Akhir-akhir ini ramai betul orang berlomba-lomba ingin mengubah nasibnya dari karyawan menjadi wiraswastawan. Ramai.. ramai betul!
“Namanya juga coba-coba!”, begitu kata si Harun (tentu nama tak sebenarnya -red) pelan. Seminggu lalu iamenutup warung mie ayam setelah dibuka sejak dua bulan lalu tapi tak kunjung menangguk untung.
“Ide dari mana kok coba-coba?” tanyaku padanya.
“Dari seminar!”
Kagetnya aku bukan kepalang mendengar jawabannya. Harun yang adalah seorang penganggur yang tak pernah punya sejarah kerja lebih dari 2 bulan di satu perusahaan yang sama karena dikeluarkan dengan alasan malas itu ternyata mengenyam seminar juga!
“Seminar apa?” tanyaku.
“Seminar untuk jadi wiraswasta.. ente..enter..hmmm…”
“Enterpreneur!?” sergahku.
“Nah itu dia!” jawabnya.
Punya mimpi berwiraswasta adalah satu kewajaran untuk satu kemapanan yang lebih baik dari yang sekarang. Tapi orang tak bisa hanya bermimpi.
Tapi Harun masih jauh lebih beruntung ketimbang apa yang lantas dialami Wati dan Tumini, istri dan anak Imron (nama tak sebenarnya lagi, Bos! -red) karena Harun tak punya tanggungan lain selain malu tapi Imron, selain malu, Wati dan Tumini adalah tanggungannya.
Imron dulunya bekerja sebagai seorang analis kredit di sebuah bank pasar selama hampir sepuluh tahun sejak ia lulus dari kuliahnya di Jogja. Kesehariannya keluar-masuk pasar dan pedesaan menakar usaha rakyat untuk ditimpakan hutang bank. Dari situ, ia sudah punya kehidupan yang layak sebenarnya. Kredit motornya telah lunas dan meski masih kontrak, tapi ia berhasil mengisi rumahnya dengan berbagai macam perabotan dan televisi, kulkas dan DVD player untuk memutar film kesukaannya juga tersedia.
Hingga suatu waktu, kawan-kawan seangkatannya, kira-kira sepuluh orang jumlahnya, mendatanginya lalu mengomporinya untuk membuka usaha.
“Kamu kan punya channel, Mron.. pasti kamu bisa!”
begitu kata salah satu dari kawannya tadi.
“Iya! Apalagi kamu kan pintar sejak kuliah dulu!” kata kawannya yang lain lagi.
“Tapi.. aku punya anak dan istri… kalau gagal mereka harus makan apa?”
“Nah itu dia! Justru itu, Mron! Anak dan istri akan menjadi pelecutmu untuk tak gagal dalam usaha ini!” balas kawannya.
“Ayoh! Kamu pasti bisa!” timpa kawan yang lainnya lagi yang ada di situ menyemangati.
Imron lalu mengutarakan hal ini pada istrinya pada suatu malam sementara Tumini dikekapnya dalam pangkuan.
“Kamu yakin, Mas? Kalau gagal?”
Imron terdiam sesaat.
“Tak mungkin gagal, Dik! Aku sudah menganalisanyat!” Sementara Wati hanya terdiam dan Tumini mendengkur halus lelah sesorean bermain bersama kawan-kawan lainnya.
Keputusan lalu diadakan.
Imron mengirimkan surat pengunduran diri dari bank tempat ia bekerja sekaligus pada hari yang sama ia mendekati Pak Hanafi (duh, lagi-lagi nama tak benar -red), si orang kaya di kampungnya untuk meminjam modal.
“Tak banyak, Pak Hanafi.. hanya sepuluh juta dan akan saya kembalikan di bulan kedua!”
Ya namanya juga orang kaya, uang sepuluh juta hanyalah butiran debu bagi Hanafi tinggal sret..sret…sret, uang sudah siap dan dipindahtangankan, “Ingat lho Dik Imron.. dua bulan!” tutur katanya halus tapi menekan.
Adrenalin Imron menderu. Diamnya Wati dan dengkuran halus Tumini dianggapnya menjadi restu, diimbuhi keberanian serta modal rupiah dari Hanafi, ia siap melakukan petualangan yang baru!
Seminggu sesudahnya ia membuka gerai toko henpon seadanya di teras miliknya. Meja pemberian Hardi, tetangganya, ketika ia pertama kali pindah ke situ dikeluarkan untuk dijadikan meja toko.?Sebuah spanduk kecil hasil print-out digital bertulis “Imron Cellular” ditegakkan dan beberapa henpon bekas yang dibelinya di kota menggunakan uang pinjaman dipamerkan.
“Kalau laku limaaa saja, untungnya sudah bisa buat beli susu Tumini hingga dua bulan, Dik!” tuturnya sambil membelai rambut istrinya. Wati mengaimini saja apa kata nahkoda rumah tangganya itu. Hati kecilnya ketar-ketir tapi ia punya senthir yang nyalanya tak pernah padam yang dinamakan cinta.
Sebulan berlalu, henpon baru laku satu.
Sebulan setengah berlalu, masih pula laku satu meski, “Tenang Dik, kemarin ada bapak-bapak datang kemari katanya mau mbeliin henpon anak-anaknya empat buah! Mungkin hari ini balik lagi.”
Sementara Wati berwajah gamang. Pikirannya membayangkan bubuk susu Tumini yang ada di kaleng yang tinggal seperempat isinya sementara beras juga tinggal setengah. Bukan, Wati tak memikirkan nasi yang bisa mereka makan. Ia memikirkan jika susu Tumini habis, mana cukup beras setengah itu mampu menghasilkan air tajin pengganti susu bagi anaknya?
Dan ketika tenggat waktu pelunasan hutang makin dekat jaraknya, wajah Hanafi adalah wajah terdekat yang ditemui Imron dalam setiap mimpi buruknya.?”Kita harus ubah strategi, Dik!” tutur Imron pada Wati yang kali ini mengekap Tumini.
“Caranya?”
“Hmmm.. kamu keberatan nggak kalau kamu minta uang bapakmu…hmmm.. pinjam maksudku? Paling tidak untuk nutup utang Pak Hanafi dulu!”
Wati terdiam, ia mengangguk. Ia tak pernah dikecewakan Bapaknya sejak kecil jadi untuknya meminjam uang tentu bukan perkara yang besar. Tiba-tiba Tumini yang dikekapnya terbatuk. Tangannya lantas mengayun-ayun lagi supaya ia tertidur. Tak sampai lama, Tumini mendengkur halus di pangkuannya, ia tetap tak kehabisan teman walau bapaknya mulai kehabisan akal.
Uang dari mertua telah tiba. Dibebatnya bungkusan itu dengan kertas lalu dengan gagah Imron membual di depan Hanafi, “Alhamdulilah, Pak Hanafi! Berkat doa panjenengan usaha saya mulai berhasil dan ini saya kembalikan utangan saya.” Padahal dengkul Imron tergetar hebat membayangkan bagaimana ia harus nyembah-nyembah mertuanya untuk meminjam 15 juta, dua hari yang lalu dan berjanji mengembalikannya sebelum akhir bulan ini atau kalau tidak, sapi peliharaan sang mertua akan lewat di tangan blantik yang menjadikannya barang jaminan untuk hutang menantunya.
Siklus yang sama beberapa kali terjadi tanpa pembaharuan. Imron gagal, Wati terbungkam dan Tumini asik mendengkur halus.
Hingga pada suatu waktu perulangan yang tak pernah dinyana datangnya, ketika semua jalan seperti telah tak berkelanjutan alurnya, pada suatu pagi Wati dan Tumini tak lagi bisa menemui Imron, suami dan ayah yang dulunya gagah itu. Sepucuk surat tanda pamit menjelaskan bahwa Imron telah berubah menjadi pengecut, melarikan diri dari kenyataan mencoba mencari kehidupan baru di antah-berantah. Pada waktu itu, Wati kembali berhitung, susu Tumini akan habis hari itu dan beras… ah ia akan mencoba pinjam segelas dari tetangganya untuk ditanak dan menghasilkan tajin cadangan ketika susu Tumini telah benar-benar habis.
Punya mimpi berwiraswasta adalah satu kewajaran untuk satu kemapanan yang lebih baik dari yang sekarang. Tapi orang tak bisa hanya bermimpi. Karena di dalam mimpi kita bisa mengandaikan semua orang punya garis takdir, sifat dan sikap yang sama yang diperlukan untuk menjadi seorang pengusaha.
Ada yang bilang sembari memotivasi orang lain untuk bakar kapal lalu terjun ke air sebagai tanda bahwa itulah titik yang tak akan membuat kita mampu kembali ke kapal. Semacam, sekali nyemplung ke dunia usaha, jangan balik menjadi pegawai lagi.
Tapi bagiku, ketimbang bakar kapal lalu terjun ke air dan kedinginan serta mendadak kena kram karena kurang pemanasan, mending tetap tinggal di atas geladaknya sembari menikmati hidangan ikan hasil tangkapan dan mengasah pisau yang majal menjadi tajam. Kalau-kalau nasib baik datang, siapa tahu kita bisa membunuh sang nahkoda yang lengah dan kita menjadi penggantinya.
Akhir-akhir ini ramai betul orang berlomba-lomba ingin mengubah nasibnya dari karyawan menjadi wiraswastawan. Ramai.. ramai betul!
Tinggalkan Balasan