Bagikan berita dengan hikmat dan bijaksana

9 Jan 2018 | Cetusan

Di setiap stasiun kereta di Sydney dan sekitarnya, garis kuning seperti gambar di atas ini selalu ada. Garis itu memanjang sepanjang platform, tempat para penumpang menunggu kereta datang, berbatasan langsung dengan rel kereta yang berada di level permukaan lebih rendah sekitar dua meter bedanya.

Orang-orang dilarang untuk melewati garis itu kecuali saat kereta berhenti, pintu terbuka dan kita hendak masuk ke dalam gerbong. Hal ini supaya kita aman dari resiko kecelakaan baik itu terjatuh ke rel ataupun tertabrak kereta.

Sebagian besar orang menaati aturan itu. Tapi ada kalanya, terutama di jam-jam sibuk, segelintir oknum seolah tak peduli, berjalan cuek melewati garis bahkan saat kereta sedang berjalan masuk ke platform.? Hal ini tentu amat membahayakan diri mereka sendiri.

Untuk itu, pihak stasiun menurunkan beberapa petugas dengan sempritan di tangan. Jadi, ketika ada yang melanggar, sempritan itu dibunyikan untuk menarik perhatian si pelaku dan diharapkan ia kembali ke ?jalur yang benar?. Adapun suara sempritan itu begitu menyalak, memekakkan telinga. Barangkali memang dirancang supaya tetap bisa didengarkan dan dipatuhi di tengah environment yang bising seperti stasiun.

Bicara soal bising, tahun ini dan tahun depan, di Tanah Air, adalah tahun-tahun yang ?bising? juga.

Orang-orang menyebutnya sebagai tahun-tahun politik karena negara akan mengadakan gelaran pilkada serentak pada tanggal 27 Juni 2018 untuk 171 daerah di Indonesia. Sementara tahun depan, 2019 adalah tahun Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden. Bisa dibayangkan bisingnya seperti apa?

Diam! Jangan bising!

Diam! Jangan bising!

Kebisingan itu disusun oleh kita semua dan mereka.

Partai politik merangkul calon pemimpin menimbulkan bising. Calon pemimpin membuat manuver kampanye, menorehkan janji yang membisingkan. Kita ikutan bising. Bising membicarakan, bising menertawakan, bising membela, bising mencemooh hingga bising karena membicarakan kebisingan itu sendiri.

Salah satu andil kita dalam menciptakan kebisingan yang tak bertepi itu adalah dengan menyebarkan berita. Sebenarnya tak dilarang toh ada tombol ?Share? di sana. Tapi marilah menggunakan ?hikmat kebijaksanaan? dalam membagikan itu semua.

Tak semua niat membagikan berita seburuk apapun itu buruk. Sama halnya tak semua berita yang terbaik sekalipun akan dianggap tetap baik oleh orang lain.

Membagikan berita boleh tapi tetap perlu menahan diri untuk tak melewati batas-batas aturan, tak melanggar garis kuning seperti yang ada di gambar. Sekali-dua melanggar? O well, kita toh manusia tapi bersicepatlah kembali ke dalam garis.

Kalaupun akhirnya kita mendengar salak sempritan yang memekakkan telinga, jangan gusar. Siapa tahu itu pertanda ego dan emosi kita sudah kelewatan. Jangan ngambek lalu left group hanya gara-gara diingatkan supaya tak terlalu banyak menshare berita sampah di grup WA. Jangan pula berpikir curiga ketika ada kawan yang meng-unfriend atau ngeblock akun social media. Dan? jangan gentar ketika ada orang yang melaporkan perilaku kita dalam men-share berita itu ke pihak yang berwajib. Sempritan itu pekak tapi mengingatkan. Begitu juga mereka, menyengat tapi niatnya baik, mengingatkan?

Daripada nggak ada yang mengingatkan, sementara kamu terus-menerus membagikan berita yang tak seharusnya dibagikan, keluar garis lalu jatuh ke rel kereta lalu ditabrak kan?

Yang terakhir memang agak lebay, tapi mau gimana lagi? maaf?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.