Semalam aku mendadak jadi sangat kebelet buang air besar ketika mendengar melalui telepon bahwa Tunggonono, mantan penjaga malam yang selalu me-nunggoni (menunggui) ketika ku bekerja di Indonesia dulu, bilang bahwa ia telah berhasil memaafkan orang yang pernah menghajarnya di Pasar Ndemangan dan melupakan kesalahan orang tersebut pada saat yang bersamaan.
Well, sebagai teman sekaligus mantan bos, tentu aku hanya bisa manggut-manggut menghargai apa yang telah keluar sebagai kata-kata dari mulutnya. Tapi justru karena kemanggut-manggutanku itulah, meski mulut dan bibir bisa tetap pasif tersenyum tapi hasrat untuk boker tak tertahankan. Seperti ada yang bergejolak di perut dan minta dikeluarkan.
Apa mau dikata :)
Memaafkan, bagiku adalah proses yang tak jelas kapan akan berkesudahan.
Dan hakikat dari sebuah proses tentu memerlukan usaha dan intensi, kemauan serta kontinuitas dari dalam diri.
Ia harus memiliki iterasi, perulangan.
Separuh tahun yang lalu, seorang yang tadinya bahkan kuanggap adik sendiri, terpaksa harus kuakhiri hubungan persahabatanku dengannya karena satu kesalahan yang menurutku amatlah fatal.
Dalam sebuah diskusi non-formal di kedai angkringan di Jogja waktu itu, di depan teman-temannya yang baru juga ia perkenalkan padaku, secara sengaja dan sadar ia merobek-robek buku karyaku. Itu adalah buah kemarahan yang dihasilkan emosi labilnya karena tak sepakat dengan pendapatku tentang bagaimana mendapatkan bantuan bagi kaum papa dari penjualan ulang bukuku.
Tidak! Aku tidak memukulnya, menyentuhnya pun aku tidak.
Kali itu aku ingin membuat satu pembedaan diri antara binatang dan manusia.
Aku hanya diam lalu pergi dan berkomitmen dalam hati bahwa ia yang tak punya kuasa sedikitpun merobek “anak rohani” ku itu, adalah orang yang sejak saat itu sangat tidak pantas lagi bahkan untuk menyebut namaku sekalipun!
Seburuk apapun buku yang telah kubuat, ia tidak lahir dan keluar begitu saja seperti tinja yang keluar dari lubang dubur.
Ia adalah cerminan dari apa yang kupikirkan di otak, kutulis di media penulisan lalu diakui oleh sebuah penerbit sebagai karya yang layak dijual dan diterbitkanlah olehnya. Ada sebegitu panjang alur proses yang harus dilalui untuk menjadi buku dan dalam sekejap ia merobek dan menghancurkannya?
Sejak malam itu, kuanggap ia tak pernah ada lagi. Tidak sahabat, tidak pula sebagai teman.
Bagiku ia hanya menyisakan sebuah nama dengan kisah-kisah persahabatan nan heroik yang indah yang tak kan mampu kuingkari, tapi untuk bermimpi mengukir satu kisah indah lainnya bersamanya di depan secuil pun tak kudekatkan pada alam tidurku.
Tiga hari terlewati, dua bulan tergenapi hingga akhirnya ia meminta maaf padaku.
Melalui email ia mengaku telah berbuat kekilafan meski aku tak mengakui bahwa ketika ia menyobek buku itu ia sedang kilaf karena kalau ia memandangnya demikian, bagaimana kalau kubilang sekalian bahwa ia hidup dalam kekilafan yang panjang dan tak berujung ?
Tapi aku toh memaafkannya.
Kuterima maafnya meski tak serta merta kuanggap ia layak menjadi sahabatku kembali.
Bagiku menerima maaf adalah keharusan, refleks karena aku manusia tapi menjadikannya sahabat adalah pilihan dan aku memilih tidak.
Untuk yang pertama kali ia kumaafkan dan sejak saat itu kumulai sebuah journey panjang pemaafan terhadapnya yang entah hingga kapan kutahui ujungnya. Mungkin hingga pada suatu waktu karena banyaknya kejadian lain yang menguras daya ingatku, aku akan lupa akan kejadian itu sama sekali. Tapi lupa itu bukan berarti akhir yang baik dari pemaafan, bukan?
Melupakan kesalahan orang menurutku justru menggunakan kelemahan yang satu untuk menutup kelemahan kita yang lain sementara bukankah kelemahan itu seharusnya ditutup dengan lebih banyak kekuatan?
Dan akhir tulisan ini adalah akhir yang tak berujung pula.
Aku bukanlah manusia yang sangat pandai menyimpulkan apalagi mempersingkat sebuah pengertian.
Dan kali ini, kubiarkan kata “maaf” sebagai hal yang harus kurenungi entah hingga kapan tentang bagaimana baiknya mengelola prosesnya dan mengakhiri proses pemaafan itu dengan sesuatu yang baik nan sempurna.
Semoga aku dan barangkali kalian yang sepakat denganku dapat menemukan hilir permenungan itu.
Tinggalkan Balasan