Bahasa Roh

30 Apr 2018 | Kabar Baik

Roh Kudus adalah roh penghibur. Seperti yang dikatakan Yesus hari ini, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepada kita dan akan mengingatkan akan semua yang telah dikatakanNya kepada kita (Yohanes 14:26).?Ada tujuh karunia Roh Kudus yang diberikan Allah pada saat kita menerima sakramen pembaptisan. Ketujuh karunia tersebut adalah kebijaksanaan, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengetahuan, kesalehan, dan rasa takut akan Allah.

Tapi tak jarang ketika bicara tentang Roh Kudus, ada oknum yang menyempitkannya hanya pada topik Bahasa Roh dan Gerakan Karismatik yang kerap menjadi pergunjingan.

Bagi komunitas yang tergabung dalam gerakan karismatik, Bahasa Roh atau bahasa lidah (Glossolalia) adalah bahasa yang diyakini berasal dari Allah sendiri. Dulu aku aktif dalam gerakan karismatik dan aktif pula menggunakan Bahasa Roh yang kupercaya kuterima saat mengikuti Seminar Hidup Baru Dalam Roh (SHDR) di pertapaan di Tumpang, Malang, Jawa Timur, awal 2001 silam.

Sumber pergunjingan tentang ?Bahasa Roh? rata-rata adalah karena yang tak percaya merasa tidak nyaman ketika mendengar atau melihat seseorang yang ber-bahasa roh. Ada perasaan takut, was-was dan terusik. Dari situ lantas timbul pertanyaan-pertanyaan skeptikal yang jika ditulis di sini tentu akan jadi panjang dan lebar.

Bagiku pribadi sebenarnya tak ada yang perlu dipergunjingkan tentang Bahasa Roh. Mau percaya silakan, tak percaya juga adalah hak. Selama yang merasa mendapatkan karunia Bahasa Roh tidak mengganggu, kita wajib menghormati keyakinan itu. Begitu juga sebaliknya, ketika ada orang yang tak percaya pada Bahasa Roh jangan lantas kita menganggap mereka sebagai orang yang ?belum bertobat? karena hal itu akan membuat dinding ekslusivitas semakin tinggi antara mereka yang ?karismatik? dan ?non-karismatik?. Padahal jika semua berasal dari Roh Kudus, bukankah Roh itu menyatukan?

Jadi mari kita bicara tentang ?Bahasa Roh? yang lain saja. Apakah itu?

?Bahasa? yang bagiku semua orang, siapapun dia sejatinya dikaruniai kemampuan untuk membicarakannya.

Lho Don, bagaimana dengan mereka yang tunawicara? Apakah mereka juga dikaruniai ?bahasa roh? menurut versimu itu?

Tentu! ?Bahasa Roh? yang ini tak melulu melibatkan lidah dan mulut. Bahasa-nya begitu universal bahkan tak harus diucapkan dan dilafalkan, kata-kata pun sejatinya tak kan pernah sanggup melukiskannya.

Kenapa?
Karena Bahasa Roh yang ini adalah bahasa cinta yang berasal dari Allah.

Bahasa yang ketika? berkata, ?Aku cinta kamu? dari siapapun kepada siapapun yang lainnya adalah benar-benar bahasa yang bebas dari syahwat kedagingan karena berasal dari Roh. Bahasa yang melibatkan seluruh kesatuan diri: tubuh, jiwa dan roh kita untuk mencintai sosok yang kita cintai itu, sesama maupun alam sekitar.

Bahasa yang menuturkan cinta yang sepenuh, bukan cinta yang bersyarat. Bahasa yang cintanya tak pernah kadaluwarsa hingga hidup kita berakhir karena bukankah begitu pula kasih Allah yang tak pernah bisa ditakar dengan panjang usia kita bahkan panjang usia semesta nantinya?

Jadi masih ragu untuk ber-Bahasa Roh? Berbahasalah sekarang dalam cinta karena seperti kata lagu, andai pun kita pahami bahasa semua, jika tanpa kasih cinta hampa tak berguna!

Sydney, 30 April 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.