa C yang jelas-jelas bukan bagian dari bangsa kita.
Berusaha untuk membenahi dari sini terlebih dulu, maka dunia akan menyoroti kita ketimbang kita ramai-ramai menyoroti dunia tapi tetap meninggalkan gelap di sini-sini juga.
Tinggalkan Balasan