Bagaimana mungkin?

5 Des 2019 | Kabar Baik

Seberapa sering dan kapan kamu menggunakan frase, ?Bagaimana mungkin?? dalam kalimat percakapanmu?

Hari ini, seperti ditulis Matius dalam Kabar BaikNya, para murid pun mengucap hal yang sama. Ketika itu Yesus hendak memberi makan bagi orang-orang yang mengikutiNya, para murid menjawab, ?Bagaimana mungkin di tempat sunyi ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?? (Mat 15:33) Waktu itu ada sekitar limu ribu orang sementara mereka hanya punya beberapa lembar roti dan potongan ikan kecil-kecil.

Bagaimana mungkin?

Secara nalar, apa yang Yesus kehendaki untuk para murid lakukan memang sangat tidak mungkin. Itulah yang lantas ditanggapi dengan pertanyaan, ?Bagaimana mungkin??

Bagaimana mungkin kamu bermimpi untuk mempunyai rumah atas nama sendiri tapi gajimu tak mencukupi bahkan untuk mengongkosi kebutuhan sehari-hari. Lalu bayar uang mukanya gimana? Bayar tagihan bulanannya gimana?

Bagaimana mungkin kamu berharap bahwa suatu saat nanti bisa pindah domisili ke luar negeri sedangkan pengetahuanmu terbatas dan kemampuan bahasa asingmu belepotan?

Bagaimana mungkin? beberapa lembar roti dan potong ikan kecil-kecil cukup untuk mengenyangkan lima ribu orang?

Akhir dari ketidakmungkinan

Tapi di dalam nama Tuhan, ketidakmungkinan itu berakhir.

Ketidakmungkinan para murid untuk mengenyangkan lima ribu orang dengan hanya beberapa lembar roti dan ikan kecil-kecil kandas setelah Yesus memungkinkannya.

Yesus mengambil lembaran-lembaran roti dan ikan-ikan kecil itu lalu Ia mengucap syukur kepada Bapa di Surga dan? semua jadi berkelimpahan dan makanlah orang-orang itu sampai kenyang.

Tapi yang jadi pertanyaan sekarang adalah, karena Yesus menjadikan segalanya mungkin ketika Ia menghendaki, adakah kita boleh menyerah untuk tidak lagi menggunakan nalar? Toh semuanya mungkin bagi Tuhan?

Tentu tidak demikian adanya.  Logika adalah sarana yang diberikan Tuhan untuk kita menjalani hidup dan membuat keputusan-keputusan yang berguna dalam hidup sehari-hari. Yang harus dilakukan justru sebaliknya, bagaimana melibatkan Tuhan sejak hal-hal kecil yang menurut kita sangat masuk akal hingga yang tidak masuk akal sekalipun.

Janganlah kita berpikir bahwa untuk segala hal yang masuk akal, Tuhan tidak kita perlukan sementara untuk hal-hal yang tak masuk akal, barulah kita memerlukannya. 

Misalnya tentang hal, ?Bagaimana mungkin kamu bisa mendapat pekerjaan baru??

Jawabmu barangkali, ?Mungkin saja karena aku berprestasi dan banyak dilirik perusahaan bahkan sebelum aku melamar kepada mereka!? Tapi sebagai orang yang percaya bahwa kuasaNya terbentang hingga hal-hal yang menurut kita ?masuk akal?, sejatinya ada jawaban yang lebih baik. ?Mungkin saja aku mendapat pekerjaan baru ini karena Tuhan sudah merencanakan dan menghendaki hal ini terjadi. Ia menyertaiku dalam karya-karyaku sebelumnya??

Dengan meletakkan segala hal di dalam Dia, pada akhirnya kita semakin terlatih untuk menyadari bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagiNya karena bahkan segala hal yang kecil yang masuk akal pun tak sekalipun lepas dari kuasaNya.

Ngomong-ngomong, bagaimana mungkin kamu masih membaca tulisan ini? Sejauh ini?

Sydney, 4 Desember 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.