Bagaimana Caramu Menyantap Makanan ?

17 Jan 2008 | Cetusan

Mari bicara soal makan!
Bukan! Bukan soal makanan apa yang enak yang sekarang ini seperti sedang menggejala pada manusia-manusia blogger (dimana mereka beramai-ramai mem-posting hasil wisata kuliner di tempat-tempat asyik) tapi lebih bicara soal bagaimana cara kita makan.

Jangan jawab “Pakai mulut!” karena jelas itu bukan satu hal yang pantas untuk dipanjanglebarkan, bukan?
Hukum alam adalah memang makan dimasukkan ke dalam mulut, tapi hukum manusia adalah bagaimana tata cara memasukkan makanan itu hingga ke mulut termasuk pada bagaimana kita memposisikan diri sebagai manusia sebelum ataupun setelah makanan itu benar-benar mangsuk ke dalam mulut. Nah, sekarang tinggal bagaimana kita membuat hukum makan kita sendiri?

Aku bersyukur, meski tidak lahir dalam keluarga yang berada, tapi kedua orang tuaku mengajarkan bagaimana cara makan yang baik.
Aku ingat betul dulu mereka selalu berujar “Makan kok kayak kuda!” ketika aku makan dan menimbulkan suara cap, cap, cap ketika sedang melumat makanan.
Aku ingat betul dulu mereka juga tak segan berujar “Makan nasi kok kayak makan besi” ketika aku makan dan sendok yang kupergunakan menyentuh permukaan gigiku.
Belum lagi kalau aku ketahuan masih menyisakan makanan meski sedikit di atas piring, menjatuhkan butiran nasi maupun lauk pauk di sekitar piring, mengorek gigi di depan muka lawan makan kita, dan masih banyak lagi… yang pasti mereka, orang tuaku itu tadi, akan sangat ketat memberiku peringatan untuk tidak berbuat seperti itu.

Hasilnya, didikan ketat mereka sedari ku kecil hingga saat ini membuat banyak orang menganggap aku memang manusia yang cukup beradab untuk diajak makan baik itu dalam skala formal maupun santai.
Tidak menjijikkan, dan setidaknya orang lain yang memandang aku dalam hal menyantap makan akan tahu bahwa aku cukup lapar, menyukai makanan itu dan tanpa meninggalkan kesan aku sangat nggragas alias tamak untuk melahap makanan itu cepat-cepat seakan tak mau ada orang lain yang minta barang sedikitpun.

Melalui postingan ini, saya ingin memberikan beberapa opini pribadi tentang cara makan seseorang yang menurut saya sangat tidak “berkesesuaian” dengan hati.

  • Menimbulkan suara “cap, cap, cap” ketika sedang mengunyah makanan.
    Ya, nggak perlu diulas lagi! Pokoknya bagiku ini sangat kuhindari ketika makan. Orang tuaku bilang, “Jangan kayak kuda!”

  • Membenturkan permukaan sendok ke gigi ketika sedang memasukkan makanan ke dalam mulut.
    Krak! Krak! Come on, kita makan nasi, bukan dan tidak akan pernah menjadi pemakan logam.

  • Tertawa terbahak-bahak atau berbicara tanpa henti bahkan ketika sedang mengunyah makanan di dalam mulut
    Yurkkk! Pastinya kalian tahu bagaimana bentuk bubur makanan yang terkunyah bersatu dengan air liur. Bayangkan kalau ada sebagian yang muncrat ke tanganmu dan ciumlah seperti apa aroma yang ditimbulkan perpaduan makanan plus liur itu. Mau?

  • Bersendawa setelah makan.
    Man, kita nggak perlu menunjukkan pada empunya acara bahwa makanan yang dihidangkan itu enak dengan cara mengeluarkan suara menjijikkan dari sendawa itu.
    Cukup berujar “Wah, makanannya enak sekali” karena kita manusia bukan ?

  • Memuntahkan makanan dan meletakkannya ke pinggiran piring.
    Refer dari nomer 3 tadi, perpaduan bubur kunyahan makanan dengan air liur yang seharusnya dikonsumsi oleh lambung malah dikembalikan dan diletakkan di atas piring. Yuk mari!

  • Memuntahkan atau memilah tulang/biji dari makanan dan meletakkan di meja.
    Wah ini dia. Apa nggak mikir kalau area yang menjadi hak kita untuk makan adalah piring bukan keseluruhan meja. Gimana kalau mejanya terbuat dari kayu yang mahal atau logam yang anti terhadap minyak dan sebagainya ?

  • Meludahkan butiran nasi yang mungkin nyangkut di gigi.
    Erggghhhh! Nggak kebayang deh. Sela-sela gigi biasanya menimbulkan bau yang lebih aduhai ketimbang air liur itu sendiri. Jadi, haduhh bayangin deh!

  • Membersihkan gigi dengan menggunakan apapun (terutama jari) di meja makan.
    Lha Don, kan sudah ada toothpick, emang gak bole dipakai? Kalau nggak boleh kenapa disediain?
    Hehehe, iya, toothpick disediain ya untuk mengeluarkan kotoran gigi. Tapi apa salahnya mengeluarkannya di toilet sekalian kumur dan sendawa misalnya? Yang penting tidak di meja makan.
    Terlebih yang pakai tangan, aduuhhhh bayangkan setelah mengorek kanan kiri rongga mulut dengan tangan lantas kita harus berjabat tangan selepas makan.

  • Menaikkan satu kaki ke atas kursi.
    Abis narik Becak, Bung?

  • Meminum air setelah sebelumnya mengumurkannya ke seantero rongga mulut.
    Suaranya.. haduh suaranya yang menggambarkan bagaimana kalian menggelontor setiap relung di rongga mulut. Bersih sih tapi please deh, suaranya itu lho…

  • Membiarkan “tamu” di sekitar bibir untuk sekian lama.
    Tiada manusia yang sempurna, Don! Betul! Justru karena manusia tiada yang sempurna maka ada baiknya setiap 3 – 4 kali menelan makan kita mengusapkan tissue ke mulut untuk memastikan semua tamu telah diperkenankan mangsuk!

  • Tidak mengelap mulut setelah makan.
    Huahauhuaa.. jadi kayak bibirnya Shaquille O Neal lho! Berminyak! Mbok ya dilap kan gak ada salahnya, justru bikin bibir makin seksi. Lha tapi pengen kliatan basah? Heheheh ya pake lipgloss atau hujan-hujanan aja deh pasti basah!

Jadi, senyaman dan semewah apapun tempat makannya, seenak dan semantap apapun rasa masakannya tapi kalau ada hal-hal seperti itu yang masih tersisakan dari diri seseorang ketika ia menyantap makan, barangkali aku akan berujar seperti yang sering diujarkan salah satu presenter favorit saya, Ruben, “Jangan gila dong!”

Sebarluaskan!

5 Komentar

  1. Huaaaaa…. ribetnya mau makan aja! :))

    Balas
  2. Hehehe inginnya juga nggak ribet, tapi mau gimana lagi, bawaan orok!?!

    Balas
  3. owhh.. skrg ngeblognya udah ndak di prenster lagi to kang?

    Balas
  4. jawiiirrr…..lu udh keabisan ide tulisan apaa yaa…. pagi2 waktunya gw sarapan di kantor lu suruh baca beginian….heran !! semedi sana di gunung sindur biar dapet wangsin baru…!

    Balas
  5. @mbah: njih pakdhe… pindah mriki. pangestunipun nggih…

    windy: hoi gelambir!!! :)) hahaha udah tua yah ngetik salah mulu?

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.