Bagaimana kalau surga ternyata sudah penuh?

7 Nov 2019 | Kabar Baik

Salah satu hal menarik dari Kabar Baik hari ini adalah Yesus mengibaratkan Surga sebagai rumah seorang Tuan Besar. Suatu waktu ia mengundang pesta. Dan salah satu penggalannya seperti dilukis Lukas adalah sebagai berikut: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh. (lih. Lukas 14:23)

Yang kubayangkan dari frase ?rumahku harus penuh? ada dua. Pertama, rumah itu harus penuh! Kedua, rumah itu suatu saat akan mencapai satu kondisi sudah penuh.

Harus penuh

Di satu sisi, membayangkan surga sebagai satu tempat yang harus penuh membuatku makin termotivasi untuk hidup baik seturut kehendakNya. Artinya, bahkan saat kita kadang jatuh dalam godaan, selama punya niat dan terus berusaha memperbaiki diri, kita akan diundang masuk. Kenapa? Karena rumah harus penuh!

Bahkan saat kita benar-benar terjatuh, Ia akan meminta utusan untuk memaksa kita. Kenapa? Sekali lagi karena rumah harus penuh!

Sudah penuh

Tapi persoalannya sekarang adalah, bagaimana kalau rumah ternyata sudah penuh?

Menurut tradisi, setelah wafat, Yesus turun ke tempat penantian untuk mengangkat mereka yang sudah lebih dulu meninggal tapi masih menunggu di tempat itu. Jumlahnya ada berapa? Kita tidak tahu. Mungkin ribuan mungkin ratusan ribu hingga jutaan!

Belum lagi para santo dan santa yang diakui Gereja dan sekarang sudah hidup di Surga. Jumlahnya konon ada lebih dari sepuluh ribu. (baca di sini)

Bagaimana pula dengan orang-orang lain yang belum/tidak diakui sebagai santo dan santa tapi atas kemurahan Tuhan diberi tempat di surga? Berapa jumlahnya? Apalagi itu! Kita lebih tidak tahu!

Maka kembali ke pertanyaan awal, sudah terlampau penuhkah rumahNya?

Jangan-jangan sudah??
Kalau sudah, apakah kita tetap harus melanjutkan hidup baik kalau nantinya tetap ditolak karena, ?Maaf, sudah penuh!? Kita tidak pernah tahu?

Menjadi unta yang singset

Tapi aku punya ide!
Permenungan ide ini berasal dari ucapan Yesus tentang unta dan lubang jarum. Seperti ditulis Matius sebagai berikut:

Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. (lih. Mat 19:24)

Lubang jarum yang dimaksud dalam perikop tersebut bukanlah lubang jarum yang kita kenal sekarang. Menurut Mgr Silvester San, Pr dalam artikel di sini, lubang jarum yang dimaksud di jaman Yesus adalah sebuah pintu kecil setinggi 1 meter di dinding benteng pertahanan kota.

Seekor unta sebenarnya tetap bisa masuk ke sana asal ia menanggalkan semua barang bawaan yang biasanya ada di atas punggungnya lalu merunduk untuk melewati lubang tersebut.

Maka marilah menjadi unta yang merunduk dan mau menurunkan barang bawaan. Tak hanya itu. Kita juga harus berusaha jadi unta yang singset. Sehingga kita tak hanya jadi lebih mudah masuk gerbangNya tapi juga meski barangkali rumahNya sudah penuh, kita masih bisa diselipkan ke dalamNya.

Yuk menjaga kesingsetan hati kita! Tak hanya rajin berolah raga tapi juga rajin olah jiwa supaya segala lemak dosa dan kesalahan terbakar digantikan dengan otot-otot kebaikan, ketaatan dan kerendahhatian dalam mengikutiNya hingga paripurna.

Sydney, 6 November 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.