Bahagia itu nggak harus jadi the next habibie, Dwi!

9 Okt 2017 | Cetusan

Dwi, sebelum berbohong dulu sebaiknya sampeyan menguliti lagu Sting yang fenomenal berjudul English Man in New York itu sampai ke akar-akarnya!

Aku sih bukan big fan dari Sting karena sejak kenal Stingky, akhir 90an silam aku tak lagi menaruh perhatian pada ?english man? yang satu itu.

Tapi coba simak lirik ini:

I don’t take coffee, I take tea, my dear
I like my toast done on one side
And you can hear it in my accent when I talk
I’m an Englishman in New York

Lagu itu menceritakan seorang english man, sebutan untuk mereka yang tinggal/berasal dari kawasan England yang berkunjung ke New York (Amerika Serikat) dan mendapati betapa kebiasaan-kebiasaan orang di sana berbeda dengan kebiasaannya.

Mulai dari cara bicara yang beraksen beda, pilihan memilih minuman teh atau kopi bahkan bagaimana cara mentoast/ membakar roti di pagi hari pun tak sama. Tapi yang sama adalah kebahagiaan, sama-sama bahagia apapun pilihannya.

Hakikat kebahagiaan memang seperti itu seharusnya, amat personal dan tak harus sama karena kebahagiaan itu tak memiliki pakaian seragam. Semua berhak berbeda meski kalau akhirannya sama ya barangkali kebetulan saja.

Tapi mari berhenti menyalahkan Dwi karena ia tak pernah berhutang apapun pada kita kecuali perhatian yang tersihir oleh kebohongannya. Jangan-jangan kita pun juga sama seperti dia meski mungkin kadar ?kegilaannya? saja yang berbeda.

Dulu aku juga punya platform kebahagiaan yang awam nan umum. Ditanamkan oleh kedua orang tuaku. Menurut mereka, kesuksesan dan kebahagiaan itu di antaranya adalah:

Aku harus ?ranking? di kelas!
Aku harus juara nyanyi!
Aku harus bisa renang!
Aku harus menang badminton!
Aku harus belajar tenis!
Aku harus masuk sekolah favorit!

Ketika aku bisa mencapai semuanya, hidup itu menyenangkan karena orang tuaku bahagia. Tapi ketika aku lengah dalam pencapaian, hal itu tak membahagiakan mereka dan siapa sih yang tetap sanggup berbahagia ketika orang tua bersedih?

Keputusanku untuk hidup merantau ke Jogja pada pertengahan tahun 1993 menyelamatkanku dari tekanan-tekanan itu masuk ke periode waktu yang penuh kebohongan.

Masa bodo mau nyanyi atau main gitar! Masa bodo mau belajar atau main-main! Masa bodo mau olahraga atau pacaran? toh mereka tak bisa mengawasiku lagi. Soal ranking, meski nilaiku jeblok aku toh bisa membohongi mereka! Caranya? Ah, tak perlu kuberitahu karena tulisan ini bukan tentang resep bagaimana membohongi.

Dwi, ‘The Next Habibie’ bersama Pak BJ Habibie

Tapi toh kebohongan itu menemui akhir ketika hidup tak menyediakan banyak pilihan kepadaku. Ekonomi Papa ambruk tahun 1997 berimbas kepadaku.

Banyak kawan meninggalkanku atau aku yang meninggalkan mereka karena tak mampu mengikuti gaya hidupnya yang mahal. Pacar pun juga demikian, tak betah bersamaku, mahasiswa yang cenderung tak pintar lagi tak punya uang, sama sekali tak membanggakan!

Tapi aku bertekad membangun ulang apa kebahagiaan itu. Kebahagiaan versi awam yang kutulis di atas telah runtuh dan aku mengais kebahagiaan versiku sendiri.

Kebahagiaan yang justru kutemukan ketika menemukan teman baru yang mau menemani makan di warung angkringan. (Waktu itu angkringan belum ada yang di-pacak-i segaul sekarang lengkap dengan wifi dan makanan-makanan yang nggak angkringan banget! Angkringan masih jadi penanda kelas bawah).

Kebahagiaan itu kubangun dari bagaimana mencari pinjaman komputer kawan supaya bisa mengerjakan tugas kuliah atau mengerjakan skripsi-skripsi mahasiswa bodoh nan pemalas yang maunya dibuatkan skripsinya tapi justru dari mereka itu aku dulu mendapatkan uang tambahan.

Kebahagiaan itu kubangun dari ketiadaan pacar karena nggak punya modal pacaran tapi setiap ke kamar mandi aku merasakan kelegaan lebih tinggi ketimbang yang bisa diberikan pacar?

Kebahagiaan-kebahagiaan yang punya platformnya sendiri, milikku sendiri.

Jadi, berhentilah menekan diri atau anak-anak atau orang-orang yang bisa kita pengaruhi tentang bagaimana kebahagiaan itu seharusnya karena meski bahagia itu harus tapi tak ada yang mengharuskan standardnya.

Bangunlah ulang jika perlu kebahagiaan itu kalau dengan mengikuti kebahagiaan yang sudah awam kamu tak kunjung berbahagia.

Berhentilah bermimpi untuk jadi The Next Habibie atau The Next Siapapun jadilah The Next Yourself yang lebih berbahagia!

Dan masih kata Sting lagi di bagian coda lagunya, ?Be yourself no matter what they say!?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.