Meski aku adalah orang yang ingin Jokowi menjadi Presiden RI hal itu bukan berarti aku harus gelap mata dalam memberikan dukungan kepada mantan Walikota Solo itu. Satu hal yang harus kuakui adalah dibandingkan dengan Prabowo yang pernah mengenyam pendidikan di luar negeri, Bahasa Inggris Jokowi jauh tertinggal di belakang.
Dalam konteks debat capres kemarin misalnya, Jokowi mengeja hybrid sebagai hibrid yang harusnya haibrid.
Sedangkan Prabowo, dengan mulus bisa mengeja main battle tank dengan akhiran ?ek? yang sangat bagus dan tak terperosok ke ?penyakit dasar? orang Indonesia yang sulit membedakan bagaimana pengucapan kata berakhiran ?k? dan ?ng? seperti misalnya dalam thing dan think, thank dan tang?
Nah, jadi gimana? Masih mau pilih Jokowi?
Hehehe, jangan murung gitu! Baru dengar tone judul dan paragraf awal-awal tulisan ini saja kok langsung cemberut? Sini-sini, duduk dekat DV sini biar kujelaskan sapa tahu bisa mengubah murung menjadi senyum kalian.
Jadi memang benar, Bahasa Inggris itu penting sekali dan kurasakan hal itu dalam hidup dan bekerja di Australia selama lebih dari lima tahun ini.
Perjuanganku dalam berbahasa inggris yang baik dan benar secara ?kocak? bisa kalian nikmati di tulisanku yang cukup jadul di sini, dan percayalah hal-hal yang kutulis di situ masih sering terjadi hingga kini.
Tapi meski demikian aku harus bangga punya karir yang bagus apalagi jika dibandingkan dengan mereka yang Bahasa Inggrisnya lebih bagus dariku sekalipun!
Kenapa?
Karena bahasa itu meski penting tapi ia bukan sumber dari kebahagiaan/kesusahan kita. Ada yang lebih penting dari bahasa yaitu personality, sikap dan skill set. Apa yang kamu sampaikan melalui bahasamu yang buruk, itu jauh lebih penting ketimbang bagaimana caramu menyampaikan hal buruk melalui bahasa yang high class!
Nah, balik ke soal Jokowi?
Jokowi tidak tinggal di Australia. Ia lahir, besar dan mengabdi di Indonesia jadi pertanyaan balik sekarang kenapa ia harus mahir menggunakan bahasa yang bukan bahasa resmi dan pergaulannya setiap hari?
Ia tak menggunakan bahasa inggris ketika menemui warga di ladang dan persawahan. Ia tak menggunakan dollar ketika menawar harga untuk membeli kebutuhan di pasar tradisional jadi Bahasa Inggris benar-benar tak penting baginya.
Mungkin ada yang khawatir, bagaimana dengan hubungan diplomasi internasional, bukankah seorang kepala negara harus bisa berbahasa Inggris?
Ya, itu benar! Tapi Jokowi toh bisa juga berbahasa Inggris. Ini buktinya.
Simak deh, dalam acara wawancara dengan ABC TV itu.
Meski bahasa Inggrisnya tak bagus tapi pihak televisi memutuskan untuk tidak mencantumkan sub-title bahasa inggris yang berarti apa yang diucapkan Jokowi itu masih bisa dimengerti oleh audience Australia. Aku sering nonton beberapa tokoh yang diinterview menggunakan Bahasa Inggris pada proses pengeditannya tetap dibubuhi sub-title Bahasa Inggris karena pelafalan/pronounciation-nya tak bisa dimengerti secara umum oleh audience.
Kalaupun nanti memang bahasa Inggris menjadi kendala diplomasi beneran, ya tinggal pakai translator alias penerjemah.
Contohlah Pak Harto dulu.
Ia pemimpin yang disegani termasuk oleh diplomat-diplomat asing. Aku yakin sebenarnya ia bisa berbahasa Inggris mengingat karir sebagai presiden yang lebih dari 32 tahun pasti akhirnya terbiasa juga berbahasa Inggris, tapi ia selalu menyertakan translator di tengah-tengah tempat duduknya dan para tamu diplomat asing, kupikir itu selain untuk memperjelas soal bahasa antar keduanya juga itu adalah simbol bahwa kita orang Indonesia, bahasanya ya Bahasa Indonesia!
Jadi, Pak Jokowi?
Jangan gusar apalagi ragu dengan kemampuan Bahasa Inggrismu. Lebih baik Bapak begitu terpilih nanti langsung konsentrasi membangun negara dan bangsa untuk lebih maju, sejahtera dan ini yang paling penting disegani oleh bangsa lain. Karena hanya dengan disegani kita bisa dihargai termasuk penghargaan terhadap bahasa kita sendiri.
Aku membayangkan, akan banyak kepala negara dan pemerintahan dunia yang akhirnya terpaksa harus belajar Bahasa Indonesia semata karena Indonesia dipimpin oleh orang yang kuat dan kokoh dan menempatkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dan bukannya Bahasa Inggris!
Dan orang itu adalah Jokowi!
Oh ya, jangan lupa untuk datang ke Sydney Opera House pada hari minggu besok, 29 Juni 2014 pukul 13:00 waktu setempat. Di sana kita akan berkumpul bersama lebih dari 100 Indonesians untuk mendukung Jokowi dalam Pilpres 9 Juli mendatang.
Simak informasi detailnya di poster berikut ini dan acara ini telah dirilis di mainstream media tanah air, MetroTV. Ini linknya.


Tinggalkan Balasan